
“Dia bilang kalau gue nggak boleh deketin Kia lagi, dan gue harus jauhin dia jawab Zaki, sontak membuat mereka terkejut mendengarnya.
“Jadi mereka ngomong kayak gitu?” tanya Zifa, Zaki mengangguk mendengarnya.
“Karena mereka udah ngomong gitu, gue orangnya bandel. Apa yang dilarang pasti bakal gue lakuin. Kalau mereka ngelarang gue buat deketin Kia, pasti bakalan semakin gue ngejaga Kia. Entah gimanapun caranya. Memang sejak awal sih gue emang mau jaga Kia niatnya,” ujar Zaki, membuat Kia merasa sedih mendengarnya.
“Ternyata begitu. Apa benar itu karena disuruh sama orang lain buat agar siapa pun yang dekat sama gue gak bisa buat deketin gue, walaupun hanya teman?” tanya Kia.
Zaki mengangguk kecil mendengarnya, “ ... dan lebih parahnya lagi, orang itu adalah orang yang sama dengan orang yang nyerempet kita waktu itu!” ujar Zaki, membuat Kia mendelik kaget mendengarnya.
“Serius dia yang nyerempet kita waktu itu?” tanya Kia.
Zaki menggelengkan kepalanya. “Bukan dia orangnya, tapi dia adalah dalangnya.”
Mendengar ucapan Zaki, mereka pun hanya bisa memandang Zaki dengan bingung. Entah apa yang harus mereka lakukan, intinya mereka tidak percaya dengan apa yang terjadi pada Zaki dan juga Kia.
“Waktu saat gue sendiri, gue juga diserempet sama orang. Pokoknya ini nggak cuman sekali terjadi. Ini tuh beberapa kali dan orangnya adalah orang yang sama dengan kematian Zain juga,” ujar Zaki, sontak membuat mereka mendelik kaget mendengarnya.
“Apa maksud lo?” tanya Kia, yang tiba-tiba saja menarik kerah baju Zaki karena mendengar ucapan Zaki, yang sangat membuatnya kaget.
Karena pergerakan yang tiba-tiba, hal itu membuat Zaki merasa kesakitan. Lukanya pun kembali terbuka dan kembali mengeluarkan darah, sehingga membuat mereka merasa panik melihatnya.
__ADS_1
Fikar meraih Kia dari Zaki, agar Kia tidak melakukan hal yang buruk terhadap Zaki.
“Sudah, hentikan! Jangan sampai kayak gini! Kasihan lukanya!” ujar Fikar, yang sembari menarik tangan Kia untuk menjauhi Zaki.
Ziva yang memiliki inisiatif tinggi, segera berlari keluar ruangan untuk mencari pertolongan dokter ataupun suster. Sementara itu, Zaki sangat kesakitan karena lukanya yang ternyata masih belum sembuh. Sedikit gerakan saja membuat lukanya kembali terbuka, dan kembali mengeluarkan darah.
Hal itu membuat Zaki merasa lemas lagi saat ini.
“Maksud lo apa, Zak? Kenapa lo ngomong gitu?” tanya Kia, yang merasa sangat histeris mendengarnya.
Kia bingung kenapa Zaki harus mengatakan hal seperti itu kepadanya karena, itu adalah hal yang sangat krusial bagi Kia. Selama ini Kia mencari pelaku yang sudah membunuh Zain, sampai ia menuduh Zaki yang tidak-tidak. Ternyata Zaki sudah tahu siapa dalang di balik semua ini.
Melihat Kia yang saat ini histeris, Fikar pun kembali menahan tubuh Kia, agar tidak semakin melukai Zaki. Sementara Zaki hanya bisa menahan rasa sakitnya, dan tidak melakukan apa pun. Entah berapa lama kemudian Zifa beserta tim dokter pun datang untuk melakukan pemeriksaan.
Fikar mengangguk, “Baik, dok!”
Fikar pun mengajak ia dan Syifa untuk keluar dari ruangan ini. Tim dokter segera menangani pendarahan yang terjadi pada luka Zaki, dengan semaksimal mungkin. Sementara Fikar dan juga yang lainnya menunggu di luar ruangan.
Kia merasa bingung, karena ternyata Zaki ingin melindunginya karena memang tahu sesuatu tentangnya. Ia merasa sangat terpukul ketika ia tahu hal itu dari mulut di Zaki langsung. Kia tidak menyangka penyelidikannya kali ini akan terbongkar dari mulut Zaki langsung, tetapi belum sempat ia mengetahui siapa yang menjadi dalang di balik semua ini, Zaki sudah mengalami pendarahan seperti ini. Ia jadi merasa sangat frustrasi, karena ia tidak langsung tahu siapa dalang dari semua ini.
“Kak ... dia tahu siapa yang membunuh Zain! Tapi kenapa dia nggak langsung kasih tahu aja dari awal kita kenal?” tanya Kia yang merengek saat ini, seperti sedang meminta sebuah balon kepada ibunya.
__ADS_1
Fikar pun merasa bingung, bagaimana cara untuk membuat Kia tenang saat ini. Karena saat ini dia sudah berada di luar batas, sampai membuat Zaki kritis lagi saat ini.
“Iya, kamu tenang dulu. Semuanya bisa dibicarakan baik-baik. Kalau kamu kayak begini, keadaan Zaki malah semakin parah dan Zaki malah nggak bisa ngasih tahu semuanya ke kita dengan cepat. Makanya kamu tenang dulu,” ujar Fikar, yang berusaha untuk menekan Kia agar tidak histeris kembali seperti ini.
“Gimana, Kak? Harusnya tuh dia kasih tahu dari awal, kenapa harus semuanya berjalan seperti ini? Dia juga baru kasih tahu, apa motif dia buat ngedeketin aku?” tanya Kia, Fikar dan Zifa saling melempar pandangan karena kebohongan ini sudah terlalu besar ditutupi, sehingga membuat Kia merasa murka mendengarnya.
Namun bukan wewenang mereka untuk menjelaskan semua ini, dan memberitahukan kepada Kia tentang hal ini, tetapi itu semua harus Zaki yang mengatakannya langsung.
“Lebih baik kita tunggu Zaki keadaannya pulih, baru kita tanya tentang apa yang harusnya kita tahu. Kayaknya lebih baik biar Zaki sendiri yang menjelaskan sama kamu,” ucap Zifa, yang mendapatkan anggukan kepala dari Fikar.
“Ya, lebih baik kita sekarang menunggu Zaki agar Zaki bisa pulih kembali dan bisa memberitahukan kepada kita, tentang hal dan rahasia yang dia tahu. Tentang siapa pembunuh Zain yang sebenarnya,” tambah Fikar, membuat Kia hanya bisa merenung mendengarnya.
Kia tidak bisa melakukan apa pun lagi, karena dirinya yang memang sudah tidak mengerti dengan keadaan ini.
Karena dirinya juga Zaki sampai seperti ini dan mengalami tragedi yang tidak menyenangkan, ia merasa sangat bersalah ketika Zaki sudah proses recovery tubuhnya, ternyata dirinya lah yang membuat Zaki kembali tersakiti kedua kalinya. Hal itu terjadi hanya karena ia terlalu bersemangat, saat Zaki mengatakan hal yang sangat krusial baginya.
Sementara itu, tiba-tiba saja pintu ruangan Zaki terbuka, membuat mereka terkejut melihat pintu itu terbuka. Tim medis berlarian menuju ke arah UGD kembali, membuat mereka bingung dengan apa yang terjadi dengan Zaki.
Kia pun bangkit dari tempat duduknya. Ia segera menarik salah satu tenaga medis yang sedang berlarian itu.
“Kenapa Zaki?” tanya Kia dengan sinis.
__ADS_1
“Pendarahan itu tidak bisa dihentikan. Kita harus segera menjahit ulang lukanya. Semoga pasien tidak kehabisan darah,” jawabnya, sontak membuat Kia dan yang lainnya merasa sangat kaget mendengarnya.
Kia tidak menyangka, perbuatannya itu malah membuat Zaki berada dalam masalah besar. Ia sangat tidak menyangka dengan apa yang ia lakukan, karena hal itu sangat di luar dari nalarnya. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya untuk sesaat, karena mendengar kata Zain. Apalagi Zaki yang sudah mengetahui siapa dalang dari pembunuhan Zain.