
Happy reading.....
Zifa semakin takut memandang ke arah lelaki ini, “Ini kamu dapat dari mana?” tanyanya sinis, dengan mata yang semakin menajam ke arahnya. “Kamu nyolong punya pak Zain, ya?!” bidiknya, membuat Zaki merasa kaget mendengar tuduhannya itu.
Zaki memperlihatkan kedua telapak tangannya di hadapan Zifa, “Wow ... aku gak nyolong, kok. Itu Zain tunjukkan, dan dia nyuruh saya kasih tau soal ini ke kamu,” sanggahnya, semakin membuat Zifa mendelik ke arahnya.
“Bagaimana bisa?! Pak Zain sudah tiada, dan dia gak mungkin nyuruh kamu buat kasih benda ini ke aku!” bidik Zifa lagi, semakin membuat Zaki merasa bingung harus mengatakan apa lagi.
Melihat teman-temannya yang banyak berada di sekitar mereka, Zifa lantas menoleh ke segala arah, berusaha untuk menghindari pandangan mereka.
“Sudah, kalau mau bicara, ayo! Jangan di sini!” ujar Zifa sedikit ketus, sembari melangkah ke arah sebuah warung yang ada di pinggiran jalan.
Mereka duduk pada sebuah kursi panjang, yang terbuat dari kayu. Zifa mengambil sebuah roti yang tersusun rapi pada sebuah rak kecil, yang berada di hadapannya.
“Pak, es kopi goodnight satu, ya!” ucap Zifa, sembari membuka bungkus roti yang sedang ia pegang.
“Siap!”
Zifa memandang ke arah Zaki, “Kamu mau minum apa?” tawarnya.
“Latte dingin,” jawab Zaki, membuat Zifa berhenti sejenak mendengarnya.
Apa yang Zaki pesan, sama seperti minuman kesukaan Kia. Hal itu semakin membuatnya merasa penasaran, ada hubungan apa lelaki ini dengan Kia dan Zain.
Sejenak, rasa penasarannya ia tangguhkan. Ia menoleh ke arah sang pemilik warung, yang sedang membuatkan minuman yang ia pesan.
“Tambah es latte satu, Pak!”
__ADS_1
Zifa memandang heran ke arah Zaki, “Kamu suka latte dingin?” tanyanya menyelidik.
“Ya.”
“Sejak kapan?” tambahnya.
Sepertinya Zifa sangat penasaran dengan sosok lelaki yang baru saja ia temui ini. Saking penasarannya, ia sampai lupa menanyakan nama lelaki misterius ini.
“Waktu usia 10 tahun,” jawab Zaki gamblang, Zifa semakin penasaran dibuatnya.
‘Kenapa sekebetulan ini? Kenapa minuman kesukaan Kia, juga minuman kesukaan dia?’ batin Zifa, yang memandang dengan nanar ke arah Zaki.
“Kita dari tadi bicara, tapi gak saling kenal nama,” seloroh Zaki, membuat Zifa mendelik mendengarnya.
“Eh, namamu siapa?” tanya Zifa setengah kaget mendengar selorohan Zaki.
Mendengar namanya, Zifa mendelik kaget. Ia bingung, kenapa namanya sama dengan nama inisial yang terukir pada gantungan berbentuk bintang itu. Zifa menunduk bingung, kepalanya terasa sedikit sakit, karena mengetahui beberapa kesamaan di antara Zaki dan juga Kia.
Menangkap sinyal-sinyal keanehan dari Zifa, Zaki hanya menatapnya nanar.
“Namamu ... Zifa, bukan?” tanya Zaki, Zifa mendonggak, memandangnya dengan setengah tidak percaya.
“Tau dari mana?” tanya Zifa menatapnya aneh.
“Dari Zain.” Zaki mengatakan semua hal yang terasa sangat aneh di telinga Zifa.
Si pemilik kedai menyajikan minuman yang mereka pesan, membuat percakapan mereka terpotong sejenak.
__ADS_1
“Terima kasih, Pak.” Zifa, menggeser minuman di hadapannya.
Zifa kembali memfokuskan pandangannya ke arah Zaki, sembari tetap berusaha membuka plastik roti, yang belum sempat terbuka tadi.
“Dari Zain? Kapan dia kasih tau ke kamu tentang ini?” tanya Zifa lagi, yang masih ingin memastikan jawabannya.
“Tadi siang, saat kamu dan Kia sedang makan di kantin gedung A,” jawab Zaki lagi, kali ini membuat Zifa terperanjat mendengarnya.
Tubuhnya seketika bergetar, membuatnya merasa sangat bingung dengan keadaan ini. Roti yang baru saja dibukanya sampai terperosok jatuh, saking lemasnya tenaganya.
“Ta-tadi siang? Gimana bisa, pak Zain ‘kan sudah ....”
Zifa tak kuasa lagi melanjutkan perkataannya.
Zaki tersenyum pipih, melihat reaksi Zifa yang sepertinya sangat tidak percaya dengan apa yang ia katakan tadi.
“Ya, Zain memang sudah meninggal, tapi arwahnya masih penasaran dan terus bergentayangan. Aku salah satu orang yang bisa melihatnya. Dia minta aku supaya ngomong ini ke kamu,” tutur Zaki menjelaskan.
Zifa semakin tidak percaya, tidak mungkin hal semacam itu terjadi di era digital seperti ini. Hal mistis semacam itu hanya ada di zaman nenek moyangnya saja.
Tangannya yang masih gemetar, ia paksa untuk merogoh handphone-nya, yang berada di dalam saku celananya. Zaki memandangnya linglung, “Mau ngapain kamu?” tanyanya.
“Mau kasih tau Kia!” jawabnya, membuat Zaki mendelik kaget mendengarnya.
“Jangan!” pekik Zaki, yang merasa sangat tidak mengizinkannya.
BERSAMBUNG......
__ADS_1