
‘Ternyata begitu ...,’ batin Zifa, yang merasa berpikir lain tentang Zaki.
Zifa berpikir kalau Zaki ingin sekali mendekati Kia, untuk dijadikan sebagai kekasihnya. Mengingat Kia yang sudah tidak bersama dengan Zain lagi, ia mengira Zaki akan memanfaatkan keadaan ini.
‘Aku kira dia akan mendekati Kia, karena tau Kia sudah sendiri,’ batin Zifa, merasa sangat tenang kalau sudah mengetahui seperti ini.
Zifa menghela napasnya dengan panjang, “Ya sudah, gue mau ke kelas dulu. Jangan lupa, be your self,” ujarnya.
Zaki mengangguk, “Ya, be my self.”
“Oke, bye,” pamit Zifa.
“Eh, tunggu!” pekik Zaki, yang membuat Zifa menghentikan langkahnya.
“Ada apa lagi?” tanya Zifa heran.
“Tolong atur pertemuan gue sama Kia, jam istirahat di sini. Gue udah ngajak dia makan siang tadi,” pinta Zaki, Zifa pun mengangguk kecil.
“Gue usahain.”
“Harus bisa, karena gue mau mulai pendekatan sama dia, supaya dia bisa lebih mengenal gue,” ujar Zaki yang setengah memaksa Zifa.
Zifa menghela napas panjang, “Siap, Bos! Jangan lupa traktir makan siang!” ujarnya dengan setengah serius mengatakannya kepada Zaki.
“Minta aja sama Zain,” seloroh Zaki, membuat Zifa sedikit kesal mendengarnya.
“Gimana bisa? Jangan ngaco deh!” bentak Zifa, membuat Zaki tertawa kecil mendengarnya.
“Ya, tenang aja. Everything you want, I’ll give it!” ujar Zaki, membuat Zifa tersenyum senang mendengarnya.
“Okay!”
Zifa pun pergi dari sana, meninggalkan Zaki sendiri. Memandang kepergian Zifa, Zaki malah menjadi sendu karenanya.
“Gimana bisa gue suka sama Kia? Tugas gue hanya menjaga, bukan memiliki. Memang dari dulu pun begitu, waktu sama cewek itu pun. Yang penting mereka aman, soal hati ... lihat nanti aja,” gumam Zaki, yang benar-benar tidak terpikirkan tentang hal itu.
Sementara itu di sudut taman kampus yang sepi, Adnan merasa sangat kesal dengan hal itu. Kia memang sudah tidak bersama dengan Zain lagi, tetapi Kia kini malah menggandeng pria lain di hadapannya.
__ADS_1
“Gue gak habis pikir! Bahkan makam Zain aja belum kering! Kenapa Kia udah main hati sama cowok lain?” gerutu Adnan, kesal dengan keadaan yang ada.
Tak sengaja, Azura yang melintas pun mendengar gerutu Adnan. Ia lantas saja menghampirinya, dan kini memandang sinis di hadapan Adnan.
“Heh, lo ngapain ngomong tentang makamnya Zain?” tanya Zura dengan sinis.
Adnan mengubah posisi duduknya, “Apaan sih? Kenapa emangnya?” tanyanya juga dengan nada yang sinis.
“Gak suka gue!” bentak Zura, Adnan memasang tampang menjengkelkan di hadapan Zura.
“Gak suka? Lo gak berhak atas itu! Zaskia yang berhak atas Zain seutuhnya!” bentak balik Adnan, sontak membuat Zura mendelik kesal mendengarnya.
“Apa lo bilang? Kia itu cuma lagi beruntung aja karena bisa dapetin Zain lebih dulu! Kalau gak ada kejadian yang membuat Zain meninggal, mungkin gue akan ngerebut Zain dari dia!” ujar Zura, membuat Adnan menyeringai mendengarnya.
“Sekarang Zain udah gak ada, lo gak akan bisa dapetin dia. Beda sama gue. Zain gak ada, akan mempermudah gue untuk mendapatkan Kia!” Adnan mengatakan semua yang ia pikirkan di hadapan Zura.
Zura menyunggingkan senyumannya, “Lo pikir akan semudah itu dapetin Kia? Gue akan siksa dia pelan-pelan, karena dia penyebab Zain meninggal!” ujarnya.
Adnan mendelik, “Jangan gila, Zura! Kia sama sekali gak ada hubungan dengan tewasnya Zain! Bagus Zain tewas, gue jadi bisa deketin Kia sekarang.”
“Gue gak akan biarin lo dapetin Kia!” ancam Zura, membuat Adnan memandangnya dengan sinis.
“Zura, inget satu hal. Sedikit pun lo sentuh Kia, gue akan balas 10 kali lipat dari apa yang udah lo lakuin ke dia. Gue akan menghalalkan segala cara, biar lo dapet semua balasan karena udah nyakitin Kia!” ancam Adnan, sontak membuat Zura tercengang mendengarnya.
“Lo ngancam gue?” tanya sinis Zura, tak terima mendengar ancaman dari Adnan.
“Why not? Gue akan ngelakuin apa pun, demi bisa dapetin Kia. Gue juga akan memastikan Kia baik-baik aja dan tidak tersentuh tangan kotor lo!” ujar Adnan, yang lalu segera pergi dari hadapan Zura.
Zura memandang kepergiannya dengan tidak percaya, karena ternyata Adnan masih saja mengincar Kia untuk didapatkan.
“Lihat aja, gue bakalan bikin Kia malu setelah ini!” gerutu Zura, yang lalu segera pergi dari sana untuk menuju ke arah kelasnya.
***
Jam makan siang sudah tiba. Kia sangat takut untuk keluar kelas, karena ia tidak ingin bertemu lagi dengan Zaki.
Zifa yang baru saja selesai mengemas barang-barangnya, mendapati Kia yang hanya duduk dengan keadaan yang sepertinya sangat gelisah.
__ADS_1
“Kamu kenapa, Kia? Ada yang kamu pikirin?” tanya Zifa dengan penuh kelembutan.
Kia memandang ke arahnya, “Aku gak apa-apa, Zifa.”
Walaupun Zifa mendengar jawaban Kia yang mengatakan bahwa tidak ada masalah dengannya, tetapi Zifa sangat tahu dan paham dengan keadaan dan kondisi Kia saat ini.
“Gak makan siang?” tanya Zifa, Kia menggeleng.
“Aku kenyang.”
Zifa menatapnya heran, “Memangnya pagi tadi makan apa?” tanyanya, tetapi Kia hanya diam saja mendengarnya.
Mengetahui Kia yang sedang berbohong, Zifa pun menghela napasnya dengan panjang. “Kak Fikar minta aku buat jaga kamu. Tolong, jangan bikin dia khawatir, ya!” ujarnya, membuat Kia menyadari akan hal itu.
Karena ini sudah menyangkut tentang kakaknya, Kia pun hanya bisa mengangguk kecil, ketika mendengar ucapan Zifa, dan ia akhirnya mau menurut dengan Zifa.
“Ya udah, temenin aku makan siang sekarang. Aku sebenarnya laper banget,” pinta Kia, yang tak berani mengatakan tentang Zaki padanya.
Zifa tersenyum, “Ya, ayo kita makan!” ajaknya.
Zifa sangat senang, karena rencananya hampir berhasil. Ia tinggal mencari cara, agar bisa mempertemukan Kia kembali dengan Zaki.
Mereka berjalan menuju ke arah kantin, dengan Kia yang tidak ingin berjalan dekat dengan arah meja tempat Zaki berada. Ia sengaja berjalan menjauhi Zifa, sehingga membuat Zifa heran melihatnya.
“Kenapa Kia? Ada yang salah?” tanya Zifa, yang berpura-pura saja tidak mengerti.
Kia menggelengkan kepalanya kecil, “Gak ada apa-apa.”
Mereka pun melanjutkan perjalanan, sehingga mereka sampai di kantin.
Anehnya, Kia sama sekali tidak mendapati Zaki di sana. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah di dalam kantin ini, tetapi ia tetap tidak menemukan keberadaan Zaki.
Di saat yang bersamaan, Zaki pun datang dari arah belakang Kia, berusaha untuk mengejutkan Kia dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
“Nyariin gue, ya?” tanya Zaki tepat di telinga Kia, yang sukses membuat Kia berteriak dan langsung melayangkan tangannya ke arah wajah Zaki.
PLAK!
__ADS_1
BERSAMBUNG....