Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Berniat Tanggung Jawab


__ADS_3

DEG!


Mendengar ucapan Zifa, Fikar benar-benar tidak menyangka akan hal itu. Ia hanya bisa mendelik, memandang Zifa dengan tatapan yang tidak percaya.


“Apa? Apa aku nggak salah denger? Zifa, kamu nggak bisa dong kayak begitu! Kamu nggak bisa ngambil keputusan sepihak seperti itu! Tolonglah Zifa, please. Aku sayang banget sama kamu! Aku mau mempertahankan kamu dan mau mempertanggungjawabkan apa yang sudah aku lakukan sama kamu,” ujar Fikar, tetapi Zifa malah memandangnya dengan senyuman yang menyungging.


“Maaf Fikar, aku nggak bisa menerima kamu. Aku beneran gak bisa. Maaf ....” Zifa mengatakan permohonan maaf ya kepada Fikar, membuat Fikar tidak bisa menerimanya.


Mendengar percakapan mereka, Zaki hanya terdiam dan mendelik bingung dengan keadaan. Biasanya seorang wanita yang merasa dirugikan, akan meminta pertanggung jawaban kepada lelaki yang sudah menodainya. Namun berbeda dengan Zifa. Ia sama sekali tidak menginginkan hal itu, dan malah menolak rasa tanggung jawab yang akan Fikar berikan kepadanya.


‘Zifa ini kenapa? Ada seseorang yang sangat sayang sama dia, mau bertanggung jawab sama dia, tapi ternyata dia yang menolak. Apa hanya dia di dunia ini yang melakukan hal seperti itu? Biasanya aku melihat di beberapa film atau novel. Mereka ingin lelaki yang sudah menodai mereka mempertanggungjawabkan semua yang mereka lakukan, tapi ini nggak,’ batin Zaki, yang benar-benar merasa bingung mencerna percakapan mereka sejak tadi.


Zaki saja yang mendengarnya merasa bingung, apalagi Fikar dan Zifa yang menjalankannya saat ini?


Fikar merasakan apa yang Zaki rasakan. Sebagai seorang lelaki, pastinya menginginkan untuk bersama orang yang ia cintai. Sebagai seorang lelaki juga, Zaki pasti akan melakukan hal yang sama dengan yang saat ini Fikar lakukan. Ia pasti akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia lakukan terhadap wanita yang ia cintai.


‘Haruskah aku bicara saat ini?’ batin Zaki, yang merasa bingung harus berbicara membantu Fikar, atau hanya berdiam diri melihat keadaan yang sudah mulai tidak terkendali.


Fikar menatap Ziva dengan dalam, “Apa kamu yakin sudah bulat dengan keputusanmu saat ini?” tanyanya sekali lagi.


Zifa mengangguk mantap, “Ya, aku yakin!” ujarnya.


Fikar menelan salivanya, “Bagaimana nanti jika kamu hamil?” tanyanya.

__ADS_1


Mereka terdiam sejenak mendengar pertanyaan yang Fikar lontarkan kepada Zifa. Pertanyaannya membuat suasana menjadi rancu, karena merasa heran dan tabu.


“Aku akan menggugurkannya,” jawab Zifa, sontak membuat mereka mendelik kaget mendengarnya.


“Kamu nggak bisa seperti itu, Zifa! Itu berarti sama aja kamu membunuh darah daging kamu sendiri!” Fikar protes atas apa yang akan Zifa lakukan itu.


Zifa menyunggingkan senyumnya, “Ya ... mau bagaimana lagi? Jika memang semua itu terjadi, mau tidak mau, aku akan melakukannya,” ujarnya dengan sangat mudah mengatakannya.


Mendengar ucapan Zifa, Zaki pun merasa keberatan jika sudah menyangkut mengenai hal-hal seperti kematian. Zaki pun merasa tidak mampu mendengarnya lagi kali ini.


“Gaes, sorry nih ... kalian ngomong apa sih sebenarnya?” tanya Zaki, yang baru saja berniat ingin ikut campur dalam permasalahan mereka.


“Nggak usah ikut campur, Zaki. Keputusan gue udah bulat dan gak akan bisa lagi diganggu gugat,” sanggah Zifa, menolak campur tangan Zaki pada permasalahannya kali ini.


“Gue nggak main-main sama kematian. Gue cuman nggak mau mimpi-mimpi gue terhambat, gara-gara hal ini.” Zifa mengatakannya tanpa rasa bersalah sama sekali, membuat mereka bingung harus mengatakan apa lagi untuk menggagalkan rencana Zifa.


“Jangan ngaco kamu! Aku yang akan bertanggung jawab, kenapa kamu malah menggugurkannya? Aku nggak bisa melihat darah daging aku gugur begitu saja! Aku nggak mau kejadian itu sampai terjadi!” bentak Fikar, yang saat ini sudah kehabisan rasa sabaradi hadapan Zifa.


Ziva memandanginya dengan bingung, “Salah sendiri, kenapa kamu melakukan hal itu semalam?” tanyanya meledek Fikar.


“Ini semua bukan cuma aku yang mau, tapi kamu juga mau, bukan? Kenapa malah kamu yang nyalahin aku sekarang? Harusnya kita nyari solusi untuk menyelesaikan masalah kita ini, bukan malah nyalah-nyalahin begini!” bentak Fikar yang sudah mulai kehabisan kesabaran.


Mendengar bentakan Fikar, Zifa merasa kesal dan ia pun mendelik di hadapan Fikar. “Maksud lo apa, hah? Jadi sekarang, lo yang nyalahin gue atas apa yang udah lo perbuat sama gue? Iya?” tanya sinis Zifa, membuat Fikar terkejut mendengar bentakannya itu.

__ADS_1


Ini adalah kali pertama Zifa menyebutnya menggunakan bahasa yang kasar. Mereka terdiam sejenak, saking terkejutnya mereka mendengar ucapan Zifa.


“Gue mau pulang!” bentak Zifa, yang lalu segera pergi meninggalkan mereka di sana.


Mereka sama-sama memandang ke arah perginya Zifa. Mereka saling melempar pandangan. Fikar memandangnya bingung, dengan Zaki yang malah memandangnya dengan sinis.


“Lo ngapain diem aja? Cepat kejar Zifa sekarang! Antar dia pulang!” bentak Zaki, membuat Fikar berlarian untuk menyusul Zifa di sana.


Zifa keluar dari rumah Zain, lalu berjalan sesuai ke mana kakinya melangkah. Ia belum memesan taksi online, sehingga ia bingung dan hanya berjalan saja sesuai kakinya melangkah.


Dari arah dalam rumah Zain, Fikar berlarian untuk menahan Zifa agar tidak pergi dari sana. Ia menahan lengan tangan Zifa, membuat Zifa menoleh ke arahnya dengan bingung.


“Zifa, tunggu! Zifa kamu mau ke mana?” tanya Fikar.


Zifa memberontak, “Lepasin tangan gue sekarang!” bentaknya, membuat Fikar merasa bingung menjawabnya.


“Zifa, please ... jangan kasar banget sama aku. Zifa, aku sama sekali nggak mau kasarin kamu. Aku mau tanggung jawab dengan apa yang udah aku lakuin sama kamu. Apa aku salah, hah?” tanya Fikar sendu.


“Ya, lo salah! Salah karena udah ngelakuin hal bejat itu ke gue! Gue nggak suka kalau lo ngelakuin hal itu ke gue! Padahal gue udah bilang, kalau jangan sampai lo ngelakuin hal itu. Gue nggak mau hal itu terjadi, karena semua mimpi-mimpi gue bakalan hilang. Terus juga kalau nanti gue beneran hamil, gimana?” bentak Zifa, membuat Fikar merasa sangat tidak dihargai oleh wanita yang ada di hadapannya saat ini.


Fikar memandangnya sinis, “Zifa, tolong kamu hormatin aku, dong! Aku sudah merendah di hadapan kamu dari tadi. Aku mohon dengan sangat, kamu menerima apa yang terjadi di antara kita semalam.


Karena itu semua sudah nggak bisa diputar ulang! Waktu nggak bisa diputar balik, kembali ke saat sebelum di mana kita melakukan hal itu. So, tolong sekarang kamu terima semua yang sudah terjadi di antara kita. Ayo, kita hadapi semuanya bersama-sama. Aku akan tetap di sini, tanggung jawab dengan apa pun yang akan kamu minta!” ujar Fikar yang berusaha menjelaskan keadaan ini.

__ADS_1


__ADS_2