Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Kabar Buruk


__ADS_3

Happy reading....


“Halo? Kenapa gak ada suaranya? Kak Fikar? Apa gak ada sinyal?” sapa Kia lagi, karena ia tidak mendengar apa pun dari mulut Fikar.


“Bukan sinyalnya, Kia. Memang Kakak gak bersuara tadi,” bantah Kakaknya, membuat Kia merasa bingung mendengarnya.


“Terus kenapa Kak Fikar diam aja? Aku nanya, Zain mana?” ujarnya setengah membentak Fikar, karena ia sudah membuat perasaannya sedikit kesal.


“Zain ....” Fikar tak sanggup melanjutkan perkataannya, tetapi ia harus mengatakan hal yang sebenarnya pada adiknya itu.


Mereka sejenak terdiam, tak ada kata apa pun yang terucap dar bibir mereka. Kia yang menunggu Fikar berbicara, sedangkan Fikar sama sekali tidak bisa berkata-kata.


“Zain ... kecelakaan dan meninggal di tempat, Kia,” ujar Fikar dengan ragu, membuat Kia mendelik tak percaya dengan apa yang ia dengar itu.


Bagaikan mimpi, Kia merasa baru saja semalam mereka berbincang mesra mengenai semua hal yang pernah mereka lakukan. Baru semalam Zain mengatakan kata-kata manis pada Kia, baru semalam juga Zain mengecup bibir Kia dengan sangat lembut.


Tetesan air mata menetes dengan derasnya. Tetesan itu terus terjadi, sampai terus mengalir dari pelupuk matanya. Kia tidak percaya, ia bahkan tidak percaya sedikit pun dengan apa yang Fikar katakan padanya.

__ADS_1


Namun, Fikar tidak pernah sekalipun bohong pada Kia, membuatnya merasa semakin tidak bisa menerima kenyataan ini.


Sekujur tubuh Kia mendadak lemas, sampai ia tidak bisa menyanggah handphone-nya sendiri.


Handphone itu terjatuh ke hadapan Kia, dengan pandangan Kia yang masih mendelik dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuknya.


Zifa melihatnya dengan keadaan bingung, tetapi ia sudah bisa merasakan kalau Kia sedang mengalami kesedihan. Dengan cepat ia memeluk Kia, membuat Kia menumpahkan tangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Zifa.


Riasan wajahnya yang sudah siap sejak pukul 7 pagi, sudah tidak ia pedulikan lagi. Perasaan sedih karena kehilangan Zain lebih penting, karena ia tidak bisa menerima semua itu.


Bahkan mereka sama-sama belum sempat mengucapkan kata perpisahan, dan perpisahan itu terasa sangat tiba-tiba mereka rasakan.


Dalam tangisnya, Kia terus beradu dengan emosi dan perasaannya yang tersakiti. Ia masih berpikir tentang ucapan-ucapan Zain yang janggal, yang ia ucapkan menjelang kepergiannya itu.


Kalau tahu kejadiannya akan seperti itu, Kia pasti tidak akan membiarkan Zain pergi dari sisinya.


Ucapan demi ucapan Zain langsung terngiang di benak Kia, karena ia merasa itulah tanda-tanda kepergian Zain, yang tak ia sadari.

__ADS_1


“Bagaimana ya, cara agar membuat kamu bisa ngerelain aku pergi?”


“Kamu akan tetap cinta sama aku, bukan?”


“Walaupun nanti aku pergi lebih dulu, apa kamu masih setia cinta sama aku?”


“Aku pergi dulu, jangan nakal pas aku pergi.''


“Terima kasih, aku jadi gak penasaran lagi rasanya. Aku bisa istirahat dengan tenang, kalau begini caranya.”


Semua kata-kata Zain kembali terngiang di telinga Kia, membuat Kia tidak tahan dan segera menutupi kedua telinganya.


Berharap bisa menghilangkan suara-suara itu dari pikirannya, justru membuat Kia semakin dihantui oleh suara tersebut. Kia sampai berteriak, saking tidak bisanya dengan keadaannya yang seperti ini.


‘Aku gak bisa tanpa kamu, Zain!’ batin Kia, yang merasa sangat kesal dengan dirinya sendiri, karena ia tidak menyadari akan tanda-tanda yang Zain katakan.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2