Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Gak Suka Di Bentak


__ADS_3

Mendengar pertanyaan Kia yang seperti itu, Zaki pun merasa malu. Ia juga merasa malu, karena tiba-tiba saja Kia yang menyentuh wajahnya.


Merasakan wajah Zaki yang terasa panas, Kia pun menyadari, apa yang ia lakukan.


Mereka langsung mengubah sikap, dan menghindari pandangan masing-masing.


“Emm ... maaf,” ujar Kia, yang merasa dirinya sedang melakukan kesalahan.


“Gak apa-apa,” jawab Zaki, dengan nada yang canggung.


Karena Kia melakukan hal ini dengan Zaki, ia jadi merasa canggung sendiri. Ia kelepasan melakukan hal itu, karena ia merasa sangat penasaran dan heran dengan siapa Zaki sebenarnya.


Zaki yang ada di hadapannya ini, mampu mengingatkannya pada sosok Zain, yang saat ini sudah pergi meninggalkannya untuk selamanya.


Setiap melihat dan berbicara dengan Zaki, Kia merasakan De Javu kebersamaannya dengan Zain. Hal itu membuat Kia merasa terganggu, dan ingin mengetahui siapa sosok Zaki sebenarnya.


Zaki menelan salivanya, ‘Kenapa dia begitu ke gue? Kenapa dia sampai berani ngelakuin itu? Apa waktu dengan Zain, dia juga begitu?’ batinnya, heran dengan apa yang Kia lakukan padanya.


Tiba-tiba saja, Zaki teringat dengan luka yang ada pada kening Kia. Ia jadi merasa panik sendiri, dan mengesampingkan rasa malunya di hadapan Kia.


“Ayo kita ke rumah sakit sekarang!” Zaki lagi-lagi mengajak Kia ke rumah sakit, tetapi Kia menggelengkan kepalanya menolak.


“Gak usah, nanti juga sembuh sendiri,” tolak Kia, yang memang tidak ingin ke rumah sakit.


Karena takut jarum suntik, Kia pun tidak ingin lagi masuk rumah sakit, karena trauma dirawat selama seminggu saat ia kena DBD.


Zaki sedikit kesal, lalu melihat-lihat ke sekeliling mobil ini untuk mencari kotak P3K. Ia berusaha mencari, tetapi ia sama sekali tidak menemukan benda yang ia cari.


Kia heran dengan apa yang Zaki lakukan. Ia hanya memandang ke arahnya, dan tetap diam.

__ADS_1


‘Dia nyari apa?’ batin Kia heran.


Karena tak menemukan apa yang ia cari, Zaki pun memandang ke arah Kia dengan dalam.


“Tunggu sebentar lagi, kita ke apotek beli perban sama tissue. Setelah itu langsung ke rumah sakit,” ujar Zaki, membuat Kia mendelik kaget mendengarnya.


“Gak usah ... lebay banget, sih!” tolak Kia, Zaki tetap memaksakan kehendaknya.


“Gak, lo harus ke rumah sakit! Gak bisa enggak!” ujar Zaki, yang lalu bersiap untuk mengendarai kembali mobilnya.


“Gak usah!” bentak Kia, karena tak ingin datang kembali ke rumah sakit, karena traumanya.


Zaki mendelik, “Kalau gue bilang ikut, ya ikut!” bentak balik Zaki, sontak membuat Kia mendelik kaget mendengar bentakannya.


Mereka sama-sama terdiam, dengan spekulasi masing-masing mengenai pribadi satu sama lain. Namun, Zaki menyadari bahwa sikapnya sudah salah, karena ia tidak bisa menahan diri di hadapan Kia.


“Gue gak suka ya lo bentak-bentak gue begini! Kenal juga baru, udah berani bentak-bentak! Sadar diri, lo itu siapa, hah?” bentak Kia, dengan matanya yang melotot ke arah Zaki.


Zaki tertegun, karena ia merasa salah memperlakukan Kia.


“I’m sorry, gue gak maksud begitu ke lo. Hanya saja, gue trauma karena udah kehilangan orang yang gue sayang untuk selamanya. Sekarang, gue gak mau kejadian itu terulang lagi sama lo!” ujar Zaki, membuat Kia semakin tidak habis pikir dengan perkataannya.


“Apa lo bilang? Memangnya gue orang yang lo sayang, sampai lo begini ke gua?” tanya Kia, sontak membuat Zaki mendelik kaget mendengarnya.


Zaki menghela napasnya dengan panjang. ‘Lo emang bukan orang yang gue sayang, tapi lo adalah orang yang sangat Zain sayang. Gue juga gak rela lihat lo sampai kenapa-napa,’ batin Zaki, yang tidak mungkin menjawab hal seperti ini kepada Kia.


Sejenak mereka saling tatap, tak bisa berkata apa pun. Kia masih mempertahankan egonya, sementara Zaki bingung harus mengatakan dan menjelaskan apa lagi untuk membawa Kia ke rumah sakit.


‘Mau gak mau, gue harus ceritain semuanya ke dia,’ batin Zaki, merasa harus melakukan hal ini.

__ADS_1


“Gue punya kakak laki-laki. Dia punya pacar, yang mana pacarnya ternyata adalah orang yang dari dulu gue incar,” ujar Zaki, terhenti karena mengambil jeda.


“Lo curhat?” tanya Kia dengan ketus, tetapi Zaki tak menghiraukannya.


“Tolong dengar sebentar, gue mohon,” ujar Zaki, Kia pun terpaksa harus diam dan mendengarkannya.


“Jadi, mereka sering jalan bareng. Di suatu waktu, mereka pengen ke pantai untuk habisin waktu bersama. Gak sengaja, di perjalan mereka menuju ke arah yang ingin mereka tuju, terjadi kecelakaan kecil sampai membuat cewek itu terbentur keningnya. Kakak gue udah ngajak dia ke RS tapi dia gak pernah mau. Alhasil, setelah beberapa lama, si cewek ngeluh sakit kepala terus. Lo tau apa yang terjadi?” tanya Zaki, membuat Kia merasa sangat penasaran dengan kelanjutannya.


“Apa?” tanya Kia, dengan nada yang masih malu-malu.


“Dia ... kena tumor di kepalanya. Dia meninggal, dalam keadaan gak pernah sama sekali mendapatkan perawatan. Semua berawal dari benturan itu, dan kakak gue ngerasa bersalah sampai detik ini. Kakak gue ... sekarang jadi gila karena merasa bersalah dan menyesal,” ujar Zaki, menjelaskan secara gamblang semua yang terjadi dengan kakaknya.


Kia mendelik kaget, ternyata ini yang dialami oleh Zaki dan juga kakaknya.


Zaki memandang dalam ke arahnya. “Lo memang bukan orang yang gue sayang, tapi setidaknya ... lo juga punya orang yang sayang sama lo. Jangan sampai lo bikin mereka khawatir, karena keadaan yang seperti ini,” ujar Zaki, sontak membuat Kia mendelik tak percaya dengan apa yang Zaki katakan.


“Jangan sampai Zain ....” Zaki tak bisa mengatakan kelanjutannya. “Ah, sudahlah. Yang penting, saat ini kita rontgen dulu kepalanya. Apa ada benturan yang bikin lo sakit, atau enggak,” ujarnya, sontak membuat Kia mendelik tak percaya dengan apa yang Zaki katakan.


‘Apa? Dia bilang Zain?’ batin Kia, heran dan bingung dengan apa yang Zaki katakan itu.


Tanpa menunggu persetujuan dari Kia, Zaki pun membawa Kia ke rumah sakit terdekat, untuk memeriksakan benturan di kepalanya.


Walaupun Kia tidak ingin melakukannya, tetapi karena mendengar nama Zain, ia jadi ingin melakukan hal tersebut.


Zaki mengusap darah pada kening Kia, sembari tetap mengemudikan mobilnya. Darahnya ia usap kembali ke bajunya, karena di mobil itu sama sekali tidak terdapat tissue.


Melihat perlakuan Zaki padanya, Kia merasa tersentuh. Ia merasa sosok Zain ada kembali, tetapi dalam bentuk yang berbeda. Walaupun Zaki sudah melakukan hal kasar, dengan membentak dirinya tadi, tetapi Kia merasa itu adalah hal yang wajar. Mengingat Zaki yang memang memiliki riwayat trauma, karena hal tersebut.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2