
Happy reading....
Kia memberontak, “Lepasin! Gue harus kejar orang yang neror gue waktu itu!” teriaknya, sontak membuat Adnan memandang ke arah orang yang berlarian itu.
Matanya mendadak sinis, ‘Sialan! Kenapa Kia bisa ngeliat orang suruhan gue, waktu bunuh Zain?!’ batin Adnan, yang merasa sangat kesal karena sudah kecolongan seperti ini.
“Mmm ... Kia, kita balik aja, yuk! Jangan ngurusin apa yang gak seharusnya lo urus,” ajak Adnan, yang sebisa mungkin membuat fokus Kia teralihkan.
“Gue mau kejar itu orang! Gue gak akan pernah lepasin dia!” teriak Kia, sembari berusaha melepaskan dirinya lagi dari Adnan.
Adnan berpura-pura tidak mengerti dengan maksud Kia, “Memangnya kenapa lo mau kejar dia?” tanyanya.
Kia memandang sinis dan tajam ke arah Adnan, “Dia yang udah neror gue dan Zain, sebelum Zain meninggal! Dia yang udah bikin semuanya jadi seperti ini! Mungkin dia juga yang ada di balik kecelakaan Zain!” jawabnya dengan tegas bercampur amarah, sontak membuat Adnan mendelik kaget mendengarnya.
Adnan tidak menyangka, ternyata Kia sudah mengetahui hal ini secepat itu. Padahal, jika dilihat dari kacamata kejadian kala itu, Zain terlihat seperti orang yang memang benar sedang kecelakaan.
“Udah ... itu hanya sebuah kecelakaan, Kia. Pak Zain pergi, gak ada hubungannya dengan lelaki itu. Itu murni karena sebuah kecelakaan,” ujar Adnan, berusaha untuk membuat Kia menerima semuanya.
“Tetep aja, gue yakin dengan apa yang udah gue duga! Dia yang udah buat Zain celaka, atau paling tidak, dia disuruh orang lain untuk membunuh Zain. Gue akan kejar, dan gue pasti akan lapor polisi setelah ini!” gumam Kia dengan ekspresi yang sangat kesal.
Hal itu membuat Adnan merasa sangat kesal, karena ternyata Kia sudah mengetahui semuanya.
__ADS_1
‘Kia cocok jadi intelegent! Awas aja lelaki itu! Gak akan gue biarin dia ngomong kalau gue yang udah nyuruh dia buat nyelakain Zain!’ batin Adnan, membuatnya merasa harus membicarakan ini dengan lelaki itu nanti.
Adnan memandang dalam ke arah Kia, “Yuk, kita makan es krim lagi! Jangan ngurusin yang enggak-enggak,” ajaknya, Kia melepaskan tangannya dari tangan Adnan.
“Gak mau, gue udah gak mood! Gue mau pulang sekarang!” tolak Kia, membuat Adnan menghela napasnya dengan panjang.
“Ya udah, kita pulang sekarang, ya.”
Mendengar Adnan yang mengatakan hal itu, Kia pun segera berjalan menuju ke arah mobil Adnan yang terparkir, dan mereka segera melanjutkan perjalanan mereka kembali ke rumah Kia.
***
Zaki keluar dari kamar mandi, sembari menggosokkan handuk kecil pada rambutnya yang basah. Zaki membuka lemari pakaiannya, untuk mencari pakaian yang sesuai untuk ia kenakan di hari weekend ini.
Setelah mendapatkan pakaian yang sesuai keinginannya, Zaki kemudian menutup kembali pintu lemari pakaian itu.
“Hah!” pekiknya.
Matanya mendelik, terkejut karena melihat Zain yang ternyata sudah berdiri di hadapannya.
Saking terkejutnya Zaki, ia sampai meloncat kembali dan membuatnya jatuh ke atas lantai kamarnya.
__ADS_1
“Aduh ....” Zaki mengerang, sembari mengelus bokongnya yang sakit, akibat terjatuh tadi.
Zain tersenyum melihat reaksi Zaki, yang masih saja terkejut melihat dirinya yang berada di sekitarnya.
“Masih aja kaget,” gumam Zain, yang tidak berhenti tersenyum memandang ke arah Zaki.
Rasa sakit pada bokong Zaki perlahan memudar, ia kemudian memandang ke arah Zain sembari menunjuknya dengan kasar.
“Eh, kenapa kamu masih ada di sini?! Saya ‘kan udah bilang, kalau saya gak mau temenan sama arwah seperti kamu!” bentaknya dengan kasar, membuat Zain kembali tersenyum mendengar ucapan kasar Zaki padanya.
“Jangan ngomong begitu. Tuh ... lihat, handuk kamu hampir copot!” seloroh Zain, sontak membuat Zaki mendelik kaget mendengarnya.
Zaki memandang ke arah pinggangnya, dan memang benar apa yang dikatakan Zain. Handuk kecil yang melilit pada pinggangnya, ternyata sudah hampir terlepas.
Buru-buru Zaki membenarkannya, karena ia tidak ingin Zain melihat benda pusaka miliknya, yang hanya boleh dirinya dan bakal calon istrinya yang melihat itu.
Zaki bergegas bangkit, dan berdiri berhadapan dengan Zain yang masih berada di hadapannya itu.
“Kamu kenapa, sih? Kenapa masuk ke kamar orang sembarangan? Gak punya etika!” ujarnya ketus, Zain tak memiliki pilihan lain, selain melakukan hal seperti ini.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1