
Adnan memandangnya dengan tatapan tajam, “Lho, tadi gue kayaknya denger lo nyebut nama—”
“Udah ah! Mau tau aja urusan orang!” pangkas Kia, yang tidak ingin membahas tentang Zaki.
Adnan memandangnya dengan tajam, karena ia tidak senang jika Kia sudah terlihat sangat dekat dengan Zaki.
‘Dia beneran bikin Kia nyaman? Gue gak bisa biarin itu semua terjadi!’ batin Adnan, yang sudah mulai memikirkan apa yang harus ia lakukan pada Zaki nanti.
“Udah ah, gak ada tempat buat lo di sini! Mending sekarang, lo pergi dari sini!” usir Kia, membuat Adnan mendelik kaget mendengarnya.
“Lo ngusir gue, Ki?” tanyanya tak percaya, membuat Kia merasa sangat tidak memedulikannya.
“Gue gak peduli, bye!” ujar Kia ketus, yang lalu segera pergi dari hadapan Adnan untuk menuju ke kamarnya kembali.
“Kia! Ki!” pekik Adnan, tetapi Kia sama sekali tidak mau menghentikan langkahnya.
Adnan kesal, karena effort-nya sama sekali tidak dihargai oleh Kia.
‘Kia ... Kia. Usaha gue sia-sia belaka karena seseorang yang bernama Zaki. Lihat aja, gue gak akan segan untuk berbuat sesuatu pada Zaki. Kalau gue gak bisa dapetin lo, orang lain pun gak akan boleh dapetin lo!’ batin Adnan, merasa harus melakukan hal ini demi memperjuangkan cintanya pada Kia.
Kia melangkah menuju ke arah kamarnya. Ia tak sengaja bertemu dengan pelayan baru itu lagi, dan berhenti sembari memandang sinis ke arahnya.
“Nanti kalau dia datang ke sini lagi, bilang aja aku lagi gak ada di rumah!” suruh Kia, membuat pelayan itu mengangguk patuh mendengarnya.
“Baik, Non.”
Kia pun masuk ke dalam ruangan kamarnya, dan menghempaskan dirinya di atas ranjang tidurnya. Ia tidak habis pikir, dengan apa yang terjadi di antara mereka.
“Gila ya? Kenapa di Adnan masih aja deketin aku, sih? Padahal Zaki kemarin udah bilang begitu ke dia, dan seharusnya dia mikir untuk jauhin aku. Kenapa sekarang malah makin nyosor, sih?” gerutu Kia, merasa sangat kesal dengan keadaan ini.
Kia yang kesal, lalu segera membalikkan tubuhnya untuk menelungkup, dengan posisi tetap memeluk jaket Zaki.
Wangi harum jaket yang baru saja ia cuci, membuatnya nyaman untuk berlama-lama memeluknya. Karena masih mengantuk, tak sadar Kia pun akhirnya tertidur dengan posisi memeluk jaket Zaki tersebut.
Tak berapa lama dari saat Kia tertidur, seseorang kembali mengetuk pintu kamarnya, membuat tidur Kia pun terganggu karenanya.
__ADS_1
“Duh ... siapa yang ngetuk pintu kamar aku lagi, sih? Ini hari Minggu, kenapa aku gak boleh istirahat lebih lama?” gerutu Kia, yang merasa terganggu dengan seseorang yang datang dan mengacaukan istirahatnya.
“Ya, tunggu sebentar,” ucap Kia dengan sedikit keras.
Kia pun bangkit, dan membukakan kembali pintu ruangan kamarnya. Terlihat pelayan yang sama, yang baru saja mengetuk pintu kamarnya beberapa saat lalu. Wajah Kia seketika berubah datar, karena lagi-lagi ia melihat pelayan ini di hadapannya.
Serasa De Javu kembali.
“Ada apa lagi?” tanya Kia datar.
“Anu, Non. Maaf, ada tamu yang mau ketem—”
Mendengar setengah ucapan dari pelayan itu, Kia pun segera pergi meniggalkan pelayan itu dengan keadaan kesal dan geram, dengan tetap memeluk jaket itu.
“Dia gak bisa dibilangin pakai bahasa yang baik dan benar, apa? Apa harus pakai bahasa planet dulu, biar dia ngerti?” gerutu Kia, sembari menuruni anak tangga satu per satu.
Kia pun sampai di ruang tamu, dan langsung mengeluarkan emosinya yang sudah tak tertahankan lagi.
“Ngapain sih lo ke sini lagi? Apa gak cukup dibilangin pakai bahasa yang benar, walaupun gak baik? Apa mau pakai bahasa planet?” bentak Kia sinis, membuat Zaki yang memandangnya bingung karena mendengar ucapan aneh dari Kia.
“Ki ... gue salah apa?” tanya Zaki, membuat Kia mendelik kaget karena ternyata ia salah target sasaran.
“Oh My God!” gumam Kia kaget, sembari mendelikkan matanya. “Sorry, gue salah orang kayaknya!” ujar Kia, yang merasa menyesal sudah meluapkan setengah emosinya tadi, di hadapan Zaki.
Zaki memandangnya dengan tatapan tajam. “Ada orang yang ganggu lo? Siapa?” tanyanya, yang ternyata sangat tepat bertanya seperti itu.
Kia menghela napasnya panjang. “Adnan tadi ke sini sebelum lo datang. Gue juga gak tahu udah berapa lama, karena tadi gue ketiduran sebentar,” ungkap Kia dengan jujur, sontak membuat Zaki merasa emosi saat ini.
“Dia lagi aja ... harus dikasih pelajaran orang begitu!” gumam Zaki, membuat Kia memandangnya heran.
“Mau ngapain?” tanyanya.
“Kasih dia pelajaran!” jawab Zaki asal, membuat Kia merasa sangat kaget mendengarnya.
“Pelajaran apa? Matematika? Dia udah pinter,” seloroh Kia, membuat Zaki memandangnya dengan senyuman yang lebar seperti Joker.
__ADS_1
“Gak gitu konsepnya, Kia ....”
“Habis gimana? Maklum, gue ‘kan polos ....”
Zaki menghela napasnya dengan panjang. “Gak ada yang boleh gangguin lo!” ujarnya, sontak membuat Kia mendelik kaget mendengarnya.
‘Kenapa dia care ya sama gue? Kenapa dia gak mau sampai Adnan gangguin gue?’ batin Kia, heran dengan yang Zaki katakan padanya.
Zaki pun menghela napasnya kembali, karena memandang ke arah jaketnya, yang saat ini dipeluk erat oleh Kia.
“Itu ... jaket gue, bukan?” tanya Zaki, Kia pun mendelik karena merasa lupa jika ia memegangi jaket Zaki.
“Mm ... bukan!” jawab Kia dengan ketus, lalu segera menyembunyikan jaketnya di belakang tubuhnya.
Zaki pun hanya bisa memandanginya dengan heran, dengan Kia yang merasa sangat malu karenanya.
‘Duh ... kenapa aku lupa ya? Kenapa bisa aku melukin jaketnya dia terus? Sampai lecek pula kayaknya,’ batin Kia, heran dengan dirinya yang merasa aneh ketika memeluk jaket Zaki.
“Kenapa diem aja?” tanya Zaki, Kia tersadar dari lamunannya.
“Gak, ini bukan jaket lo!” bantah Kia lagi, berusaha untuk menutupi rasa malunya di hadapan Kia.
Zaki menghela napasnya dengan panjang. “Jangan begitu, Kia. Ada yang asli, kenapa harus meluk jaketnya?” selorohnya, sontak membuat Kia mendelik kaget mendengarnya.
“Ih, apaan sih! Gak tau, ah!” bentak Kia, yang lalu segera pergi dari sana, meninggalkan Zaki sendiri di ruang tamu.
Zaki tertawa kecil sembari menggelengkan kepala, merasa aneh dengan sikap yang Kia berikan padanya.
Tak lama, Kia pun kembali lagi dan langsung memberikan jaket yang ia pegang sejak tadi. Zaki menerimanya, karena Kia yang memberikannya dengan sedikit buru-buru.
“Nih, makasih jaketnya. Udah gue cuci, gosok, tapi karena ketiduran tadi ... jadi lecek lagi,” ujar Kia dengan nada yang menahan malu.
Ucapan Kia membuat Zaki tersenyum, ‘Dia imut kalau lagi begini,’ batinnya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1