Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Hari Bahagia


__ADS_3

Happy reading....


Keresahan hati selalu dirasakan setiap manusia, yang memiliki sebuah harapan kepada manusia lain. Jika tidak ingin kecewa, jangan sampai kita berharap dengan manusia lain.Keresahan itu sekarang tengah melanda hati, kedua insan yang sedang dimabuk asmara ini.


Zain merasa resah, tetapi entah apa yang ia khawatirkan. Ia melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi, membuka keran shower untuk membasahi sekujur tubuhnya, dengan air yang mengucur cukup derasa dari keran shower tersebut.


Diusapnya rambut hitamnya yang sudah mulai panjang, sampai sudah menutupi pandangannya. Percikan air tersebut membuat tubuhnya terasa segar, dengan hati yang sudah mulai berprasangka dengan jernih.


“Ah ....”


Dihelanya napas dengan begitu berat dan dalam. Pikirannya kembali melayang, memikirkan gadis yang merupakan calon tunangannya itu.


Entah apa yang ia beratkan, dirinya tak bisa merasakan apa pun, setelah mengakhiri perbincangannya dengan Kia.


“Sesak sekali. Sebenarnya ... apa yang saya pikirkan?” gumamnya, yang lalu membasuh wajahnya dengan telapak tangan kanannya.


Napasnya tersendat, saking derasnya air yang mengucur membasahi kepalanya. Ia tidak pernah merasa sesak, sampai sedemikian lupa.


Zain merasa sangat sedih, tetapi ia tidak tahu apa yang ia pikirkan, sehingga membuatnya merasa bersedih.


Zain menyudahi aktivitasnya, berusaha untuk merileksasikan pikiran dan juga tubuhnya. Ia membaringkan tubuhnya pada ranjang berukuran king size, yang bersprei hitam.


Tangannya melipat ke belakang, menumpu lehernya sehingga pandangannya bisa ia lihat ke arah langit-langit kamarnya.


Pandangannya perlahan kabur, karena ia merasa sudah sangat lelah. Perlahan, ia sudah tidak tahu keadaan sekitarnya, dan tertidur pulas di atas ranjangnya.


.


.


Pagi-pagi sekali, Kia sudah selesai merapikan kamarnya yang cukup berantakan. Setelah selesai merapikan kamar, Kia pun bergegas untuk membilas tubuhnya, dan berdandan dengan cantiknya, ditemani sahabatnya yang juga satu kelas dengannya.


Zifa, wanita yang sangat menyayangi Kia sebagai sahabatnya. Ia bahkan hampir selalu ada, di setiap momen berharga dalam kehidupannya.


Saat ini, mereka sama-sama melontarkan senyuman satu sama lain, sebelum akhirnya Kia dirias oleh MUA yang cukup terkenal di kotanya.

__ADS_1


Riasan make up dengan gaun putih yang elegan, sudah Kia pilihkan yang sesuai dengan keinginannya. Ia tidak mau ada cacat sedikit pun, di hari pertunangannya dengan Zain.


“Sudah belum?” tanya Zifa, yang sudah penasaran dengan hasil makeup yang dilakukan untuk Kia.


“Sedikit lagi,” jawab Kia, yang merasa sudah sangat senang, karena makeup-nya yang tinggal sebentar lagi sudah selesai dipakainya.


Setelah beberapa saat menunggu, Kia pun memperlihatkan riasannya pada Zifa, sontak membuat Zifa tersenyum dengan sangat riang.


Tangannya menggenggam kedua tangan Kia, berusaha untuk menyalurkan perasaan bahagiannya atas pertunangan Kia, melalui sentuhan tangannya.


“Cantik banget, Kia!” gumam Zifa, yang benar-benar sudah terkesima dengan penampilan Kia saat ini.


Kia tersipu, wajahnya merona, saking malunya ia mendengar sahabatnya memuji penampilannya.


“Pak Zain pasti bakalan seneng banget, ngeliat kamu yang lagi makeup kayak gini!” tambahnya, membuat Kia kembali tersenyum mendengarnya.


“Zain pasti suka ....” Kia selalu berpikiran positif, dengan apa yang ia lakukan untuk Zain.


“Jam berapa dimulai?”


Mereka terus melakukan persiapan, dengan harapan acara yang mereka persiapkan bisa berjalan dengan lancar. Semua orang berada pada posisi mereka. Ada yang menghias bunga, menyiapkan perkakas makan, menyiapkan buket bunga dan lain sebagainya.


Kia sangat senang, karena sebentar lagi ia akan menguncapkan sumpah janji sehidup semati dengan Zain. Ia akan sangat-sangat beruntung, jika ia bisa bersanding dengan Zain, di atas altar.


Kia memandang ke arah jam yang ada di layar handphone-nya. Sudah lebih dari waktu yang ditentukan, tetapi Zain masih belum juga datang ke rumahnya.


Jemarinya bertaut, terdengar juga suara gerahamnya yang digertakkan. Terlihat jelas Kia yang terlihat sangat khawatir, karena Zain yang belum kunjung datang ke tempat ini.


Para tamu undangan pun sudah berdatangan, dekorasi sudah selesai dilakukan. Persiapan sudah full, tetapi Zain belum juga terlihat batang hidungnya.


Rasa cemas menyelimuti Kia, karena ia tidak bisa berhenti memikirkan Zain sejak sore kemarin. Ia khawatir, jika sampai terjadi sesuatu dengan Zain.


‘Zain ... kamu di mana, sih? Kenapa belum datang juga?’ batin Kia mengaduh, memanggil Zain agar segera datang ke tempat ia berada.


Kia berusaha menghubungi Zain, tetapi handphone Zain sama sekali tidak bisa dihubungi. Perasaannya semakin takut, dirinya semakin terguncang mengetahui Zain yang belum juga sampai di kediamannya.

__ADS_1


“Mana Pak Zain?” tanya Zifa, Kia memandangnya dengan pandangan yang sangat khawatir.


“Aku teleponin, tapi dia sama sekali gak angkat,” jawab Kia dengan nada yang sudah mulai merengek.


Mendengar hal itu, Zifa merasa sangat bingung. Ia tidak bisa membantu banyak, selain hanya membantu memberikan dukungan untuk Kia.


Zifa mengusap lembut bahu Kia, “Jangan khawatir, mungkin macet di jalan,” ujarnya memberikan semangat kepada Kia.


Tak dapat dipungkiri, Kia sangat mengkhawatirkan Zain, karena firasatnya yang tidak enak tentang Zain.


Sementara itu, Zain di sana masih terbaring di ranjang tidurnya. Ia terlambat bangun, saking lelahnya tubuhnya.


Mendengar dering handphone-nya yang tak kunjung berhenti, Zain sampai terbangun karena mendengar suaranya yang sangat kencang.


Tangannya meraba ke arah nakas yang ada di sebelah kanan ranjangnya, kemudian meraih handphone yang sedari tadi sudah berbunyi.


Matanya membulat, mendelik tajam, ketika melihat jam yang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Sudah lewat setengah jam dari waktu yang dijanjikan, Zain sangat terlambat untuk bisa sampai di sana.


“Aku terlambat!!” pekik Zain, yang segera memakai tuxedo berwarna hitam dengan sangat cepat.


Tanpa membilas tubuhnya, Zain sengaja langsung memakai tuxedo tersebut, karena ia tidak ingin terlambat lebih lama lagi dari saat ini.


Zain merapikan rambutnya yang berantakan, dan melihat ke arah wajahnya dari arah cermin. Ketika sudah tidak menemukan apa pun yang tidak benar, Zain pun segera berlarian meninggalkan ruangan apartemennya.


Zain berlarian ke arah lift, dengan perasaan yang sangat khawatir. Langkahnya terhenti, ketika ia mendengar handphone-nya kembali berdering.


Zain menerima panggilan yang berasal dari Kia, tetapi saat itu juga panggilan itu terputus, karena handphone Zain yang belum sempat ia isi daya.


“Sudah nol persen! Mati total! Gimana caranya saya bisa kabarin Kia?!” pekik Zain, yang kebingungan memikirkan cara untuk menghubungi Kia.


Namun, karena sudah sangat terlambat, Zain sama sekali tidak memedulikannya. Ia menyimpan handphone-nya pada saku celananya, dan langsung berlarian ke arah basement, untuk mengambil mobilnya.


Setelah melewati loby, akhirnya Zain tiba di basement. Ia segera berhamburan ke arah mobilnya, dan masuk ke dalam mobil berwarna hitam tersebut.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2