
“Iya, gue pasti bakalan rawat lo, kok! Biar lo cepat sembuh, dan biar lo bisa cepat nepatin janji lo. Tapi kalau lo nanti udah sembuh, jangan lupa lo tepatin janji lo ke gue,” ujar Kia, Zaki pun mengangguk mendengarnya.
“Tentu dong, gue pasti bakalan tepatin janji gue ke lo! Gue nggak mungkin ingkar janji, karena gue bagaikan burung merpati,” ujar Zaki, membuat bingung Kia saat ini.
“Burung merpati? Emangnya kenapa dengan burung merpati?” tanya Kia bingung, membuat Zaki tersenyum mendengarnya.
“Burung merpati ‘kan nggak pernah ingkar janji, dan gue nggak akan ingkar janji ke lo,” ujar Zaki.
Mendengar ucapan Zaki, Kia pun merasa sangat malu ketika ia mendengar ucapan yang sangat romantis baginya. Ia senang sekali Jika Zaki tidak akan pernah ingkar janji dengannya. Karena ia merasa sangat dihargai jika seseorang yang ia percaya tidak mengingkari janjinya padanya.
‘Aku sangat senang mendengarnya, Zaki,’ batin Kia, merasa sangat senang saat ini.
***
Saat ini, jam pulang kampus sudah tiba. Zifa segera keluar dari dalam kelasnya, untuk menuju ke arah rumah sakit. Ia hendak menjenguk Zaki lagi, karena ia yang masih belum bertemu dengan Zaki, yang telah sadar saat ini.
Karena mendapat kabar dari Kia, tentang Zaki yang sudah sadar, Zifa pun segera berangkat menuju ke arah rumah sakit, langsung dari kampusnya. Ia pun bergegas melangkah melewati koridor, sampai akhirnya ia sampai di gerbang kampus. Ia melangkah keluar gerbang, sampai langkahnya terhenti ketika ia melihat ada mobil Fikar yang ada di hadapannya.
Benar saja, ternyata Fikar sedang menunggunya sejak tadi untuk menjemputnya. Karena sudah melihat Fikar yang ada di hadapannya, Zifa pun yang tadinya bingung segera menaiki mobilnya. Karena ia merasa harus pergi bersama dengan Fikar, ini semua demi keselamatannya agar dia tidak mengalami hal yang serupa dengan yang Zaki alami.
Zifa pun masuk ke dalam mobil Fikar, dan melihat Fikar yang saat ini sedang tersenyum saja di hadapannya.
Zifa memandangnya sinis, “Kenapa kamu ngeliatin aku kayak begitu?” tanya Zifa, membuat Fikar tertawa kecil mendengarnya.
“Kok kamu ganti baju, sih? Udah nggak pakai baju warna pink lagi sekarang? Malah pakai baju warna hijau. Memangnya kenapa?” tanya Fikar yang tak henti-hentinya untuk menggoda Zifa.
Namun, Zifa Yang merasa gemas, hanya bisa memandangnya dengan datar saja.
__ADS_1
“Emangnya kenapa sih kalau aku ganti baju? Memangnya ada yang salah, ya? Aku ‘kan males pakai baju warna pink, karena kamu ngeledekin aku terus,” ujar Zifa, membuat Fikar semakin tertawa mendengarnya.
“Memangnya kenapa kalau aku ngeledekin kamu? Kamu lucu banget, gemes, bikin aku pengen godain kamu terus,” ujar Fikar membuat Zifa pun merasa sedikit kesal mendengarnya.
“Ih, aku nggak mau diledekin,” rengek Zifa, membuat Fikar tertawa kecil kembali mendengarnya.
“Iya, aku nggak bakal ledekin kamu, kok. Maaf ya?” ujar Fikar, membuat Zifa mengangguk kecil mendengarnya.
Entah mengapa di antara mereka kini sudah seperti tidak ada lagi perselisihan. Semua terjadi begitu saja, dan mengalir begitu saja. Semua hilang entah ke mana, dan sekarang mereka kembali seperti biasa lagi.
Namun masih ada rasa canggung yang Zifa rasakan, karena hal itu adalah hal yang wajar. Karena Zifa yang harus mati-matian mengganti mood-nya dengan mood yang baru. Ia tidak bisa mengikuti mood yang lama, karena mood lama sudah membuatnya hancur seperti ini. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama lagi, karena sejak pagi sampai sore tadi ia sudah memikirkan matang-matang tentang apa yang saat ini harus ia jalani bersama dengan Fikar.
Fikar pun memandang dalam ke arah Zifa, “Kita mau ke rumah sakit lagi?” tanyanya.
Zifa pun mengangguk kecil mendengarnya. “Iya, kita mau ke rumah sakit lagi. Ayo kita ke rumah sakit sekarang,” ujar Zifa, membuat Fikar tersenyum mendengarnya.
Zifa memandangnya heran, “Memangnya mau ke mana dulu?” tanyanya.
“Entahla, mungkin kamu mau makan dulu atau mau beli baju warna pink dulu?” seloroh Fikar, membuat Zifa lagi lagi gemas mendengarnya.
Zifa pun mencubit Fikar, membuat Fikar merasa geli dan malah tertawa di hadapannya.
“Ah, geli. Ya, maaf! Maafin aku!” ujar Fikar, yang berusaha untuk meminta ampun dari Zifa.
Zifa pun tertawa kecil melihat kelakuan Fikar, yang seperti anak kecil.
“Memangnya kita mau ke mana? Serius nih aku nanyanya?” tanya Zifa.
__ADS_1
Fikar pun menggeleng kecil mendengarnya. “Entahlah, aku tidak tahu. Kalau kamu mau makan, aku pasti bakal antar kamu. Atau kamu mau belanja, atau apa pun itu, aku pasti antar kamu,” ujar Fikar, membuat Zifa merasa malu mendengarnya.
“Kamu beneran mau antar aku?” tanya Zifa, Fikar pun mengangguk mantap mendengarnya.
“Pasti, dong! Aku bakalan antar kamu ke mana pun yang kamu mau!” ujar Fikar, membuat Zifa tersenyum mendengarnya.
“Kalau gitu, bisa minta tolong antarkan aku ke suatu tempat yang belum pernah aku datangi?” tanya Zifa, membuat Fikar memandanginya dengan perasaan yang bingung.
“Memangnya tempat yang belum pernah kamu kunjungi itu, di mana? Kalau aku bisa, aku pasti akan antar kamu ke sana,” ujar Fikar yang tidak ingin bersikap berlebihan di hadapan Zifa.
“Kamu pasti bisa kok nganterin aku ke sana,” ujar Zifa, membuat Fikar semakin penasaran mendengarnya.
“Memangnya di mana?” tanya Fikar lagi, yang merasa sangat penasaran dengan hal itu.
“Aku mau kamu nganterin aku ke pelaminan. Apa kamu bisa?” hujan Zifa, membuat Fikar terkejut mendengarnya.
“Apa aku nggak salah dengar, nih?” tanya Fikar, membuat Zifa menggelengkan kecil kepalanya, dengan senyuman yang terus-menerus merekah di wajahnya.
“Kamu beneran mau menikah dengan aku?” tanya Fikar, Zifa pun mengangguk kecil, membuat Fikar merasa sangat bahagia, hingga melakukan selebrasi sendiri.
“Akhirnya kamu mau juga nikah sama aku!” ujar Fikar, saking senangnya ia merasa ingin sekali memeluk Zifa.
Namun Zifa yang sudah merasakan hal seperti itu dengan Fikar, merasa sangat hati-hati untuk tidak melakukannya kembali.
“Aku sayang kamu, Zifa,” ujar Fikar, membuat Zifa pemandangannya dengan dalam.
“Aku juga sayang banget sama kamu. Maafin aku ya, kemarin-kemarin aku udah bikin kamu menjauh dari aku. Aku benar-benar menyesal sudah melakukannya,” ujar Zifa, membuat Fikar mengusap wajah Zifa dengan lembut.
__ADS_1
“Kamu nggak usah ngomong kayak gitu, Sayang. Yang penting sekarang, kita baik-baik aja dan kita akan melangkah ke pelaminan. Mudah-mudahan semua yang kita harapkan benar-benar terjadi. Kamu doakan saja, supaya kita bisa bersama sampai ke pelaminan nanti,” ujar Fikar, membuat Zifa tersenyum mendengarnya.