
Happy reading....
''Saya gak sengaja. Saya pengen ngobrol sama kamu, jadi tadi saya masuk aja ke kamar kamu,” ucap Zain, yang sudah mulai terbiasa dengan ucapan kasar dari Zaki.
Zaki kesal, terdiam sejenak untuk menahan rasa kesalnya pada arwah gentayangan yang satu ini.
“Keluar sekarang!” ujar Zaki tegas, Zain menghela napasnya dengan panjang.
“Kamu malu karena ada saya di sini? Tenang aja, arwah tidak memiliki nafsu. Apalagi kamu juga lelaki.
Mana mau saya sama kamu,” seloroh Zain, membuat Zaki tetap kukuh memandangnya sinis.
“Tetap saja saya malu! Udah sana keluar dari sini! Saya mau pakai baju!” bentak Zaki lagi, Zain tersenyum mendengarnya.
“Jadi, kalau kamu sudah selesai pakai baju, saya boleh masuk lagi ke kamar?” tanya Zain, Zaki mendelik kesal mendengarnya.
“Enggak!” bentak Zaki, Zain melipat kedua tangannya.
“Ya sudah, saya gak akan keluar dari sini. Kalau kamu gak izinin saya buat masuk lagi, dan gak mau turutin kemauan saya!” ujar Zain dengan nada yang mengancam, membuat Zaki merasa geram mendengarnya.
“Arwah ini!!” gumam Zaki kesal, lalu menatap Zain dengan tatapan yang kesal. “Mau kamu apa, hah?” tanyanya, Zain tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
“Masih permintaan yang sama. Saya mau kamu jaga Kia. Saya gak bisa selalu di sisi Kia sekarang,” jawab Zain, membuat Zaki mendelik tak terima mendengarnya.
“Gak akan pernah!” bentak Zaki kesal.
“Ya sudah, saya gak akan keluar dari sini!” ancam Zain lagi, sontak membuat Zaki mendelik tak keruan mendengarnya.
Mendengar ucapan Zain itu, Zaki merasa sangat canggung jadinya. Ia tidak bisa melakukan apa yang Zain pinta, tetapi ia juga tidak bisa membiarkan Zain untuk terus menggangu kehidupannya.
Zaki memejamkan matanya, berusaha untuk membuat dirinya menjadi tenang. Setelah mendapatkan ketenangannya, Zaki memandang tajam ke arah Zain.
“Ya sudah, kalau kamu gak mau keluar dari sini, biar saya aja yang keluar!” bentak Zaki, yang langsung mengambil pakaiannya dan segera keluar dari ruangan kamarnya itu.
“Dia kenapa gak mau bantu saya, sih?” gumam Zain, yang merasa sangat tidak mengerti dengan yang Zaki lakukan.
Di sana, Zaki sudah menutup dan mengunci kamar mandi depan, dengan sangat rapat. Ia sampai memukul pintu kamar mandi tersebut, saking kesalnya ia dengan sosok arwah penasaran itu.
“Awas dia! Udah gue kunci rapat-rapat! Dia gak akan bisa masuk lagi ke sini!” gumamnya geram, yang lalu segera berbalik untuk memakai pakaiannya.
“Halo,” sapa Zain, yang ternyata sudah berada di dalam ruangan kamar mandi tersebut.
Zaki terkejut, karena ia melihat Zain lagi di dalam kamar mandinya itu. Ia lupa, kalau Zain yang sedang ia hadapi adalah arwah, yang bisa menembus dinding.
__ADS_1
“Astaga ... kenapa di mana-mana ada kamu, sih?!” pekik Zaki, yang merasa sangat bingung dengan keadaan ini.
“Arwah bisa menembus dinding,” ujar Zain, membuat Zaki terdiam sejenak mendengarnya.
Zaki menepuk keningnya keras, “Sssshhh ... keluar!” pekiknya kesal, Zain menggelengkan kepalanya.
“Tidak, sampai kamu setuju untuk menjaga Kia,” ujar Zain, dengan sedikit nada paksaan.
“Lagi-lagi karena gadis itu!” geram Zaki, yang merasa sangat kesal mendengarnya.
Zaki terdiam, memandang ke arah Zain dengan penuh rasa kesal. Jika seperti ini terus, kehidupan Zaki tidak akan pernah tentram.
“Oke! Saya nyerah! Saya akan turuti semua yang kamu mau! Sekarang, kamu keluar dulu dari sini! Saya mau pakai baju!” ujar Zaki dengan tegas, membuat Zain tersenyum mendengarnya.
“Bagus, keputusan yang tepat.”
Zain pun keluar dari ruangan tersebut, dengan menembus dinding kamar mandi, membuat Zaki mendelik kaget melihatnya.
“What?! Dia beneran arwah gentayangan!!” pekik Zaki, yang kali ini benar-benar percaya, dengan apa yang ia lihat.
BERSAMBUNG....
__ADS_1