
Malam ini, Kia bersama dengan Fikar, menuju ke apartemen tempat Zain tinggal. Mereka ingin memastikan sendiri, tentang CCTV yang ada di sekitar apartemen tersebut.
Kia berjalan dengan sangat cepat, sampai Fikar tertinggal jauh di belakang. Ia berjalan menuju ke arah pusat monitor di gendung ini, dengan perasaan yang sangat menggebu.
Fikar hanya bisa menggelengkan kecil kepalanya, saking bingungnya dengan Kia yang berjalan dengan sangat cepatnya.
“Dia cepat banget sih jalannya!” gerutu Fikar, sembari tetap melangkah menuju ke arah Kia melangkah.
Setelah bersusah payah menyusul Kia, akhirnya Fikar bisa berjalan bersebelahan dengan Kia. Ia merasa kesulitan menyeimbangi langkah kaki Kia yang sangat bersemangat.
“Pelan-pelan aja, Kia. Kakak gak bisa nyeimbangin langkah kamu yang excited begini,” ujarnya mengomentari cara Kia berjalan.
Saking penasarannya, Kia sampai tidak memedulikan keadaan kakaknya itu. Yang ia ketahui, ia ingin sekali segera melihat CCTV yang bisa membuatnya menyimpulkan keadaan yang menyangkut kematian Zain.
Setibanya di ruangan kontrol, Kia dan Fikar mengatakan maksud kedatangan mereka ke tempat ini. Mereka menceritakan secara detail, kejadian ini dari awal sampai akhir.
Mereka sangat sigap, dan langsung memeriksakan rekaman sebelum kejadian yang menimpa Zain.
Dengan harapan bisa mendapatkan clue, Kia terus melihat dengan jelas ke arah layar monitor, apa pun yang mencurigakan di layar tersebut.
Perlahan ia melihat, tetapi tak ada apa pun yang bisa ia dapatkan dari rekaman tersebut. Hal itu membuatnya sampai setengah menyerah karenanya.
“Maaf, tidak ada apa pun yang terjadi,” ujar sang operator, membuat semangat Kia menjadi surut karenanya.
__ADS_1
Kendati demikian, Kia masih belum puas untuk terus mencobanya. Ia merasa masih ada harapan, yang bisa membuat mereka mengerti dengan keadaan ini.
“Saya yakin, masih ada clue yang bisa kita ambil dari rekaman CCTV gedung ini. Hanya ini harapan satu-satunya,” ujar Kia dengan semangat yang tinggi.
Mereka pun menghela napasnya, kemudian segera melanjutkan untuk mencari rekaman lainnya.
Mereka mencari di rekaman sehari sebelum kejadian itu. Sejauh ini, mereka sama sekali tidak mendapatkan apa pun. Mereka hanya melihat Zain yang keluar dari ruangan kamarnya, sembari membawa kunci mobil dan juga tas kerjanya.
Di saat yang bersamaan, tetangga sebelah Zain pun keluar dengan pakaian yang sudah rapi. Ia terlihat sangat buru-buru, sampai segera masuk ke dalam lift.
Di rekaman itu, Zain terlihat sedang memperhatikan lelaki yang adalah Zaki.
Kening Kia mengerut, “Ini bukannya ... cowok yang waktu itu pakai motor gede, dan perhatiin aku, ya?” gumam Kia, Fikar memandang dengan jelas ke arah layar.
Karena waktu itu Fikar tidak menyadarinya, ia sama sekali tidak mengetahui yang Kia katakan.
“Kakak gak tau,” gumam Fikar, sembari tetap melihat ke arah layar tersebut.
Mereka tetap terus melihat ke arah layar, sampai akhirnya Zain menghilang lama sekali. Kia sangat tahu, hari itu Zain dan dirinya sedang keluar untuk membeli cincin pertunangan mereka.
“Ini kami pulang larut, Zain sampai di apartemen sekitar pukul 9 malam,” ujar Kia, membuat mereka mempercepat videonya menjadi ke jam 9 malam.
Mereka melihat sejenak, dan tidak menemukan apa pun di sana. Namun, mereka akhirnya melihat Zain kembali dan melangkah ke arah kamarnya, dari arah lift.
__ADS_1
Di sana, seseorang berjaket hitam sedang memperhatikan ke arah Zain. Ia terlihat sedang mengikuti Zain, dan berhenti di depan ruangan sebelah kamar Zain.
Matanya Kia mendelik, saking kagetnya melihat hal ini.
“Lelaki itu ... dia yang ada di kedai sore ini. Tapi kenapa dia berusaha masuk ke kamar yang orang tadi keluar? Apa dia yang barusan keluar dari ruang kamar itu? Apa mereka orang yang sama?” gumam Kia, berusaha untuk berspekulasi tentang apa yang ia ketahui.
Mereka tetap fokus, tak menghiraukan ucapan Kia.
Di dalam rekaman itu, Zain sudah masuk ke dalam kamar apartemen. Pandangan mereka mendelik, terkejut karena melihat lelaki itu yang ternyata melangkah menuju ke arah pintu kamar Zain, dan hendak membukanya.
Namun, lelaki itu menoleh ke arah CCTV, dan tidak jadi melakukannya. Mereka menghentikan rekaman itu sejenak.
“Ini dia wajah dari lelaki itu. Walaupun tertutup masker, tapi masih terlihat jelas dari kedua matanya!” ujar para operator, membuat Kia menjadi sangat penasaran dengan apa yang ia lakukan.
“Kenapa? Dia beneran orang yang membunuh Zain?” gumam Kia, berspekulasi tentang hal itu.
“Kami kurang tahu. Tapi tadi lelaki itu mau masuk ke dalam kamar sebelah tuan Zain. Mungkin saja dia teman dari pemilik kamar, saya tidak tahu juga dan tidak berani menyebutkannya.”
Kia merasa kesal, karena dugaannya adalah lelaki yang memperhatikannya yang sudah membuat Zain sampai celaka seperti ini. Ia tidak akan pernah memaafkan orang tersebut, karena ia sudah tahu apa yang orang itu lakukan pada Zain.
“Gak akan aku maafkan!” gumam Kia dengan pandangan mata sinis ke arah layar, membuat Fikar memandangnya dengan bingung dan sendu.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1