
Zaki memandang dalam ke arah Kia. “Kia ... pertama gue gak paham apa yang lo maksud. Kedua, gue sama sekali gak dekatin lo karena gue mengincar cinta lo. Ketiga, gue ngelakuin ini semua, karena memang pure trauma gue dan gak mau sampai terjadi lagi dengan siapa pun, gak harus dengan lo. Keempat ... gue sama sekali gak kenal Zain,” ujar Zaki, sontak membuat Kia mendelik kaget mendengarnya.
Sejenak Kia hanya bisa memandang Zaki dengan dalam, membuat keadaan mereka terasa canggung.
“Lo ... sama sekali gak kenal Zain?” tanya Kia, Zaki mengangguk kecil.
“Sebelum ini, gue gak kenal Zain. Tapi karena lo sering sebut-sebut nama Zain, gue jadi tau sekarang,” jawab Zaki menjelaskan.
Kia merasa sangat dilema, karena mendengar ucapan Zaki yang terasa aneh baginya. Semua itu berbanding terbalik, dari apa yang Zaki lakukan padanya. Sifatnya, sikapnya, mirip seperti Zain, tetapi Zaki mengatakan bahwa ia sama sekali tidak mengenal Zain.
Itu membuat Kia merasa dilema.
Kia menggeleng tak percaya. “Gak mungkin, kalau lo gak kenal Zain, kenapa lo bisa tau semua yang pernah Zain lakukan dan katakan? Ya, walaupun gak semuanya mirip, gak semua sikap kalian mirip, tapi setidaknya lo sama Zain memang ada kemiripan,” ujar Kia, merasa heran dengan apa yang terjadi antara Zaki dan Zain.
Zaki menghela napasnya dengan panjang. “Gue gak mau tau siapa itu Zain. Yang gue mau, hanya menjaga lo, sampai lo nantinya menemukan kebahagiaan lo sendiri. Gue janji, gak akan ngelakuin apa pun ke lo, karena memang misi gue untuk menjaga lo,” ujar Zaki, membuat Kia mendelik kaget mendengarnya.
“Maksud lo apa mau ngejaga gue?” tanya sinis Kia, yang masih tidak paham dengan apa yang Zaki katakan.
Zaki menghela napasnya dengan panjang. “Nanti juga lo paham dengan sendirinya. Yang penting sekarang, gue harus bisa jagain lo dari siapa pun yang bikin lo celaka. Gue harus memastikan semuanya baik-baik aja,” ujar Zaki.
Walaupun Kia tidak mengerti apa yang Zaki maksud, Kia hanya diam sembari memandang manik mata Zaki yang penuh dengan ketulusan.
‘Dia tulus banget kelihatannya. Memang gak ada sikap yang macam-macam sih dari dia. Gimana, ya? Dia sepertinya baik sih, tapi aku masih harus jaga-jaga, biar dia gak bisa ngapa-ngapain,’ batin Kia, yang masih was-was mengenai sikap Zaki padanya.
“Kenapa? Masih gak percaya ya sama gue?” tanya Zaki, Kia pun mengangguk kecil mendengarnya.
Zaki sejenak terdiam, “Kasih gue waktu beberapa minggu buat mastiin sikap dan sifat gue ke lo. Gue gak ada maksud apa pun, selain jagain lo. Udah, itu aja.”
“Ya masalahnya lo kenapa tiba-tiba mau ngejaga gue? Apa alasan lo?” tanya Kia, Zaki menatapnya dengan dalam.
‘Sepertinya gak bisa kalau hanya bicara seperti ini. Apa saya harus kasih tau semuanya ke dia?’ batin Zaki, merasa sangat bingung memikirkan jawabannya.
__ADS_1
“Mau bicara sebentar?” tanya Zaki, Kia memandang sinis ke arahnya, lalu mengangguk kecil mendengarnya.
“Sebentar aja lho!” ujar Kia, Zaki tersenyum.
“Ya, sebentar aja.”
Kia dan Zaki sama-sama duduk di tempat yang nyaman, dan kini mereka duduk bersebelahan. Mereka duduk menyamping, sampai mereka bisa memandang satu sama lain.
“Gue ... sebenarnya alasan gue ngejaga lo, karena gue mencari tau latar belakang lo dan Zain,” ungkap Zaki, membuat Kia mendelik mendengarnya.
“Hah? Gimana?” tanya Kia, tidak mengerti dengan maksud Zai.
“Lo sering ngomong tentang Zain, bikin gue cari-cari semuanya tentang kalian. Ternyata, lo dan Zain ... pernah mau tunangan?” ujar Zaki, Kia pun mengangguk kecil mendengarnya.
“ ... dan pertunangan itu gak jadi, karena Zain sudah ....” Zaki tak bisa melanjutkan ucapannya, tetapi Kia mengangguk kecil mendengar ucapan Zaki yang terpotong.
Sedikit banyaknya Kia sudah membuka dirinya di hadapan Zaki. Ia merasa sudah lebih dekat dengan Kia, sehingga ia bisa dengan mudahnya mengatakan hal yang ingin ia ungkapkan di hadapan Kia.
“Adnan?” tanya Kia, Zaki mengangguk kecil mendengarnya. “Dia memang sudah lama mencari gara-gara. Tadi pagi sebelum lo dateng ke sini, dia udah lebih dulu dateng,” ujar Kia menjelaskan.
“Pantesan aja lo marah-marah gak jelas tadi,” ujar Zaki, Kia menghela napasnya panjang.
“Ya, gue marah-marah gak jelas memang. Itu karena dia.”
“Dia memangnya selalu begitu?” tanya Zaki, Kia mengangguk kecil. “Sejak kapan?” tanyanya lagi.
“Sejak sebelum gue kenal deket sama Zain. Waktu itu, gue sama Adnan pernah MOS bareng. Dia deketin gue saat dapet tantangan dari kakak tingkat yang lagi ospek-in kita. Jadi keterusan sampai sekarang,” ungkap Kia menjelaskan.
“Lalu, lo ketemu Zain kapan?” tanya Zaki.
“Setelah 2 hari ospek. Kebetulan dia ngisi kelas untuk pengenalan tentang kampus,” jawab Kia seandanya.
__ADS_1
“Ya, cukup. Gue gak mau tau lebih jauh lagi,” ujar Zaki, membuat Kia memandangnya dengan sinis.
“Apaan sih?” tanya Kia sinis karena kesal dengan sikap Zaki.
“Apaan apanya? Tadi ‘kan gue bilang mau bicara sebentar. Nanti kalau lo bicara soal Zain, pasti bakalan lama,” seloroh Zaki, membuat Kia merasa kesal mendengarnya.
“Jangan mulai deh, Zaki!” ujar Kia dengan gemas, membuat Zaki tertawa kecil mendengarnya.
“Iya iya.” Zaki memandang Kia dengan dalam. “Ngomong-ngomong kita belum kenalan dengan baik dan benar,” ujarnya yang lalu menyodorkan tangannya ke arah Kia.
Kia terpaku melihat ke arah telapak tangan Zaki yang disodorkan.
“Gue Zaki, pengen kenal deket dan temenan sama lo. Apa boleh?” ucap Zaki, membuat Kia memandangnya dengan bingung.
Sejenak Kia memandang Zaki dengan bingung. Ia tidak mengerti, karena ia sama sekali tidak merasa keberatan, jika Zaki ingin berteman dengannya.
Kia menjabat tangan Zaki. “Ya, nama gue Zaskia. Gue gak ada alasan untuk nolak pertemanan ini, selama itu positif,” ujar Kia dengan lugas, membuat Zaki tertawa kecil mendengarnya.
“Pasti positif dong.” Zaki mengucapkan hal yang sebenarnya tidak terlalu penting bagi Kia.
Mereka sama-sama melepaskan tangannya, dan saling melontarkan senyuman satu sama lain.
“Oke kalau gitu ... gue pamit dulu,” pamit Zaki, Kia merasa tidak rela membiarkan Zaki pamit pulang.
“Yah ... nanti aja pulangnya ....” Kia berusaha menahan Zaki, karena merasa sudah menemukan teman baru.
Namun, Zaki masih sempat tersenyum di hadapan Kia. “Kenapa lo malah jadi gak rela gue pergi? Hayooo ....”
Kia merasa malu mendengarnya, “Ih, apaan sih!” ujarnya kesal, yang merasa tidak seperti biasanya Zaki melakukan hal seperti ini.
BERSAMBUNG....
__ADS_1