
HAPPY READING....
“Malam sebelum saya mati, seseorang mengikuti saya, dan berhenti tepat di depan ruangan ini. Setelah Kia memeriksa CCTV di ruangan kontrol tadi, dia akhirnya tahu dan ketika melihat kamu sedang masuk dengan belanjaan kamu tadi, dia pikir kamu yang membunuh saya,” ujar Zain menjelaskan.
Zaki tak habis pikir, karena kejadiannya sama sekali tidak ia perkirakan.
“Saya mohon, kamu lebih berhati-hati lagi. Saya yakin, setelah ini Kia pasti akan kembali lagi, dan menyelidiki tentang orang yang tinggal di ruangan ini. Saya tidak mau semua itu terjadi, dan menimbulkan sebuah kesalahpahaman,” ungkap Zain, membuat Zaki menghela napasnya dengan panjang.
Zaki menepuk keningnya, “Gak nyangka, kejadian ini akan jadi sangat rumit. Saya gak salah apa pun, masih dicurigai hanya karena masalah itu,” gumamnya, sembari menggelengkan kecil kepalanya.
“Saya harap, kamu bisa lebih berhati-hati, dan jangan sampai Kia malah menganggap kamu jadi orang yang membunuh saya,” ujar Zain, berusaha kembali memperingati Zaki tentang hal ini.
Zaki memandang tajam, “Karena sudah seperti ini, saya gak akan menghindari yang ada. Saya akan melakukan sebisa mungkin, untuk membuat Kia tidak berpikir macam-macam mengenai saya,” ujarnya.
Zain tersenyum, “Terima kasih. Sekali lagi, terima kasih.”
Mereka pun saling melempar senyuman, lalu Zaki kembali menyantap makanannya.
***
__ADS_1
Setelah malam itu berlalu, Kia jadi lebih sering kembali ke apartemen Zain. Benar saja apa yang Zain katakan, karena Zaki yang selalu memantau langkah Kia sejak melihatnya di kampus. Zaki tidak berani kembali lebih dulu, sebelum melihat pergerakan Kia.
Kali ini, Kia menuju ke arah apartemen Zain bersama dengan Zifa. Karena Fikar tidak bisa menjemput Kia hari ini, Fikar meminta agar Zifa menemani Kia pulang. Namun, bukannya kembali ke rumahnya, Kia malah mengajak Zifa untuk menuju ke apartemen Zain.
Zifa yang sudah memulai persekongkolan dengan Zaki, lantas saja memberikan kabar kepada Zaki melalui pesan singkat. Hal itu yang membuat Zaki segera membuntuti mereka dari belakang, dan mereka akhirnya sampai di apartemen Zain menggunakan taksi.
Zaki memarkirkan motor sport-nya, lalu segera mengikuti langkah kaki Zifa dan juga Zaskia.
‘Benar kata Zain, Kia lagi-lagi datang ke sini. Entah sudah berapa kali dia ke sini, sejak waktu itu,’ batin Zaki, merasa sangat bingung dengan keadaan.
“Ayo,” ajak Kia, ketika sudah berhasil melewati lobi.
Kia bersama Zifa lebih dulu keluar dari lift, dan ketika melewati ruangan apartemen Zaki, Kia pun berhenti sejenak. Hal itu membuat Zifa merasa bingung.
“Kenapa, Ki?” tanya Zifa bingung.
“Aku ngerasa ... ada yang aneh dari ruangan ini. Aku gak bisa tenang, kalau belum nemuin jawabannya,” jawab Kia, Zifa mendadak bingung dengan apa yang harus ia katakan.
Dari balik dinding sana, Zaki berusaha untuk menyembunyikan diri dari mereka. Namun, telinganya harus dipasang sebaik mungkin, agar bisa mendengar apa yang mereka katakan.
__ADS_1
“Emm ... memangnya kenapa, Ki? Ada apa dengan ruangan ini?” tanya Zifa, yang berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang Kia katakan.
Padahal Zaki sudah menceritakan semuanya kepada Zifa, dan mereka pun sepakat untuk menyembunyikannya dari Kia.
“Ada seseorang yang aneh, yang sepertinya tinggal di sini. Malam sebelum Zain meniggal, sudah ada lelaki yang menguntit dia. Aku lihat di CCTV, ternyata orang yang tinggal di ruangan ini, adalah orang yang menguntit aku waktu itu pakai motor gede,” ujar Kia, membuat Zifa sedikit mendelik mendengarnya.
Zifa juga tahu, orang yang Kia maksud itu adalah Zaki. Namun, sebisa mungkin Zifa menutupinya, karena ia lebih percaya dengan Zaki daripada dugaan Kia yang belum tentu jelas.
“Ah ... ya memang kenapa kalau dia tinggal di sini, Kia? Siapa tahu mereka orang yang berbeda. Jangan sampai membuat keributan, hanya karena dugaan kamu yang tidak beralasan dan memiliki bukti,” ujar Zifa berusaha untuk mengingatkan Kia mengenai hal ini.
Kia tersenyum tipis, “Kak Fikar juga bilang begitu. Aku gak boleh gegabah dan bertindak sembrono dalam hal ini. Tapi aku masih belum puas, kalau gak memeriksa sendiri,” ujar Kia, Zifa merasa semakin bingung jadinya.
Di sisi sana, Zaki sendag menggertakkan gerahamnya. Ia merasa sedikit cemas, karena ternyata Kia memang benar mencurigai dirinya sebagai sosok yang membunuh Zain. Hal itu karena si pembunuh asli berusaha untuk membuka pintu ruangan kamarnya, jadi Kia berpikir kalau pembunuhnya adalah orang yang memiliki kamar tersebut.
Apalagi Zaki sudah sempat menguntit Kia, membuat Kia merasa dugaannya ada benarnya. Zaki merasa terpojok, dan bingung harus mengatakan apa nanti, ketika ia bertemu dengan Kia dan juga Zifa.
‘Sepertinya saya harus pindah ke rumah yang lain lebih dulu, agar tidak mengundang rasa curiga Kia. Saya gak mau Kia tahu, dan malah berpikiran yang macam-macam dengan saya,’ batin Zaki, yang harus berpikir demikian untuk menyelamatkan dirinya, dari dugaan Kia.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1