Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Perhatiin Kia


__ADS_3

Happy reading.....


“Zain sudah tidak ada, Kia. Jangan gantungkan hidup kamu lagi sama dia. Mulai sekarang, biar Kakak yang antar kamu ke kampus,” ujar Fikar, Kia memandangnya dengan sendu.


“Tapi aku ngerasa kalau Zain masih ada disekitar aku, Kak. Bahkan saat ini, aku masih merasakan kehadiran dia,” sanggah Kia, membuat Fikar lagi-lagi menghela napasnya dengan panjang.


Kia benar, saat ini Zain sedang berdiri di sekitar Kia, sembari memandanginya dengan sendu. Firasat Kia tidak salah, Zain ada di sini saat ini.


‘Kia ... benar kata Fikar. Jangan gantungin diri kamu sama aku lagi. Aku sudah gak bisa melakukan itu semua lagi sekarang,’ batin Zain, sembari memandang sendu ke arah Kia.


Mereka tak bersuara, beberapa saat.


Kia tak sengaja melihat seseorang dengan motor besarnya, sedang memperhatikan ke arah mereka. Ia menajamkan pandangannya, dan melihat orang itu segera pergi dari sana.


Melihat Kia yang memandang ke arah sana, Fikar menjadi penasaran dengan apa yang ia lihat.


“Ada apa, Kia? Apa yang kamu lihat?” tanya Fikar.

__ADS_1


Kia merasa ada yang aneh, dengan orang yang sedang memperhatikannya itu.


“Ada yang perhatiin aku, Kak!” jawab Kia, membuat Fikar mendelik kaget mendengarnya.


Fikar memandang sinis ke arah yang Kia tunjuk, tetapi tidak ada siapa pun di sana.


“Mana? Gak ada siapa-siapa,” ujar Fikar, yang tak melihat orang yang sebelumnya ada di sana.


“Tadi, ada orang yang pakai motor gede, terus perhatiin aku dari sini,” ucap Kia.


Zain menghela napasnya dengan panjang, karena ternyata Kia melihat sosok Zaki, yang ia minta untuk datang melihat rumah Kia.


Selama ini, Zain setengah tidak percaya dengan apa yang Kia katakan. Banyak sekali firasat buruk, yang Kia katakan padanya. Namun, ia sama sekali tidak berpikir serius tentang itu.


Fikar mengambil sikap tegas, “Ya sudah, jangan takut. Ada Kakak di sini. Kakak antar kamu ke kampus sekarang, ya!” ujarnya, Kia memandangnya dengan anggukkan kecil, menyetujui apa yang Fikar katakan.


Mereka pun pergi ke kampus, dengan perasaan yang sangat was-was.

__ADS_1


***


Mereka sudah sampai di kampus. Kia sangat ragu, antara masuk dan kembali ke rumahnya.


Hanya dengan melihat gedung kampusnya saja, sudah membuat Kia merinding. Kia terus teringat dengan Zain, karena di sini adalah tempat di mana mereka sering bertemu satu sama lain.


Perjuangan Zain selama beberapa tahun ini, seakan terasa sia-sia. Jika Kia tahu kejadiannya akan menjadi seperti ini, ia pasti akan menerima Zain sejak awal, dan tidak akan sungkan dengan yang Zain lakukan padanya.


‘Zain, maafin aku karena aku gak langsung nerima kamu saat itu. Aku ngerasa bersalah. Kalau seandainya waktu itu aku langsung nerima kamu, semua kejadian ini gak akan pernah terjadi,’ batin Kia, sembari memandang sendu ke arah gedung kampusnya.


Fikar memandang ke arah Kia, “Gak jadi masuk?” tanyanya.


Kesadarannya kembali. Ia memandang ke arah Fikar dengan senyuman yang ia paksakan, “Jadi, kok.”


Fikar tersenyum, “Nanti sore, Kakak jemput kamu di sini. Jangan pulang sama siapa pun, inget!” ujar Fikar, membuat Kia mengangguk kecil mendengarnya.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian ya guys😘😘


__ADS_2