
Happy reading.....
''Makasih, bawa balik lagi aja bunga sama es krimnya,” ucap Kia dengan ketus, membuat Adnan kaget mendengarnya.
Tak hanya Adnan, Fikar pun merasa terkejut, saking kagetnya mendengar jawaban dari Kia, yang terdengar sangat ketus itu. Walaupun Kia tidak menyukai Adnan, bukan berarti ia bisa bersikap seenaknya saja. Terlebih lagi di hadapan Fikar.
Fikar memandang Kia dengan sinis, “Kia ... jangan seperti itu. Biar bagaimanapun juga, Adnan ke sini datang baik-baik. Dia mau jenguk kamu, sampai bawain bunga dan es krim segala. Harusnya kamu bersikap baik sedikit sama dia,” ujar Fikar, berusaha untuk menasehati Kia.
Namun, Kia hanya diam sembari memalingkan wajahnya dari mereka. Adnan tersenyum, berusaha untuk mengerti keadaan Kia, yang saat ini sedang terluka.
“Ah, gak apa-apa, Kak. Kia mungkin lagi capek,” ujar Adnan yang lalu menyodorkan barang bawaannya kepada Fikar.
“Ini, saya kasih ke Kak Fikar aja.”
Fikar memandangnya dengan tatapan tak enak,
“Terima kasih ya, Adnan.”
Setelah menerima pemberian dari Adnan, Fikar pun memandang ke arah Kia.
“Kia, kamu mau ke mana hari ini? Biar Kakak antar nanti,” ujarnya, Kia tak menggubris ucapan Kakaknya itu.
Melihat reaksi Kia, Fikar hanya bisa menghela napasnya dengan panjang.
“Gak baik kamu terus diam di kamar. Lebih baik kita jalan-jalan. Kamu mau ke mana? Biar Kakak antar,” ujarnya, Kia menoleh ke arah Fikar dengan tegas.
“Ya udah, tolong antarkan aku ke kedai es krim, tempat biasa aku dan Zain makan es krim!” ujarnya, sontak membuat Fikar dan Adnan terkejut mendengarnya.
__ADS_1
“Hey, Adnan sudah membelikan kamu es krim. Mau apa lagi kamu ke tempat jual es krim?” ujar Fikar mengingatkan Kia, tentang es krim yang sudah Adnan bawakan untuknya.
“Gak, aku gak mau es krim yang ini. Aku mau makan es krim, di tempat biasa aku makan sama Zain!” ujar Kia kukuh, membuat Adnan menyeringai mendengarnya.
“Ah ... ya sudah, biar saya aja yang antar Kia, Kak. Kebetulan, saya ingin mengajak Kia jalan-jalan juga.
Sekalian saja, biar ada tujuan,” ujar Adnan, mengajukan diri untuk mengantarkan Kia.
Fikar memandang Kia dengan bingung, “Bagaimana Kia? Kamu mau diantarkan Adnan?” tanyanya, yang bertanya lebih dulu pada Kia.
Bagi Fikar, kenyamanan Kia tetap nomor satu.
“Terserah, yang penting ... aku mau ke sana sekarang!” ucap Kia dengan tegas, membuat Adnan senang mendengarnya.
‘Akhirnya, gue bisa punya kesempatan buat jalan sama Kia. Pelan-pelan, lo pasti akan lupa sama yang namanya Zain!’ batin Adnan, yang merasa ada harapan sedikit, untuk mendekati Kia.
Selama ini, ia sama sekali tidak memiliki harapan, untuk mendekati Kia. Maka dari itu, pada kesempatan kali ini, sebisa mungkin Adnan memanfaatkannya dengan baik dan benar.
Fikar menepuk bahu Adnan, “Jaga Kia, ya! Kalau ada apa-apa, kabarin.”
Adnan mengangguk kecil mendengarnya, “Pasti.”
Fikar pun keluar dari ruangan kamar Kia, membiarkan mereka berdua di sana.
Melihat kepergian Fikar, Adnan pun memandang ke arah Kia dengan dalam.
“Kia, kamu mau jalan kapan?” tanya Adnan dengan lembut.
__ADS_1
Namun bagi Kia, tidak ada yang bisa menandingi kelembutan yang Zain berikan padanya.
“Besok!” ujarnya ketus, yang lalu segera pergi ke arah luar ruangan kamarnya.
Adnan tertawa kecil, sembari mengikuti arah Kia berjalan.
.
.
Siang ini, lelaki itu bangun dari tidurnya. Perlahan matanya ia buka, dan menyadari kalau ternyata dirinya tertidur di sofa apartemennya.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar, sembari berusaha untuk mendapatkan kembali kesadarannya.
Tangannya ia buka, dan terkejut melihat sosok arwah yang ia temui saat di pemakaman kemarin sore.
Ya! Zain masih di sana, menunggu sampai lelaki itu bangun dari tidurnya. Ia tidak bisa meninggalkan tempat ini, karena ia merasa sangat senang berada di sini.
“Ah!!” teriak lelaki itu, yang saking terkejutnya sampai meloncat dari sofanya.
Alhasil, lelaki itu pun tersungkur ke bawah lantai apartemennya. Zain hanya bisa memandangnya dengan senyuman, karena ia tidak menyangka, dirinya bahkan bisa membuat seseorang ketakutan sampai seperti itu.
“Halo,” sapa Zain, lelaki itu pun langsung bangkit, dan berdiri di hadapan Zain.
“Mau apa kamu ke sini, hah? Kenapa kamu ngikutin saya?” tanyanya masih dengan perasaan takut.
“Tidak ada maksud apa pun. Saya hanya ... hanya ingin dekat sama kamu, Zaki.” jawab Zain, sontak membuat lelaki itu mendelik kaget mendengarnya.
__ADS_1
Lelaki yang diketahui bernama Zaki itu, menunjuk kaget ke arah Zain. “Tau dari mana kamu nama saya?” tanyanya.
BERSAMBUNG.....