
Happy reading.....
Zain tertawa kecil mendengarnya, “Ya, kamu terlalu gengsi, buat nolak lelaki setampan dan sepengertian aku,” selorohnya, Kia hanya bisa tertawa mendengarnya.
“Memangnya kamu tampan?” tanya Kia dengan candaannya yang khas, yang bisa membuat Zain menjadi gemas dengannya.
“Aku tampan, masa sih aku cantik?” ujarnya bersilat lidah, “kalau yang cantik, itu kamu,” tambahnya, membuat Alya tersipu malu mendengarnya.
Wajahnya merona di balik boneka yang sedang ia peluk, karena mendengar ucapan Zain yang selalu sukses membuatnya tersipu.
“Ah, kamu mah bisa aja,” gumam Kia, Zain hanya bisa tersenyum mendengarnya.
Sejenak mereka terdiam, tak ada apa pun yang mereka bicarakan lagi. Hal itu mengundang pemikiran negative Kia lagi, dan kini ia pun merasakan kesedihan kembali seperti sebelumnya.
Suara tangisan Kia kembali terdengar, hanya dalam per sekian detik mereka saling terdiam, tak mengatakan apa pun.
__ADS_1
Zain menghela napasnya dengan panjang, ‘Jika terus seperti ini, aku tidak akan pernah beristirahat dengan tenang,’ batinnya, yang merasa keberatan dengan Kia yang terus-menerus menangisi hal yang tidak ia mengerti itu.
“Ada apa lagi, Sayang? Apa ... ada sesuatu yang masih kamu pikirin?” tanya Zain, yang memang selalu sabar menghadapi sikap Kia, yang terkadang masih terlalu kekanakkan.
Kia berusaha menghentikan tangisnya. Ia menarik napasnya dalam-dalam, karena ia merasa sudah sangat sesak memikirkannya.
“Aku ... aku gak mau kehilangan kamu, Zain. Aku gak mau sampai kamu kenapa-napa. Aku ... khawatir sama kamu, entah kenapa aku gak rela dan gak mau semua itu terjadi,” ujar Alya menjelaskan, sebisa mungkin menahan rasa sendunya, agar ia bisa melafalkan setiap perkataannya dengan jelas dan benar.
Zain menghela napasnya dengan panjang, karena rasa khawatir Kia yang berlebihan terhadap dirinya.
Kia menghapus air matanya, “Waktu kita ke kedai es krim tadi, aku gak sengaja dengar berita. Ada seseorang yang dibunuh, hanya karena rasa cemburu. Pikiran aku langsung traveling. Aku--”
“Sudah, gak ada yang perlu kamu pikirin lagi, ya.”
Zain memangkas penjelasan Kia dengan lembut, membuat Kia terdiam seketika mendengarnya.
__ADS_1
Bagaimana bisa, tidak ada yang perlu dipikirkan lagi, jika sedang mengalami rasa takut? Alya bukan tipe orang yang mudah percaya, bahkan dengan perasaannya sendiri.
Ada sesuatu istimewa yang Alya miliki, yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Terkadang kegelisahannya tak beralasan, tetapi seringkali hal-hal kecil itu terus muncul, membuatnya merasa sangat terganggu.
Ya! Sangat terganggu, karena sesuatu yang seharusnya tidak ia pikirkan, menjadi selalu terngiang di pikirannya. Walaupun tak banyak juga yang menjadi nyata, setidaknya ada beberapa kejadian yang menjadi nyata, setelah selalu dipikirkan olehnya.
Kia tidak ingin, semua yang ia pikirkan benar-benar terjadi pada Zain.
Zain menghela napasnya, melonggarkan dasi yang ia kenakan, lalu melepaskannya. Ia bangkit dari sofa tempat ia duduk, lalu mengambil jas hitam yang sudah lebih dulu ia lepas, kemudian membawanya bersama dasi tersebut ke arah ruangan kamarnya.
Karena asyik berbincang dengan Alya, tak sadar ia sampai lupa waktu dan tidak bisa beristirahat lebih awal. Bahkan, sampai sekarang ia belum juga membilas tubuhnya yang lengket, akibat seharian beraktivitas.
“Sayang, aku gak apa-apa sekarang. Nanti juga mudah-mudahan akan baik-baik saja. Kamu jangan khawatir, dan jangan mikir yang macam-macam. Kamu pikirin aja, kejadian indah yang besok akan terwujud,” ujar Zain, berusaha untuk membuat Kia tidak memikirkan hal yang macam-macam.
__ADS_1
BERSAMBUNG....