
“Maksudnya, gue tuh bukan orang yang melanggar apa yang gue katakan. Intinya lo harus harus percaya sih sama gue. Karena gue orangnya tepat janji,” ujar Zaki, membuat Kia memandang ke arah hadapannya dengan datar.
“Ya udah sih, jadi lo mau gak ketemu sama gue? Itu aja yang gua tanya!” ujar Kia dengan ketus, membuat Zaki bingung harus mengatakan apa.
“Ya gue mau ketemu sama lo,” ujar Zaki. “Tapi kita mau ketemu di mana?” tanya Zaki.
Kia masih kesal mendengarnya, “Nanti gue kirimin alamat tempat kita ketemu. Kita ketemu langsung di sana. Jangan lama-lama soalnya ini udah malam,” ujar Kia, membuat Zaki tersadar dengan keadaan yang sudah malam, dan ia belum mandi sama sekali.
‘Ya ampun! Sekarang udah malam, gue belum mandi sama sekali dari tadi! Sial, ini semua gara-gara mereka!’ batin Zaki, yang merasa kesal sendiri, karena sudah dilibatkan dalam permasalahan Fikar dan juga Zifa.
“Oke, gue mau siap-siap dulu. Nanti kirimin aja alamat tempat kita mau ketemu!” ujar Zaki.
“Tanpa lo minta juga nanti pasti gue kirim!” ketus Kia, membuat Zaki merasa gemas sendiri mendengarnya.
“Ya udah, ya udah! Gue mau siap-siap dulu!” Zaki pun mengakhiri sambungan telepon mereka, dan terdiam sejenak memikirkan apa yang terjadi di antara mereka.
Zaki mengusap kasar wajahnya. “Gila ... Kia mau ngajak gue ketemu, biar bisa kenal lebih dekat sama gue! Bilang aja sih dia mau ngajak gue kencan apa gimana gitu? Nggak usah pakai sok-sokan pengen kenal deket, karena kita udah jadi temen. Gak gitu setelah konsepnya,” gerutu Zaki, yang merasa bingung saat ini.
Karena sudah terlalu malam, Zaki pun segera bersiap-siap agar tidak membuat Kia marah, karena menunggunya terlalu lama. Setelah bersiap-siap, Zaki pun langsung meluncur ke tempat yang sudah Kia kirim melalui pesan chat mereka.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, Zaki pun sampai di tempat yang telah Kia tentukan. Ia memarkirkan mobilnya dengan rapi, kemudian segera melangkah keluar dari mobil tersebut.
__ADS_1
Karena pertemuan ini adalah pertemuan spesial bagi Zaki, ia pun sebisa mungkin menata rambutnya dan juga menggunakan parfum, agar dapat memberikan kesan berbeda terhadap dirinya. Agar Kia juga bisa membedakan dirinya yang biasanya, dengan dirinya yang malam ini ada di hadapannya.
Intinya Zaki melakukan hal itu agar terlihat lebih menonjol di hadapan Kia.
Untuk sentuhan terakhir, Zaki pun memandang ke arah mobilnya dan memerhatikan dirinya sendiri pada kaca mobilnya itu. Ia membenarkan rambutnya yang masih terlihat belum rapi, dengan sedikit siulan yang ia buat.
Sepasang muda-mudi melewatinya, dengan si pria yang terlihat sedang meledeknya, membuat Zaki merasa bingung ketika melihat ekspresinya itu di hadapan dirinya. Mereka sejenak saling menatap dengan si wanita yang juga meremehkannya.
Zaki memandang kesal ke arah mereka, ‘Kenapa kok mereka ngeliatin gue begitu sih? Apa karena gue ngaca di kaca mobil sport keren ini, jadi mereka mikirnya gue lagi ngaca di kaca mobil orang?’ batin Zaki, yang lalu segera mengeluarkan kunci mobilnya itu.
Zaki pun mengeluarkan kunci mobil dan menekan tombol untuk alarm mobil, membuat mereka terkejut mendengar mobil itu yang ternyata berbunyi. Kuncinya pun ada pada orang yang mereka ledek.
Wanita itu malah diam-diam menyukai Zaki. Di belakang kekasihnya, ia terlihat malu-malu merayu Zaki. Saat ini di hadapan Zaki.
‘Kenapa orang-orang pada rasis, sih? Mentang-mentang gue lagi ngaca di mobil cakep kayak gini, terus mereka mikir kalau gue bukan pemilik mobilnya? Ya ... walaupun gue bukan pemilik mobilnya, tetap aja mereka nggak boleh gitu. Tapi untungnya sih ini memang mobil yang gue pakai, walaupun ini mobil Zain,’ batin Zaki, merasa tenang saat ini.
Zaki kembali merapikan penampilannya. Setelah ia merasa sudah rapi, ia pun segera masuk ke dalam kedai es krim yang menjadi tempat pertemuan dirinya dan juga Kia.
Sepanjang ia melangkah, banyak sekali orang yang memerhatikannya. Penampilannya itu mengundang perhatian banyak orang, membuatnya merasa risih sendiri dengan pandangan orang terhadapnya.
Inilah alasan kenapa Zaki tidak suka memakai baju-baju yang bagus, dan baju yang berwarna cerah. Ia tidak mau jika mereka semua malah memokuskan perhatian mereka, ke arahnya.
__ADS_1
Pada dasarnya Zaki tidak suka dijadikan bahan perhatian mereka. Ia adalah seorang introvert, yang membutuhkan privasi. Namun, berhubung Kia selalu menuduhnya yang tidak-tidak jika ia mengenakan jaket hitam atau baju yang hitam, Zaki tidak mau pertemuan kali ini menjadi sia-sia belaka. Hanya karena pakaian saja.
Zaki mau tidak mau harus menerima kenyataan tentang hal itu.
Zaki pun melangkah masuk dan mengedarkan pandangannya ke arah meja yang ada. Pandangannya tertuju pada seorang wanita cantik, yang sedang duduk sembari memainkan handphone-nya.
Ya, dia adalah Kia.
Penampilannya sangat berbeda dari yang biasa Zaki lihat di kampus. Kia lebih terlihat sederhana, dengan hanya mengenakan celana training dan juga jaket berwarna pink. Melihat Kia yang ada di hadapannya, Zaki langsung melangkah ke arah hadapannya dan berdiri di hadapan Kia.
“Hai,” sapa Zaki.
Kia pun meletakkan handphone-nya di atas meja, kemudian memandang Zaki dengan bingung. Sejenak ia memandang penampilan Zaki, yang juga terlihat sangat berbeda dari biasanya. Zaki terlihat fresh dan harum, membuat Kia merasa ada yang aneh dengan Zaki.
“Lo dandan, ya?” bidik Kia, membuat Zaki bingung mendengarnya.
“Lho, kenapa gue? Dandan apanya? Gue nggak ngerasa dandan, kok! Gue nggak pakai make up, nggak pakai bedak, gue juga nggak pakai lipstick!” ujar Zaki, membuat Kia memandangnya dengan datar.
“Dandan versi laki-laki yang gue maksud itu, bukan pakai bedak, lipstik atau apa pun! Dandan di sini yang gue tanya, kalau pakai parfum, pakai baju bagus, terus rambutnya juga bagus!” ujar Kia, membuat Zaki semakin heran saja mendengarnya.
“Ya memangnya kenapa kalau gue dandan? Emangnya ada larangannya, ya? Gue nggak boleh dandan, gitu?” tanya sinis Zaki, membuat Kia merasa kesal mendengarnya.
__ADS_1
Ya, inilah sifat Zaki yang sebenarnya. Ia akan menghargai seorang wanita menghargai dirinya. Jika wanita itu bersikap ketus, ia juga bisa melakukan hal yang sama dengan yang wanita itu lakukan padanya.
“Apa sih? Kok lo malah jadi nggak jelas sih?” tanya sinis Kia, membuat Zaki kesal mendengarnya.