Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Kebingungan Kia


__ADS_3

Walaupun malu, Kia tetap tidak mau menunjukkan rasa malunya di hadapan Zaki. Ia lebih memilih diam, karena Zaki yang juga nampaknya tidak sadar akan hal yang ia lakukan.


Zaki memandang ke arahnya, “Sebentar ya. Gak buru-buru, ‘kan?” tanyanya, Kia mengangguk sembari tetap menahan rasa malunya. “Okey.”


Zaki melangkah menuju ke arah salah satu stand. Ia memesan menu seperti biasa, yaitu latte dingin. Entah kenapa, Kia menyukai latte dingin di pagi hari. Padahal, itu sangat tidak baik untuk lambungnya, apalagi Kia yang jarang sekali sarapan setiap paginya.


Namun, Kia yang memang menyukai latte sejak kecil, malah bandel dan tetap melakukan kegiatan rutinnya itu.


Zaki kembali ke arah Kia, dengan membawa dua gelas minuman yang baru saja ia pesan. Ia menyodorkannya ke arah Kia, membuat Kia mengambilnya dengan tatapan yang masih menahan malu.


“Latte dingin,” ujar Zaki, Kia buru-buru meminumnya, berusaha menghilangkan rasa malunya di hadapan Zaki.


Zaki tersenyum, lalu duduk pada tempatnya. Ia meletakkan minumannya di atas meja, membuat Kia tersadar bahwa minuman yang ia pesan bukanlah latte seperti dirinya.


“Kenapa bukan latte?” tanya Kia, penasaran dengan pesanan Zaki.


“Gue gak terlalu suka latte,” jawab Zaki, membuat Kia mendelik kaget mendengarnya.


“Waktu itu, kenapa pesannya latte?” tanya Kia lagi, masih penasaran dengan sosok Zaki yang ada di hadapannya.


“Karena lo suka,” jawab Zaki asal, membuat Kia semakin mendelik kaget mendengarnya.


“Kok lo tau kalau gue suka latte?” tanya Kia, Zaki terdiam sejenak mendengarnya.


Tak sadar, ia sudah keceplosan mengatakan hal itu. Ia merasa aneh di hadapan Kia sekarang, tetapi ia berusaha menutupi rasa anehnya itu di hadapan Kia.


“Diminum latte-nya,” suruh Zaki, yang saat ini pun meminum kopi hitam panas yang ia pesan.

__ADS_1


Kia memandang aneh ke arah Zaki, membuatnya semakin bingung dengan keadaan. Ia sangat heran dengan Zaki, karena Zaki sudah mengalihkan pembicaraan mereka. Melihat Kia yang memandang aneh ke aranya, ia hanya tersenyum tak enak, saking bingungnya harus melakukan apa di hadapan Kia saat ini.


Tak ingin ambil pusing, Kia pun kembali meminum latte dingin yang ada di hadapannya. Mereka sejenak menikmati minuman bersama, walaupun tidak ada kata terucap dari bibir mereka. Tersadar dengan jaket yang ada di pangkuannya, Kia pun meletakkan gelasnya lalu mengambil jaket itu untuk ia kembalikan kepada Zaki.


“Ini, jaketnya. Terima kasih waktu itu udah kasih pinjem,” ujar Kia, seraya mengembalikan jaket tersebut kepada Zaki.


Zaki meletakkan gelasnya, lalu mendorong pelan jaketnya untuk kembali ke arah Kia.


“Udah, buat kamu aja jaketnya,” ujar Zaki, membuat Kia heran mendengarnya.


“Kamu?” tanya Kia, Zaki memandangnya bingung.


“Bukan, bukan buat aku, tapi buat kamu,” ujar Zaki.


Kia merasa heran, “Bukan, maksud gue tuh ... lo ngomongnya kenapa aku kamu? Kenapa gak gue lo aja?” tanyanya bingung, Zaki merasa menjadi orang yang sangat aneh.


Kia bingung dengan ucapan Zaki, yang sepertinya sedang salah tingkah. Namun, ia tidak ingin meledek Zaki, karena sebenarnya ia juga sedang salah tingkah di hadapan Zaki.


“Gak ah, ini gue balikin aja. Gue gak biasa nerima apa pun dari cowok,” tolak Kia, Zaki pun menghela napasnya panjang.


“Gak apa-apa, mungkin buat kenang-kenangan dari gue. Tenang aja, itu belum gue pake kok! Alias masih baru,” ujar Zaki, Kia pun memandangnya bingung, karena memang ia tidak biasa menerima apa pun dari lelaki selain Zain.


Saat pertama kali Zain memberikan barang-barang untuknya, Kia juga tidak langsung menerimanya. Mungkin jika Zain mengajaknya makan, ia masih bisa menerimanya.


“Ih benar, Zaki. Gue gak mau nerimanya. Percuma juga, gak gue pake,” tolak Kia lagi, tetapi Zaki masih berusaha untuk tidak menerimanya kembali.


“Ambil aja, Kia. Gue udah niat ngasih, dan minta lo jaga aja. Walaupun gak dipake, yaa ... paling enggak bisa menuhin isi di lemari lo,” ujar Zaki, Kia terdiam sejenak mendengarnya.

__ADS_1


‘Gimana ini? Dia udah bilang gitu, tapi bingung mau gimana,’ batin Kia, merasa bingung dengan keadaan yang terjadi.


Zaki sadar, kalau kemarin ia hanya membayangkan saja tentang menjaga Kia. Namun, saat ini, ia harus mengatakannya di hadapan Kia, karena ia memang harus menjaga Kia.


“Tolong, terima jaket ini ya.” Zaki memohon di hadapan Kia. “Oh ya, gue juga mau jaga lo dari Adnan, atau lelaki yang lo gak suka. Gue mau, lo jangan nolak. Gue pasti akan jaga lo, kok! Gue gak akan biarin siapa pun ngelukain lo, atau nyakitin lo. Ini semua gue lakukan, karena rasa trauma gue kehilangan orang yang gue sayang,” ujar Zaki, Kia sedikit bimbang mendengarnya.


“Kenapa lo sampai peduli banget sama gue, sih? Memangnya gue ini siapanya lo?” tanya Kia, bingung dengan apa yang Zaki lakukan padanya.


“Lo memang bukan siapa-siapa bagi gue, Kia. Tapi apa salahnya gue jaga lo? Kita temenan aja, gak lebih. Wajar dong, kalau temen jagain temennya?” ujar Zaki, yang tidak masuk di logika Kia.


“Wajar, tapi yang membuat gak wajar tuh karena lo laki-laki. Di dunia ini, gak ada pertemanan yang tulus antara lelaki dan perempuan,” ujar Kia, membuat Zaki tersadar dengan hal itu.


‘Kalau gue kasih tau yang sebenarnya, lo pasti gak akan percaya Kia ....’ Zaki terdiam sejenak memikirkan hal yang lebih di luar logika, dari apa yang Kia pikirkan saat ini.


“Ya, gue bisa jamin. Kalau gak ada rasa cinta di antara kita. Gue hanya mau jaga lo, karena lo baru aja kehilangan Zain. Gue memang bukan siapa-siapanya Zain, tapi ... gue bisa jagain lo sampai lo nemuin lelaki yang pantas untuk jadi penggantinya Zain,” ujar Zaki, yang akhirnya mengatakan semuanya kepada Kia.


Kia mendelik, kaget mendengar apa yang Zaki katakan. Ia tidak bisa mengatakan apa pun, hanya saja ia tidak bisa mempercayai apa yang Zaki katakan.


“Gue bingung, Zaki.” Kia mendadak bingung, membuat Zaki juga semakin bingung mendengarnya.


“Kenapa bingung?” tanya Zaki.


Kia menatap nanar ke arah Zaki, “Boleh gue tahu alasannya?” tanyanya.


Zaki terdiam untuk beberapa saat, karena ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Ia tidak mungkin mengatakan kalau Zain yang memintanya untuk menjaga Kia. Zaki belum bisa memberitahukan semuanya kepada Kia, secepat ini.


“Gue ... cuma ingin menjaga lo aja, Kia.” Zaki bingung, tak tahu lagi harus mengatakan apa pada Kia. Ia juga bingung, karena ia merasa sangat kesal, tidak bisa mengatakan yang sejujurnya pada Kia.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2