
Mereka terdiam, sejenak saling memandang satu sama lain, membuat keadaan menjadi tegang. Fikar menghela napas panjang, karena ia tidak bisa mengatakan apa pun lagi. Jika memang Zifa tidak mau melakukannya, ia tidak bisa memaksanya terlalu jauh dari saat ini.
Zifa terdiam menunduk, karena mendengar Fikar yang mengatakan hal itu terhadapnya. Ia masih merasa tidak percaya, karena keadaan mereka yang saat ini menjadi runyam.
“Sebenarnya permasalahan ini mudah, kalau kamu membuat mudah dan menerimanya. Sebaliknya, kalau kamu kayak begini, gimana mau menyelesaikan masalah? Yang ada kita malah diam di tempat aja!” ujar Fikar membuat Zifa memandangnya dengan dalam.
Mereka kembali saling memandang, dengan sama sekali tak mengatakan apa pun. Zifa hanya bisa melihat pandangan mata Fikar terhadapnya, yang memang terlihat ketulusan pada mata Fikar. Akan tetapi, ia belum siap jika harus menikah dengan Fikar, karena ia yang masih memikirkan harga dirinya dan derajatnya yang berbanding terbalik dengan derajat Fikar saat ini.
Salah satu ketakutan terbesar Zifa adalah ketika ia sudah mulai mencintai Fikar seutuhnya, tetapi Fikar malah menjauh pergi bersama dengan wanita lain. Sehingga hal itu membuatnya merasa hancur. Ia tidak bisa membayangkan itu semua, jika memang benar terjadi.
Suara petir terdengar cukup keras, membuat mereka yang sedang memandang satu sama lain terkejut, karena mendengar suara petir tersebut. Mereka memandang ke arah langit yang ternyata sudah mendung.
Tak berapa lama kemudian, hujan pun turun membasahi kedua insan yang tengah dilema itu. Fikar kaget dan langsung mengajak Zifa untuk masuk ke dalam mobilnya.
Fikar tidak peduli jika Zifa tidak menginginkannya. Ia hanya tidak mau jika hujan ini membuat mereka terkena flu, atau terkena demam. Namun Zifa sama sekali tidak memberontak, membuat Fikar bisa dengan mudahnya mengajaknya masuk ke dalam mobilnya.
Setelah mereka berhasil masuk ke dalam mobil, Fikar pun segera membuka jas hitam yang ia kenakan. Melihat Fikar yang tengah membuka jas tersebut, Zifa merasa ketakutan dan membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya.
Melihat reaksi Zifa yang seperti itu, Fikar pun merasa kaget karena ia melihat Zifa yang sepertinya masih trauma dengan hal yang ia lakukan padanya. Namun karena untuk kesehatan Zifa agar sifat tidak kedinginan, Fikar pun segera membukanya dan menyelimuti Zifa dengan jas hitam itu.
Persis seperti dugaan Fikar, Zifa memanglah masih terlihat trauma. Saat ia memakaikan jas itu saja kepadanya, Zifa masih merasa ketakutan saja.
__ADS_1
Tangan Fikar membelai lembut rambut Zifa, membuat Zifa semakin ketakutan saja dengan perlakuan Fikar padanya. Fikar agak terkejut dan segera mengambil sikap untuk menenangkan Zifa.
“Maaf sudah bikin kamu takut, tapi aku nggak akan berbuat apa pun kok sama kamu. Aku cuma nggak mau kalau kamu kedinginan aja,” ujar Fikar, membuat Zifa perlahan memandang ke arah wajahnya.
“Semalam pun kamu bilangnya seperti itu, Fikar. Kamu gak akan melakukan apa pun, tapi malah kamu melakukan semuanya sama aku,” timpal Zifa, membuat Fikar memandangnya dengan sendu.
“Itu ... pada situasi yang berbeda, Zifa. Aku tidak akan melakukan hal itu di sini,” ujar Fikar, membuat Zifa semakin memandangnya dengan sinis.
“Tidak di sini? Mungkin nanti setelah kita staycation lagi, kamu pasti akan kembali melakukannya,” ujar Zifa, membuat Fikar merasa sangat bingung mendengar tuduhan Zifa itu.
“Aku akan melalukannya nanti, setelah kamu menjadi istriku,” ujar Fikar, membuat Zifa memandangnya sinis.
Namun, karena perkataan Zifa sudah membuat Fikar canggung, mereka pun akhirnya tidak saling memandang kembali.
Mereka terdiam lama sekali, dengan mereka yang sama-sama memandang ke arah jalanan. Hujan yang turun membuat mereka semakin bingung harus berbuat apa, karena mereka yang tidak mungkin juga memainkan handphone, di saat keadaan seperti ini. Jadi mereka hanya diam-diam saja tak melakukan apa pun.
Beberapa saat mereka terdiam, mereka masih tetap tidak mengeluarkan suara sama sekali. Mereka hanya melihat ke arah rintik hujan yang turun mengguyur deras aspal jalanan.
Setengah jam berlalu, mereka pun masih sama saja, tidak mengatakan apa pun. Hujan sudah mulai reda, membuat Zifa segera mengambil handphone-nya untuk memesan taksi online.
Menyadari aktivitas yang Zifa lakukan, Fikar pun merasa tersinggung dengan apa yang Zifa lakukan. Karena merasa tersinggung, Fikar pun mengambil handphone Zifa, sehingga membuat Zifa memandangnya dengan sinis.
__ADS_1
“Itu handphone aku, ngapain kamu ambil? Balikin cepetan!” ujar sinis Zifa, membuat Fikar memandangnya dengan tajam.
“Kamu mau pesan taksi online?” tanya Fikar yang membutuhkan kepastian dari Zifa.
“Iya, memangnya kenapa? Aku mau pulang!” jawab Zifa, spontan membuat Fikar benar-benar tidak bisa menerimanya.
“Biar aku yang ngantar kamu ke kosan! Kamu nggak usah naik taksi online!” ujar Fikar dengan lantang, tetapi Zifa sama sekali tidak menghiraukannya dan malah berusaha untuk mengambil handphone-nya kembali, yang masih ditahan oleh Fikar.
“Balikin handphone-nya!” pinta Zifa, tetapi Fikar sama sekali tidak memberikannya dan malah menyembunyikannya di saku celananya.
Zifa terdiam, ia hanya bisa melihat ke arah handphone-nya yang ada di dalam saku celana Fikar. Tiba-tiba saja ia merasa ragu untuk mengambil handphone tersebut dari satu celana Fikar.
Fikar memandangnya datar, “Nih, katanya mau ngambil? Ambil sekarang!” suruhnya, membuat Zifa memandangnya sinis.
Tak ada yang bisa Zifa lakukan, selain menatap sinis ke arah Fikar. Karena tak ingin kehilangan kesempatan dan momen bagus seperti ini, Fikar pun berusaha untuk mengambil alih suasana di hadapan Zifa.
“Kita harus selesaikan masalah ini sekarang! Aku nggak mau kita nunda-nunda lagi, kita nggak ketemu lagi, aku harus butuh jawaban kamu sekarang juga!” ujar Fikar dengan tegas.
Ya, Fikar memang seperti itu adanya. Jika ada masalah, ia harus menyelesaikan detik itu juga. Ia tidak ingin berlarut-larut dalam masalah, yang sedang ia hadapi. Sementara itu, Zifa adalah seseorang yang memiliki sifat terbalik daripada Fikar. Zifa tidak ingin menyelesaikannya secara terburu-buru. Ia harus membiarkan dirinya tenang, untuk menata kembali hati dan perasaannya yang sempat hancur karena permasalahan ini.
“Aku nggak bisa seperti itu, Fikar! Aku butuh ketenangan! Aku harus menenangkan dulu pikiran ini! Aku gak bisa asal memaafkan kamu kali ini. Aku harus berpikir dengan jernih, dengan pemikiranku sendiri. Aku harus menimbang permasalahan dan situasi yang terkait masalah ini. Aku tidak bisa asal memaafkan kamu. Aku tidak sepertimu, yang harus selesai dalam satu waktu aku harus memikirkannya dengan jelas!” ujar Zifa, membuat Fikar merasa semakin gemas mendengarnya.
__ADS_1