
Happy reading.....
“Jadi begitu? Gimana selanjutnya?” tanya Zaki, yang mulai mengetahui sedikit tentang Kia.
Zain memandangnya dengan lekat, “Nanti lama-lama kamu juga akan tahu sendiri. Kamu jaga dia, jangan sampai ada orang yang berbuat asal-asalan terhadap dia. Jangan kasih tau dia, kalau saya yang nyuruh kamu,” jawabnya menjelaskan, membuat Zaki bingung mendengarnya.
“Kenapa saya gak boleh kasih tau ke Kia, tentang hal ini?” tanya Zaki lagi, merasa penasaran dengan hal tersebut.
“Pokoknya jangan. Saya gak mau, Kia jadi merasa sedih karena saya masih memantau dia, walaupun saya sudah gak ada di dunia ini,” jawab Zain, Zaki mengerti dengan apa yang ia maksudkan.
Karena sudah mendengar apa yang Zain jelaskan, Zaki sedikit banyaknya sudah memahami, apa yang ada pada diri Kia. Hanya tinggal menunggu waktunya, mereka pasti akan bertemu.
***
“Sudah gue bilang, jangan pernah muncul lagi di kota ini! Kenapa lo masih aja muncul di kota ini, sih?!” pekik Adnan, yang kesal dengan apa yang anak buahnya lakukan.
__ADS_1
Mereka sedang berbincang, karena Adnan merasa sangat kesal dengan yang anak buahnya lakukan.
Saking bodohnya anak buahnya itu, ia sampai melupakan kalau dirinya sedang menjadi buron, meskipun ia tidak melakukan apa pun pada Zain.
“Maaf, Bos. Gue gak sengaja bawa anak gue ke kedai itu. Habis kayaknya es krimnya enak, jadi gue bawa anak bontot gue ke sana,” ujarnya, berusaha untuk membela dirinya.
“Terserah apa kata lo, deh! Yang terpenting sekarang, lo jauhi kota ini! Kia lagi bersiasat untuk nangkap lo! Apa lo mau tertangkap, hanya karena kebodohan lo aja?!” maki Adnan dengan kesal, si pembunuh bayaran mengerti dengan apa yang dimaksud.
“Baik, Bos. Gue gak akan bertindak gegabah lagi sekarang. Gue juga akan pindah secepatnya dari kota A ini, pindah ke kota B, setelah nanti anak sulung gue selesai pengobatan,” ujarnya, Adnan sama sekali tidak memedulikan itu.
“Gue gak peduli. Yang terpenting, kalau lo tertangkap, jangan sampai bawa-bawa nama gue, atau ... gue gak akan segan buat bunuh lo!” ancam Adnan, membuat pembunuh bayaran itu menelan salivanya.
Adnan tidak segan melakukan apa pun, yang mengganggu jalannya dalam mendapatkan sesuatu.
“Baik, Bos!”
__ADS_1
Sambungan telepon terputus, Adnan memandang ke arah hadapannya dengan sinis.
“Kalau sampai lo ketangkep, gue gak akan segan buat bunuh lo, untuk hilangin jejak!” gumam Adnan geram, yang lalu segera keluar dari ruangan kamarnya.
Hari baru telah tiba. Kia masih saja sedih, dan semalaman memikirkan tentang Zain, yang mungkin saja terbunuh karena orang misterius yang ia lihat itu.
Karena perkuliahan harus tetap dilanjutkan, tidak ada alasan lagi untuk Kia tidak datang ke kampus.
Walaupun masih dalam keadaan berduka, Kia masih tetap memaksakan untuk masuk ke kampus, karena ia sudah banyak sekali tertinggal mata pelajaran.
Padahal, sebentar lagi persiapan untuk menghadapi skripsi, tetapi Kia masih saja memikirkan hal yang membuatnya terpuruk.
Memang bukan salah Kia, memikirkan hal tersebut adalah sesuatu yang normal. Namun, kehidupannya masih terus bergulir, Kia masih harus melanjutkan mimpinya, walaupun tanpa adanya Zain di sisinya.
Pagi-pagi sekali, Kia sudah selesai berpakaian. Ia juga selesai mempersiapkan buku dan juga laptopnya, untuk pelajaran kali ini.
__ADS_1
Walau sedikit lesu, tetapi Kia tetap melakukan yang terbaik, yang ia bisa lakukan.
BERSAMBUNG.....