
Setelah menempuh perjalanan, mereka pun sampai di rumah sakit. Dengan sigap, Zaki segera membawa Kia untuk mendapatkan penanganan dari dokter.
Setelah mengurus dan menjalani beberapa serangkaian, Kia pun selesai mendapatkan penanganan, dan akhirnya pun memuaskan.
Tidak ada luka serius yang terjadi pada Kia, sehingga Kia dan Zaki diperbolehkan untuk kembali pulang ke rumah.
Zaki menuntun Kia berjalan, dengan tidak memedulikan respon Kia. Kia memandang ke arah Zaki, tetapi tak mengatakan apa pun.
‘Dia ... lebih cekatan dari yang aku duga. Dia juga terlihat lebih cekatan dari Zain. Apa mungkin, ini semua dipengaruhi oleh rasa traumanya?’ batin Kia, heran dan tidak percaya dengan apa yang Zaki lakukan padanya.
Mereka pun sudah masuk ke dalam mobil, Zaki bersiap-siap untuk mengarahkan mobilnya ke arah rumah Kia.
Beberapa saat berlalu, dengan mereka yang sama sekali tidak mengatakan apa pun selama di perjalanan. Zaki tiba-tiba melirik ke arah Kia, sehingga Kia pun tersadar dengan lirikan Zaki, dan memandang ke arahnya.
“Gimana lukanya? Udah agak mendingan?” tanya Zaki.
Kia menyentuh lukanya, yang kini di beri kain kasa dan juga plester. “Lebih baik, gak terlalu sakit seperti awal,” jawab Kia.
Kini, mereka sudah bisa berbicara dengan luwesnya. Kia merasa senang, karena ternyata masih ada yang memerhatikannya sampai seperti ini, terlepas dari meninggalnya Zain.
‘Dia gak buruk juga,’ batin Kia, yang berusaha menahan diri untuk tidak tersenyum di hadapan Zaki.
Mereka pun segera menuju ke rumah Kia, untuk mengantarkan Kia kembali ke rumahnya.
Sementara itu, di sana Zifa dan juga Fikar sudah sampai di tempat lokasi yang sudah Fikar pesan. Mereka sangat canggung, ketika sudah sampai di dalam ruangan hotel.
Ketika Fikar mengunci pintu hotel, dada Zifa berdebar dengan sangat kencang. Ia merasa bingung, tak tahu harus berbuat apa.
‘Aduh ... gimana, nih? Apa yang harus aku lakukan?’ batin Zifa, tak tahu lagi harus berbuat apa.
__ADS_1
Fikar berbalik, lalu memeluk tubuh Zifa dari belakang. Hal itu benar-benar membuat Zifa meleleh, karena merasakan pelukan Fikar yang sepertinya sangat berbeda dari biasanya.
Zifa berusaha memberontak, “Fikar ... aku—”
“Sebentar aja, Zif ....”
Mendengar permohonan Fikar, Zifa pun menurut dengan apa yang Fikar minta. Beberapa saat ia menunggu pelukan itu selesai, ia malah semakin melebur dalam pelukan itu.
‘Aku malah makin gak bisa menahan diri,’ batin Zifa, heran dengan apa yang Fikar lakukan padanya.
“Kita ... gak apa-apa seperti ini?” tanya Zifa, Fikar pun akhirnya melepaskan pelukannya dari Zifa.
“Gak tau juga, takutnya ... malah tidak bisa menahan, hehe.” Fikar tertawa, membuat suasana menjadi terasa sedikit rancu.
Zifa merasakan keanehan, karena Fikar yang tidak biasanya melakukan hal ini padanya. Sejak kejadian semalam, Fikar jadi lebih terlihat aneh. Zifa merasa berbeda, hanya dengan melihat perlakuannya saja padanya.
Lalu, tidak biasanya juga Fikar mengajaknya untuk melakukan staycation. Biasanya Fikar hanya mengajaknya makan malam, dan ia melakukan hal itu sudah lebih dari 3 tahun yang lalu.
Zifa mendelik, “Fikar, kamu ngapain?” tanyanya, sembari menutupi wajahnya kaerna malu.
Fikar tertawa kecil, “Aku gerah pakai jas. Apa gak boleh lepas jas di dalam ruangan seperti ini?” tanyanya, Zifa pun mendelik tak percaya mendengarnya.
“Ya ... boleh sih,” jawab Zifa, Fikar pun tertawa mendengar jawabannya itu.
Setelah melepas jasnya, Zifa semakin merasa sangat canggung. Ia tidak bisa melakukannya, jika memang nantinya akan terjadi hal yang aneh dengan mereka.
‘Gak bisa, jangan sampai Fikar ngelakuin hal yang macam-macam sama aku,’ batin Zifa, yang menolak dengan apa yang Fikar inginkan nantinya.
Mereka hanya menatap canggung untuk sementara, sehingga membuat Fikar merengkuh tubuh Zifa untuk menghilangkan kecanggungan antara mereka.
__ADS_1
“Kamu mau makan apa malam ini?” tanya Fikar, Zifa mendadak tegang karena sentuhan Fikar yang sangat tiba-tiba.
“Emm ... aku gak laper,” jawab Zifa dengan tegang, menahan rasa tegangnya di hadapan Fikar.
Fikar semakin mengeratkan pelukannya pada Zifa, membuat Zifa semakin kaget dan bingung harus berbuat apa.
Karena merasa tidak tahan, Fikar pun segera mendekatkan wajahnya ke arah Zifa. Hal itu membuat Zifa mendelik kaget, dan spontan mendorong kasar tubuh Fikar.
“Jangan macam-macam sama aku!” bentak Zifa, sontak membuat Fikar mendelik kaget karena Zifa yang berhasil menghempaskan tubuhnya.
Zifa bangkit dari ranjang tidur, dan berdiri di hadapan Fikar dengan rasa kesal yang melanda.
“Zifa, kamu kenapa sih?” tanya Fikar, membuat Zifa semakin kesal mendengarnya.
“Harusnya aku yang nanya begitu, kamu kenapa sih? Kenapa kamu sikapnya beda dari sebelumnya? Bentak aku, ngajak aku staycation begini, perlakuin aku dengan beda, kamu kenapa hah?” tanya Zifa, Fikar pun berusaha menahan diri, tetapi tidak bisa karena sudah terlanjur seperti ini.
“Oke, aku ngaku! Aku ngelakuin semua ini karena aku cemburu sama kamu kemarin! Aku gak suka lihat kamu sama cowok lain, apalagi sampai berduaan di dalam ruangan, dengan alasan apa pun. Aku pun belum pernah berduaan sama kamu di dalam ruangan begitu, sementara kamu dan dia sudah berduaan bareng! Terlepas dari semua alasan kalian, tetap aku gak bisa nahan rasa cemburu aku sama kamu, Zifa!” ungkap Fikar dengan gamblang, membuat Zifa mendelik kaget mendengar pengakuan Fikar padanya.
Zifa tidak heran lagi, ketika sudah mendengar alasan Fikar mengajaknya staycation ini. Itu semua tak lain lantaran rasa cemburu berlebihan. Zifa tak pernah melihat Fikar secemburu ini sebelumnya, karena memang dalam 3 tahun ini, mereka menjalani kisah cinta mereka tanpa halangan apa pun.
Zifa menunduk, “Kamu cemburu sama Zaki?” tanyanya tanpa memandang ke arah Fikar.
“Banget.”
Zifa kembali memandang ke arahnya. “Walaupun dia bukan siapa-siapa, dan gak melakukan apa pun?” tanyanya lagi, Fikar mengangguk kecil mendengarnya.
Zifa mulai mengetahui sifat asli Fikar, yang selama 3 tahun ini masih tersembunyi. Saking cintanya Fikar padanya, Fikar sampai tidak bisa melihat Zifa bersama dengan lelaki lain, walaupun hanya teman.
“Aku mau kita habisin waktu sama-sama di tempat ini. Aku janji, gak akan ada hal macam-macam, yang lebih dari yang mau aku lakukan ke kamu. Ini semua karena aku ... aku lagi ngerasa gak percaya diri, makanya aku mau merekatkan kembali hubungan kita dengan cara seperti ini. Aku tahu, kita sedang renggang karena jarang bertemu. Ditambah lagi dengan kedekatan kamu dan Zaki ... aku mau kita baik-baik aja ke depannya,” ujar Fikar dengan sendu.
__ADS_1
BERSAMBUNG....