
“Ya, aku sangat menantikan hal itu terjadi,” ujar Zifa, yang sudah tidak memedulikan status sosial di antara dirinya dan juga Fikar.
Ia merasa sangat pantas mendapatkan Fikar, karena ia yang sudah lama menjalin hubungan bersama dengan Fikar.
“Boleh cium?” tanya Fikar, membuat Zifa malu-malu mendengarnya.
“Nggak, ah! Ngapain cium-cium? Nanti aja lah, nanti kebablasan lagi deh,” tolak Zifa.
“Nanti, kalu kita sudah menikah, baru kita melanjutkan hari ini,” ujar Fikar lalu Zifa pun mengangguk mendengarnya.
“Sambil jalan aja ya bicaranya,” ujar Fikar lagi, Zifa kembali mengangguk mendengarnya.
Mereka pun segera pergi dari sana meninggalkan kampus, untuk menuju ke suatu tempat yang sudah Fikar rencanakan, untuk mengajak Zifa ke sana.
Di sepanjang jalan, mereka juga berbincang mengenai hal yang mungkin nantinya akan terjadi di dalam hubungan mereka. Fikar memandang sekilas ke arah Zifa, karena ia tidak bisa fokus ke arah Zifa sementara ia sedang menyetir kendaraannya.
“Oh ya, kamu lulus kapan ya?” tanya Fikar, membuat Zifa menoleh ke arahnya.
“Aku sebentar lagi mungkin, karena sekarang lagi persiapan untuk ujian kenaikan tingkat. Setelah ujian kenaikan tingkat, baru deh kita mengurus skripsi dan lain-lain,” jawab Zifa.
“Mengurus skripsi butuh waktu berapa lama?” tanya Fikar yang pertanyaannya seperti orang yang tidak pernah memakan bangku kampus.
Zifa tertawa mendengarnya, “Kamu kayak nggak pernah makan bangku kampus aja,” ledek Zifa, Fikar pun tertawa mendengarnya.
“Ya ... mungkin aja sekarang ketentuannya udah beda kayak dulu. ‘Kan kita nggak ada yang tahu? Makanya sekarang aku nanya,” ujar Fikar, membuat Zifa kembali tertawa mendengarnya.
“Ya sekarang kita mau persiapan ujian akhir, terus persiapan skripsi selama satu semester. Setelahnya baru deh menunggu untuk wisuda,” jawab Zifa, membuat Fikar merasa gemas mendengarnya.
“Kenapa lama sekali, sih?” gerutu Fikar, membuat Zifa tertawa mendengarnya.
“Memangnya kenapa kalau lama? Ya memang kayak begitu prosedurnya, mau diapain lagi?” tanya Zifa, sembari tertawa mengatakannya.
__ADS_1
“Ya ... habisnya ‘kan aku udah nggak sabar mau ... gitu deh pokoknya ...,” ujar Fikar, yang tidak ingin melanjutkan ucapannya.
Namun, Zifa sudah mengerti apa yang Fikar katakan.
“Gitu gimana?” tanya Zifa, menggoda Fikar yang saat ini terlihat sedang malu di hadapannya.
“Ya begitu pokoknya ... memangnya nggak bisa ya kalau sembari menunggu skripsi, kita melangsungkan pernikahan dulu?” tanya Fikar, Zifa pun terdiam mendengarnya saat ini.
Zifa pun berdebar mendengar ucapan Fikar. Ia merasa sangat bingung harus mengatakan apa, karena dirinya yang sebenarnya belum siap, tetapi karena ia tidak ingin kehilangan cintanya lagi dengan Fikar, ia merasa harus menerima Fikar seutuhnya.
“Iya, bisa kok,” jawab Zifa dengan wajah yang memerah mengucapkannya.
Mendengar jawaban Zifa, Fikar pun merasa terkejut karena ia tidak menyangka bahwa Zifa akan menerima lamarannya itu. Walaupun tidak terlihat so sweet, tapi setidaknya ia sudah berusaha untuk melamar ziva dan akhirnya ziva pun menerimanya.
“Kamu mau menikah denganku setelah semester ini?” tanya Zulfikar, Zifa pun terdiam sejenak, kemudian mengangguk dengan pandangan yang tetap menunduk malu.
Hal itu membuat Fikar semakin berdebar, mendengar apa yang menjadi jawaban Zifa. Ia tidak menyangka, dirinya akan bisa memenangkan hati Zifa seperti ini.
“Ah, kenapa harus sambil ngendarin mobil, sih?” gerutu Fikar, membuat Zifa memandangnya heran.
“Memangnya kenapa kalau nggak ngendarain mobil?” tanya Zifa.
“Ya ‘kan kalau aku nggak ngendarain mobil, aku bisa peluk kamu kek ... cium kamu kek ... atau melampiaskan rasa bahagia aku, karena kamu udah nerima lamaran aku,” jawab Fikar menjelaskan, membuat Zifa tersenyum malu mendengarnya.
***
Karena sudah terlalu lelah seharian beraktivitas, Kia pun tertidur pulas pada sofa yang berada di ruang rawat Zaki. Ia terpaksa tidur di sofa, karena ia tidak mungkin meninggalkan Zaki sendirian. Karena efek obat yang dikonsumsi Zaki, Zaki pun akhirnya tertidur pulas dari setelah makan siang sampai saat ini menjelang malam.
Karena Kia yang bosan sendirian menunggu, Kia pun akhirnya tertidur juga karena tidak tahu harus berbuat apa.
Tiba-tiba saja Fikar dan Zifa datang ke dalam ruangan rawat Zaki, membuat Kia tersadar dari tidurnya walaupun kepalanya masih sangat pusing, karena masih belum sepenuhnya beristirahat. Matanya dipaksa mendelik untuk melihat siapa yang datang, karena ia khawatir jika ada suster atau dokter yang akan memeriksa keadaan Zaki.
__ADS_1
Ternyata yang ia dapati adalah Fikar dan juga Zifa, yang saat ini baru saja masuk ke dalam ruangan rawat Zaki.
“Lho, ternyata kalian,” gumam Kia, yang sudah mulai panik.
Mereka pun duduk pada sofa yang ada di sana. Zifa duduk di samping Kia, sementara Fikar duduk di sofa yang berada di hadapan mereka.
“Kalian baru datang?” tanya Kia, membuat Fikar memandangnya dengan datar.
“Ya emang baru datang lah! Masa nanya,” jawab Fikar seenaknya, membuat Kia memandangnya juga dengan datar.
“Apa sih, Kakak?” gerutu Kia, membuat Zifa tertawa melihat mereka.
“Gimana keadaan Zaki sekarang?” tanya Zifa, yang belum sempat bercengkrama dengan Zaki.
“Zaki udah sadar kok, tapi dia saat ini masih di bawah pengaruh obat. Jadi mungkin dia masih ngantuk,” jawab Kia.
Fikar pun memandangnya bingung. “Hei, coba dibangunin. Jangan sampai dia telat makan malam, terus telat minum obatnya. Obatnya 3 kali sehari ‘kan?” ujar Fikar, membuat Kia mendelik mendengarnya.
“Oh iya, bener juga apa yang Kakak bilang,” ujar Kia.
Kia mendapati semangkuk bubur, dan juga makanan yang lainnya yang berada di meja sebelah ranjang Zaki. Ternyata pihak rumah sakit sudah menyediakan makanan untuk Zaki, tetapi karena Kia yang terlalu mengantuk, ia jadi tidak mengetahui kapan petugas catering membawakannya makanan.
“Aku aja sampai nggak tahu kalau misalkan makanannya udah ada di meja,” ujar Kia, membuat Fikar menggelengkan kepalanya, karena merasa aneh dengan Kia.
“Ya ... gimana sih kamu? Disuruh jagain yang sakit kok malah kamu yang tidur sih,” omel Fikar, membuat Kia memandangnya ketus.
“Ya udah sih, itu ‘kan aku nggak tahu karena capek aja. Kalau aku nggak capek mah, mungkin nggak bakalan aku ninggalin dia tidur!” gerutu Kia, membuat Fikar tertawa kecil mendengarnya.
“Ya udah sih, nggak usah ngomel-ngomel begitu. Biasa aja,” goda Fikar membuat Kia memandangnya dengan sinis.
“Nggak tahu ah! Aku males sama Kakak!” gerutu Kia, membuat mereka pun tertawa kecil mendengarnya.
__ADS_1
“Ya udah, cepet bangunin gih. Kasihan nih udah larut malam belum makan, terus telat minum obat,” suruh Fikar, membuat Kia mengangguk mendengarnya.