Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Aku Percaya Kamu


__ADS_3

Happy reading...


Fikar berdesis sembari memandang ke arah Zifa. “Jangan ikut campur dulu, aku lagi bicara sama dia.”


Karena Fikar sudah berkata demikian, Zifa pun hanya bisa diam. Ia tidak bisa menjelaskan apa pun, di saat Fikar tengah dikuasai emosinya. Tidak marah pun sudah bagus bagi Zifa.


Fikar kembali memandang ke arah Zaki. “Lo siapa? Kenapa deketin pacar gue?” tanyanya ketus.


“Gue gak deketin pacar lo dengan tujuan menyimpang. Gue tau dia dekat sama Kia, dan hanya dia yang bisa bantu gue buat jagain Kia. Itu semua Zain yang minta, dan gue disuruh Zain untuk mendekati Zifa, dan meminta bantuan dari Zifa,” ujar Zaki, sontak membuat Fikar mendelik kaget mendengarnya.


“Lo gak salah, hah? Otak lo korslet kali? Mana bisa Zain nyuruh lo begitu? Dia udah gak ada di dunia ini,” ketus Fikar, Zaki lagi-lagi menghela napasnya dengan panjang.


“Gue gak mungkin salah, Bro. Zain sekarang jadi arwah gentayangan, dan dia minta gue buat jagain Kia. Kebetulan gue satu kampus sama Zifa dan Kia, tapi gue mahasiswa pasca sarjana. Gue juga baru tau, kalau Zain itu ternyata dosen di kampus gue, ngajar program S1,” papar Zaki, merasa dirinya tidak salah di hadapan Fikar.


Fikar memandangnya dengan tatapan yang menyelidik, merasa ada sedikit kepercayaan untuk Zaki. Namun, ia masih tetap harus waspada, dan tidak ingin sampai terjadi sesuatu kepada kekasihnya dan juga adiknya.


“Gue masih harus nyelidikin lo,” ujar Fikar, Zaki lagi-lagi menghela napasnya dengan panjang.


“Memang susah memercayai seseorang. Gue juga gak memaksa lo harus percaya sama gue atau enggak. Tugas gue cuma menjaga Kia, sampai Kia benar-benar lupa dengan sosok Zain. Minimal sampai Kia menemukan kebahagiaan lain selain Zain. Gue melakukan ini, karena gue juga pernah kehilangan orang yang gue cintai. Jadi, gue kasihan aja sama Zain, dan udah terlanjur janji sama dia buat ngejaga Kia,” ujar Zaki dengan gamblang, membuat Fikar merasa canggung mendengarnya.


‘Masa sih, dia beneran temenan sama arwahnya Zain? Kenapa dia bisa tau semuanya tentang Zain, kalau memang gak berteman sama Zain?’ batin Fikar, yang merasa sangat bimbang untuk memercayai Zaki.

__ADS_1


Pikiran lainnya membantah, ‘Ah! Bisa saja dia cuma fans Zaki, atau teman yang berkhianat, yang ingin merebut Kia dari Zain? Gak ada yang gak mungkin di dunia ini, dan saya harus berjaga-jaga mengenai hal ini,’ batin Fikar, yang tetap tidak memercayai Zaki seutuhnya.


“Lantas, kenapa lo bisa di sini? Dari mana lo dapet kunci rumah Zain?” tanya Fikar.


“Gue bisa di sini, cuma mau menghindari Kia yang akhir-akhir ini selalu masuk ke ruangan apartemen Zain. Gue gak mau berpapasan dengan Kia, dan jangan sampai Kia berpikir kalau gue yang beneran membunuh Zain. Gue dapat kunci rumah ini, karena Zain yang bilang ada di apartemennya,” jawab Zaki dengan lantang, membuat keraguan di hati Fikar sedikit sirna karena jawabannya yang lantang.


‘Sebenarnya gak ada alasan untuk gak percaya, tapi saya tetap mau selidiki dulu si Zaki ini,’ batin Fikar, yang sedikit melonggarkan rasa sinisnya di hadapan Zaki.


“Gue gak bisa sepenuhnya percaya sama lo, apalagi lo deket-deket sama pacar gue gitu,” ujar Fikar, yang masih ketus saja mengatakan hal ini pada Zaki.


“Maaf, gue gak bermaksud untuk deketin pacar lo. Ini semua demi Kia, gue harus bisa jaga Kia saat gak ada lo atau siapa pun di samping dia. Gue minta tolong Zifa, karena gue masih belum nemu celah untuk deketin Kia, dan jaga Kia dari dekat.” Zaki terpaksa meminta maaf kepada Fikar, agar tidak terjadi salah paham antara dirinya dan juga Fikar.


Fikar terdiam sejenak, ia juga harus memikirkan tentang kondisi kesehatan mental adiknya. Ia juga tidak ingin terjadi sesuatu pada Kia, saat ia atau Zifa tidak berada di sisi Kia. Satu-satunya cara, ia harus bisa memberikan sedikit kepercayaan pada Fikar.


Zaki sedikit berpikir, “Gue kasih jaminan tanda pengenal. Tapi jangan sampai hilang,” ujarnya.


“Ya, ngapain juga gue hilangin kartu sepenting itu,” ujar Fikar, Zaki tak menghiraukan dan malah memberikan tanda pengenalnya pada Fikar, plus kunci cadangan ruangan apartemennya.


“Ini, tanda pengenal dan kunci cadangan ruangan apartemen gue. Lo bisa datang kapan aja lo mau. Gak perlu ketuk pintu, gak perlu nunggu gue bukain lo pintu. Silakan masuk, sesering yang lo mau,” ujar Zaki, sontak membuat Fikar mendelik kaget mendengarnya.


Sedikit banyaknya ia menemukan kesamaan antara Zaki dan juga Zain. Zain juga sudah memercayainya, dan juga mengatakan hal yang sama dengan yang Zaki katakan tadi. Perkataan Zaki tadi mengingatkan ia dengan sosok Zain, yang juga pernah mengatakan hal itu padanya.

__ADS_1


‘Gak mungkin, kenapa ucapan mereka sama?’ batin Fikar, heran dengan kebetulan yang terjadi antara Zaki dan juga Zain.


Memang bukan sebuah kebetulan, tetapi Zaki sudah memiliki senjata kalau saja ia berhadapan dengan Fikar. Zain sudah memberitahu senjata untuk membuat Fikar percaya padanya, agar bisa mempermudah jalannya untuk menjalankan hal ini.


Fikar masih kalut dalam pikirannya mengenai dua orang yang berbeda itu, sementara Zaki hanya bisa tersenyum tipis melihat reaksi yang ia lihat dari sosok Fikar yang berada di hadapannya.


‘Sepertinya dia kebingungan. Ya, Zain memang tahu segalanya tentang Fikar,’ batin Zaki, yang merasa sedikit senang karena bisa membuat Fikar sedikit memercayainya.


Itu tandanya, jalannya untuk melancarkan rencananya mendekati Kia, sudah berjalan dengan mulus.


Fikar mengambil dua jaminan yang Zaki berikan, dan berusaha untuk memercayai Zaki. “Ya sudah, kali ini gue percaya sama lo. Jangan sampai lo bikin gue kecewa, karena gue pastiin lo akan kehilangan dua jaminan ini kalau lo sampai berani macam-macam!” ancam Fikar, Zaki mengangguk kecil mendengarnya.


“Ya, semoga aja gue gak mengecewakan dan bisa ngejaga Kia dengan baik dan benar,” ujar Zaki, yang sebenarnya masih tidak bisa direlakan oleh Fikar.


“Satu lagi, gue juga gak mau kalau sampai lo macem-macem sama pacar gue,” ancam Fikar, Zaki tertawa kecil mendengarnya.


“Tenang aja, cinta di hati gue udah mati. Orang yang gue cintai udah mati, dan gak akan mudah bangkitin rasa cinta gue. Apalagi dengan orang yang udah punya pacar,” ujar Zaki, Fikar masih saja memandangnya dengan sinis.


Fikar menggenggam erat tangan Zifa, membuat Zifa juga membalas genggaman tangannya itu. Mereka saling menatap, dengan Fikar yang berusaha untuk bersikap tenang di hadapan Zifa.


“Aku percaya kamu,” ujar Fikar, membuat Zifa tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2