
Beberapa saat berlalu, mereka sama-sama tidak bersuara. Hal itu membuat Zaki bingung, dan entah mengapa ia jadi merasa canggung sendiri di hadapan Kia.
“Kia? Are you there?” tanya Zaki, yang memastikan keadaan Kia.
“Ya, I’m here. Gue cuma lagi mikir aja kata-kata yang tepat,” jawab Kia, membuat Zaki memandang ke arah hadapannya dengan bingung.
“Masih lama, gak? Kalau masih lama, gue tiduran lagi,” ujar Zaki, membuat Kia tersadar memang dirinya lama sekali mengatakan hal itu di hadapan Zaki.
“Emm ... enggak. Tapi kalau mau tiduran lagi, ya gak apa-apa.” Kia berusaha untuk memberikan pilihan kepada Zaki.
Zaki terdiam sejenak, lalu segera duduk di pinggir ranjang tidurnya. “Gue gak tiduran. Udah, sekarang lo ngomong aja. Lo kenapa? Lagi butuh apa?” tanyanya, membuat Kia kembali terdiam mendengarnya.
Di ujung sana, Kia terlihat sedang meringkuk di atas ranjang tidurnya. Ia terlihat sendu, karena seharian ia memikirkan apa yang tidak harus ia pikirkan.
“Zaki ... gue mau kita ketemu sekarang,” ujar Kia, sontak membuat Zaki mendelik kaget mendengarnya.
“Apa? Ketemu? Sekarang?” tanya Zaki bingung, membuat Kia menghela napasnya panjang.
“Ya, gak bisa ya? Ya udah deh kalau gak bisa—”
__ADS_1
“Bukan gitu, Kia ....” Zaki memangkas ucapan Kia, membuat Kia berubah sikap.
“Ya habis gimana? Kalau gak bisa, ya gak apa-apa, gue juga gak maksa lo kok!” ujar Kia sedikit ketus, membuat Zaki menghela napasnya dengan panjang.
“Bukan gitu ... pasti ada alasannya, kenapa lo sampai ngajak gue ketemu duluan. Biasanya gue yang harus datang ngejar-ngejar lo,” ujar Zaki, mengatakan hal yang memang sebenarnya ia rasakan.
Kia menghela napasnya, “Ya ... gue mau ngajak ketemu aja. Emangnya gak boleh?” tanyanya, membuat Zaki berada di keadaan yang serba salah.
“Kenapa memangnya? Lo tinggal jawab doang, apa alasan lo ngajak gue ketemu. Karena ini tuh mendadak banget. Gue sampai bingung harus gimana,” ujar Zaki, Kia pun mendadak menjadi kesal dengannya.
“Gak usah bingung napa, sih! Gue ‘kan cuma mau ngajak lo ketemu, lo tinggal bilang iya atau enggak, apa susahnya sih?” bentak Kia dengan kesal, membuat Zaki malah jadi semakin bingung mendengarnya.
“Lah lo kenapa kesel gitu sama gue? Jawab dulu, alasan lo apa ngajak gue ketemu? Terus mau ketemu di mana kita, biar jelas semuanya. ‘Kan gak lucu kalau tiba-tiba gue gak tau nih, terus misalnya lo mau ngajak gue kondangan malah gue pakai baju yang biasa gue pake, lah ‘kan gak lucu? Salah dress code gue!” gerutu Zaki, membuat Kia merasa kesal sendiri mendengarnya.
Zaki tertawa kecil, “Lo sih aneh, kenapa gak jelas gitu? Gue ‘kan cuma nanya, mau apa dan mau ke mana? Biar gue bisa cocokin dress code gue,” ujar Zaki, membuat Kia merasa sangat kesal mendengarnya.
“Udah, intinya lo mau apa nggak? Kalau nggak mau ya nggak apa-apa! Gue bisa kok pergi sendiri,” ujar Kia yang malah saat ini merajuk dengan Zaki.
Zaki merasa bingung, karena ternyata Kia memiliki sifat yang seperti ini. Dia sangat berbeda dengan sifat dari kekasih kakaknya, yang sangat ia sukai itu. Namun, biar bagaimanapun juga, Zaki mengerti kekasih kakaknya itu berbeda dengan Kia, yang saat ini ia hadapi. Dia tidak bisa menyamaratakan semua orang, karena ia sadar setiap orang yang ia temui pasti sangat berbeda karakteristiknya.
__ADS_1
Saat ini, yang Zaki perlukan hanya memperbanyak stok rasa sabar, untuk menghadapi Kia sehari-harinya.
“Kia, sekali lagi gue kasih tau ke lo. Harusnya lo itu kasih tau ke mana tujuan kita, apa yang akan kita hadapi, kita mau datang ke pertemuan atau enggak. Lo harus bilang, sebelum lo ngajak gue. Nih ya, gue kasih tahu, gue bukan tipikal orang yang berjiwa besar untuk menerima semua kritikan yang mereka semua kasih ke gue. Kalau gue salah kostum, gue pasti bakalan malu banget sih! Dan gue nggak mau semua itu terjadi sama gue. Gue berharap lo ngerti lah maksud gue, jangan bikin gue malu karena salah kostum. Kita bisa menanggulanginya dengan cara lo bilang ke gue, tujuan kita apa dan ke mana. Udah, sesimple itu,” ujar Zaki, membuat Kia semakin kesal mendengarnya.
Karena tidak ada pilihan, Kia pun akhirnya memutuskan untuk memberitahu maksud dan tujuannya kepada Zaki, agar Zaki tidak melulu bertanya padanya.
“Oke, oke. Gue kasih tahu! Gue mau ngajak lo ketemu itu, karena gue pengen mengenal lo lebih deket. Kita nggak mau kondangan seperti yang lo bilnag. Kita nggak mau ngehadirin acara pesta atau apa pun itulah yang lo bilang. Pakai acara salah dress code atau apa segala macam. Gue nggak mau ngajak ke pertemuan apa pun, karena kita bukan siapa-siapa ya. Gue cuma mau kita ketemu aja,” ujar Kia, sontak membuat Zaki mendelik kaget mendengarnya.
“Apa? Lo mau kenal gue lebih dekat?” tanya Zaki, yang sempat bingung dengan ucapan yang Kia katakan.
“Jangan salah sangka dulu! Ya, gue mau ngajak ketemu karena gue mau kenal lebih dekat sama lo. Karena sekarang kita ‘kan udah jadi temen. Jadi temen harus kenal lebih dekat sama temennya. Gue nggak mau tujuan lo untuk menjaga gue, cuma sekadar ucapan dan perkataan lo aja. Gue mau lo buktiin, kalo lo tuh pengen bener-bener deket sama gue, pengen lindungin gue, pengen ngejaga gue, nggak cuman asal perkataan busuk aja!” ujar Kia, membuat Zaki keberatan mendengarnya.
“Eh gue nggak ngomong ngasal-ngasal, ya! Gue emang beneran pengen ngejaga lo! Dan omongan gue tuh nggak busuk, ya! Gue kebanyakan nepatin janji dan berusaha untuk nepatin janji gue ke orang lain. Gue berusaha untuk megang omongan gue. Gue nggak seperti cowok-cowok pada umumnya, ya!” bentak Zaki, membuat Kia malah terpacu untuk membuat Zaki jatuh.
“Lo ... bukan lelaki normal?” tanya Kia, sontak membuat Zaki mendelik kaget mendengarnya.
“Gue? Jelas lelaki normal lah!” bentak Zaki, Kia hanya bisa memandangnya dengan datar.
“Ya itu, kenapa lo gak kayak mereka? Biasanya lelaki ‘kan selalu ngecewain, buaya!” cela Kia, membuat Zaki kesal mendengarnya.
__ADS_1
“Justru mereka yang gak normal! Omongan lelaki itu harus dijaga! Jangan malah permainkan perasaan hati wanita! Salah, salah! Hilangkan persepsi yang seperti itu! Lelaki itu menyayangi, bukan menyakiti.” Zaki menjelaskan kepada Kia, membuat Kia hanya bisa diam mendengarnya.
“Terus? Maksud perkataan lo apa?” tanya Kia.