
Happy reading.....
Zain tersenyum, “Saya lihat foto di dinding. Ada kamu sedang memakai pakaian toga, dengan memakai selempang nama. Tidak sulit mengetahui nama kamu,” jawab Zain dengan senyuman, membuat Zaki semakin takut saja mendengarnya.
Memang, semuanya akan terasa sangat sulit, jika berhadapan dengan seorang dosen.
“Mau apa kamu dekat-dekat sama saya? Saya gak mau dekat-dekat sama arwah seperti kamu!” ujarnya kasar, membuat Zain merasa sedikit sedih mendengarnya.
“Jangan terlalu kasar, Zaki. Menjadi arwah gentayangan seperti ini, baru pertama kali saya rasakan. Jadi, saya belum punya teman di sini,” ujar Zain, yang membuat Zaki semakin merinding saja mendengarnya.
“Apa-apaan kamu?! Ya memang baru pertama kali, lah! Lagipula, kamu ‘kan baru meninggal satu kali,” ujar Zaki, yang masih bisa memakai logikanya, walaupun di saat ketakutan seperti itu.
Zain tertawa kecil, “Ya, maka dari itu, jangan kasar-kasar. Yang bisa melihat saya, hanya kamu. Saya gak bisa berbicara dengan siapa pun lagi, setelah jadi arwah seperti ini. Bahkan berbicara dengan kekasih saya,” ujarnya, membuat Zaki menghela napasnya, berusaha mendapatkan kembali kewarasannya.
“Duh ... tahan ... saya juga gak tau caranya ngusir kamu. Jadi, saya gak bisa ngusir kamu dari sini. Tolong pergi, kalau kamu punya kesadaran diri,” ujar Zaki, Zain masih tetap ingin bertahan di sana.
__ADS_1
“Yang namanya arwah, mana punya kesadaran diri?” seloroh Zain, membuat Zaki agak kesal mendengarnya.
Zain merasa sedikit senang, karena sifat Zaki kurang lebih sama seperti sifat Zaskia. Jadi, ia senang membuat lelucon untuk Zaki, karena ketika berbincang dengan Zaki, ia seperti sedang berbincang dengan Zaskia.
Zaki kesal, lalu duduk di sofa kembali untuk berbincang dengan Zain.
“Ah, sudahlah. Kenapa saya gak bisa debat sama kamu, sih?!” gumam Zaki agak geram, membuat Zain tersenyum mendengarnya.
“Kau ‘kan masih mahasiswa pasca sarjana, sementara saya sudah jadi dosen. Jadi, kamu gak akan bisa membantah ucapan saya,” ujar Zain, yang ingin menyombongkan diri di hadapan Zaki.
Zaki menyedekapkan tangannya, “Itu ‘kan saat kamu masih hidup. Sekarang, untuk apa gelar dosen kamu, kalau kamu sudah gak ada seperti ini?” bidiknya, membuat Zain tertawa kecil mendengarnya.
Ucapan Zain sebelumnya, membuat Zaki bingung.
Zaki mengangkat sebelah alisnya, “Dari mana kamu tau, saya ini mahasiswa pasca sarjana?” tanyanya heran.
__ADS_1
“Saya melihat di atas meja kerja kamu. Di sana, ada banyak sekali kertas revisi. Ternyata, kamu mahasiswa baru di kampus saya mengajar,” ujar Zain, sontak membuat Zaki terkejut mendengarnya.
“Hah? Yang benar aja?” tanya Zaki tak percaya.
“Ya, saya juga kaget. Ternyata dunia sempit. Saya juga tinggal di sebelah kamar kamu,” ujar Zain, semakin membuat Zaki mendelik kaget mendengarnya.
“Ah? Kamu tinggal di ruang 509?” tanya Zaki, Zain mengangguk kecil mendengarnya.
Karena merasa dunia ini sangat sempit, Zaki pun menepuk keningnya, karena merasa sangat tidak menyadari semua itu.
“Aduh ... kalau di kampus ‘kan ... kemungkinan besar gak ketemu itu wajar, karena gedung kita berbeda. Kalau di sini, aneh banget kalau gak pernah ketemu,” gumam Zaki, Zain hanya bisa tersenyum mendengarnya.
“Kita memang tidak pernah bertemu, tapi ... saya beberapa kali pernah melihat kamu. Saya baru ingat semalam.”
Mereka tinggal bersebelahan, tetapi sama sekali tidak pernah berpapasan, satu sama lain.
__ADS_1
Zaki menghela napasnya dengan panjang, “Sudahlah, lagipula kau sudah beda alam sama saya. Gak ada alasan untuk menyapa kamu lagi ketika bertemu,” ujarnya, membuat Zain mendadak sendu mendengarnya.
BERSAMBUNG.....