
“Makasih udah bawain gue makan siang,” ujar Kia dengan lembut, tetapi wajahnya ketika berubah ketus kembali ketika sudah mengucapkan kata terima kasih pada Adnan.
“Ya udah, gue sekarang mau jenguk Zaki. Boleh nggak gue ke ruangan Zaki sekarang?” tanya Adnan, membuat Kia merasa risih, tetapi ia tidak bisa menolak apa yang Adnan inginkan, karena yang Adnan inginkan tidaklah merugikan dirinya dan juga tidak merugikan Zaki juga.
“Ya udah, ayo ikut gue!” ujar Kia, yang mulai menurunkan egonya.
Mendengar Kia yang mengatakan hal itu, Adnan pun tersenyum sumringah lalu segera mengikuti ke mana Kia melangkah.
Mereka pun tiba di ruangan rawat Zaki, membuat Adnan merasa sangat senang ketika Kia sudah melakukan hal yang lembut di hadapannya. Ini adalah kali pertama Kia melakukan hal yang lembut di hadapannya, sehingga ia merasa hatinya berbunga-bunga ketika Kia melakukan hal itu padanya.
‘Jadi seperti ini rasanya bermanja-manja dengan Kia? Dia sangat lembut, pantas saja Zain betah sama dia,’ batin Adnan, yang malah semakin dalam menyukai sosok Kia.
Kiavterlihat sedang membuka pintu ruangan Zaki. Zaki pun menoleh ke arah pintu, dan tersenyum ketika melihat Kia kembali. Namun senyumannya itu luntur seketika, saat ia melihat Adnan yang ada di belakang Kia.
“Zaki, ini ada Adnan. Katanya dia mau jenguk lo,” ujar Kia, membuat Adnan memandangnya dengan ketus.
“Ngapain dia jenguk gue? Nggak usah jenguk gue, gue gak perlu dijenguk siapa pun!” bentak sinis Zaki, sontak membuat Adnan merasa terkejut dan bingung mendengarnya.
‘Apa dia tahu, kalau gue yang nyewa berandal itu buat nusuk dia?’ batin Adnan yang merasa sangat bingung saat ini, kalau saja Zaki mengetahui, bahwa dialah yang merupakan dalang atas kejadian yang menimpa Zaki itu.
Kia memandang ke arah Zaki dengan bingung, “Memangnya ada apa dia nggak boleh datang? Dia kenapa memangnya?” tanya Kia, yang masih belum tahu kalau yang menyuruh berandal itu untuk menghajar dan menghabisi Zaki, adalah Adnan.
__ADS_1
Namun, Zaki masih tidak ingin memberitahukan semuanya, karena ia masih belum memiliki bukti yang otentik dengan hal yang Adnan lakukan padanya.
‘Jangan, belum sekarang. Gue masih harus cari bukti buat ngasih tahu ke Kia kalau Adnan adalah dalang dari semuanya,’ batin Zaki, yang merasa harus membongkar semua yang Adnan lakukan.
“Nggak apa-apa, gue nggak suka aja ada orang yang ngejenguk gue saat lagi sakit. Intinya bukan cuma ke dia aja, tapi ke teman-teman yang lain pun gue nggak suka. Karena gue nggak suka keramaian, gue mau tenang,” jawab Zaki membuat Kia merasa heran mendengarnya.
Kia pun memandang ke arah Adnan, “Lo udah denger, ‘kan? Gue bukannya nolak lo, tapi Zaki sendiri yang bilang dia nggak mau nerima lo, dan nggak suka kalau dijenguk begini,” ujarnya, membuat Adnan pun merasa gugup mendengarnya.
“Ya udah, gue taruh buah-buahannya di sini aja ya,” ujar Adnan yang bersiap untuk pergi dari sana.
“Nggak usah, buahnya dibawa lagi aja. Gue juga nggak makan buah kok. Buah-buahan yang Kia beli juga udah cukup,” tolak Zaki, membuat Adnan merasa kesal mendengarnya, tetapi ia harus menahan rasa kesal itu, agar dia tidak dicap buruk di hadapan Kia.
Adnan merasa kesal, karena ternyata Zaki tidak menerimanya seperti itu dengan cara yang tidak hormat. Ia merasa kesal, tapi dia juga tidak bisa menunjukkan amarahnya di hadapan Kia. Ia harus menjaga nama baiknya, agar Kia tidak merasa benci kepadanya.
‘Sial, Zaki malah nggak nerima gue! Gue udah effort buat kasih dia perhatian, agar hati Kia bisa jadi milik gue. Yang ada gue malah dimentahin sama dia!’ batin Adnan, yang merasa kesal dengan yang Zaki lakukan padanya.
Sementara itu di sana, Kia merasa bingung dengan apa yang Zaki lakukan terhadap Adnan. Karena Adnan datang dengan baik-baik, tetapi Zaki menolaknya dengan ketus, sehingga membuatnya merasa tidak mengerti dengan alasan yang Zaki lakukan.
“Kenapa sih, lo nolak Adnan buat jenguk lo? Apa karena lo masih kesel, karena waktu itu Adnan godain gue?” tanya Kia, membuat Zaki merasa bingung mengatakan alasannya.
Zaki tidak bisa mengatakan yang sejujurnya pada Kia, karena ia masih belum memiliki bukti bahwa Adnan-lah yang sudah mengatur semua kejadian ini. Adnan hanya berpura-pura dan menjadikan sebuah gimik di hadapan Kia, agar Kia merasa simpatik dengannya.
__ADS_1
Namun Zaki tidak bisa mengatakan hal itu. Ia hanya bisa menghela napasnya panjang, dan memandang dalam ke arah Kia.
“Mungkin apa yang lo bilang ada benarnya juga,” ujar Zaki yang terpaksa menggunakan alasan itu, untuk membuat Kia diam.
Namun bukannya membuat Kia diam, jawaban yang Zaki lontarkan malah membuat Kia merasa penasaran.
“Lho, memangnya kenapa kalau dia godain gue? Lagian ‘kan dia sekarang gak godain gue, dia mau jenguk lo dan ngasih makan siang buat gue. Dia setidaknya punya effort lah buat kasih kita perhatian. Walaupun dia orang yang ngeselin, tapi dia udah ada niat baik buat ngelakuin ini ke kita,” bela Kia, yang berusaha untuk membela Adnan di hadapan Zaki.
Zaki mengubah gimiknya untuk menetralkan suasana ini, “Oh ... jadi sekarang lo udah ngebelain Adnan nih, ceritanya?” seloroh Zaki, membuat Kia merasa terkejut mendengarnya.
“Apa? Gue nggak ngebelain Adnan, kok! Gue cuman ngasih tau aja ke lo, kalau apa yang Adnan lakuin tuh butuh effort yang banyak, lho! Dia sampai rela mungkin nggak masuk kelas, ngeluarin duit, tenaga, bensin, buat datang ke sini, buat ngasih buah-buahan dan juga makan siang buat gue. Jadi menurut gue, lo lumayan keterlaluan sih kalau nggak nerima effort dia,” ujar Kia menjelaskan, membuat Zaki serba salah mendengarnya.
“Ya, it's me. Mau bagaimana lagi? Gue ya begini. Gue kalau sekalinya nggak suka sama orang, gue bakalan terus nggak suka, sampai kapan pun. Sampai gua lihat dia benar-benar berubah, dan nggak bikin ulah lagi, baru bisa gue pertimbangin,” ujar Zaki, membuat Kia memandangnya dengan sinis.
“Jangan-jangan lo juga nggak suka sama gue, ya?” tanya Kia memastikan.
“Kenapa lo bisa nanya begitu?” tanya balik Zaki, Kia pun menghela napasnya dengan panjang.
“Lo ‘kan sering balikin omongan gue, otomatis lo gak suka sama gue,” jawab Kia, menjelaskan tentang keresahan hatinya.
Zaki tersenyum mendengarnya, “Di bagian mana sih yang gue nggak suka dari lo? Semua bagian dari diri lo gue suka kok,” ujar Zaki, membuat Kia merasa terkejut dan sontak membuat wajahnya merah mendengarnya.
__ADS_1