Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Kekesalan Fikar


__ADS_3

HAPPY READING...


“Ugh!” gumam Zaki, yang saat ini tubuhnya sudah tersungkur di atas lantai.


Zifa mendelik kaget melihat penyerangan Zaki yang tiba-tiba. Ia lebih terkejut, ketika melihat Fikar yang menghajar Zaki, sehingga membuatnya bangkit dari tempat ia duduk.


“Fikar ....” Zifa tak bisa berkata-kata, dan hanya menutupi mulutnya yang menganga saja. Ia tidak bisa mengatakan apa pun, karena ternyata Fikar sudah mengetahui apa yang ia lakukan bersama dengan Zaki.


“Sialan! Kenapa lo ngomong begitu ke pacar gue!” bentak Fikar, yang tak terima mendengar ucapan Zaki pada Zifa.


Ya, karena baru saja datang, Fikar hanya mendengar percakapan terakhir mereka saja. Percakapan itu membuat Fikar naik pitam, saking kesalnya ia mendengar ucapan mereka yang seperti selingkuhan yang sedang berselingkuh di belakangnya.


Zaki berusaha menahan rasa kesalnya, karena ia mendengar bahwa pria yang menghajarnya itu ternyata adalah kekasih dari Zifa. Hal itu membuatnya menahan diri, karena ia juga sadar bahwa Fikar adalah kakak dari Kia.


“Udah Fikar, jangan lanjutin lagi ....” Zifa yang merasa bersalah pada Zaki, sontak menahan lengan tangan Fikar. Hal itu membuat Fikar memandangnya dengan sinis.


Pandangan sinis itu baru pertama kali Zifa lihat dari Fikar. Tidak heran, karena Fikar sudah salah paham dengannya, hanya karena mendengar separuh percakapan mereka saja.


Tubuh Zifa mendadak lemas, ketika melihat sorot mata Fikar yang sangat sinis dan tajam.


“Aku malas ya ada drama begini!” bentak Fikar, Zifa hanya bisa menunduk, takut dengan sikap kasar Fikar yang emosinya sedang memuncak saat ini.


Zaki sontak bangkit dari tempat ia tersungkur, karena melihat Zifa yang dibentak seperti itu oleh Fikar.


“Bro, sorry ... ini gak seperti yang lo pikirin. Gue mohon, jangan bentak Zifa, karena dia gak salah apa-apa,” ujar Zaki, yang berusaha untuk melindungi Zifa dari Fikar.

__ADS_1


Fikar memandang sinis ke arah Zaki, “Lo!” pekiknya, yang lalu segera menarik kerah baju yang Zaki kenakan. “Siapa lo sebenarnya, hah?” teriaknya, yang emosinya sudah meluap-luap.


“Sorry, Bro. Gue gak ada maksud buat deketin, emm ... pacar lo,” ujar Zaki, yang masih tetap tenang karena memang ia tidak merasa bersalah di sini.


Zifa bergeming, tak bisa melakukan apa pun lagi di hadapan Fikar yang sedang meluapkan emosinya. Ia hanya bisa memandang sendu ke arah mereka, yang saat ini sedang terlibat emosi.


“Gue gak mau drama, ya! Gue gak tahu lo siapa! Yang gue tau, lo ada di CCTV dan tinggal di sebelah ruangan apartemen Zain! Sekarang, lo dengan asyiknya bareng sama pacar gue, di tempat tinggal Zain! Lo ini siapa, sih?” bentak Fikar, membuat Zaki menghela napasnya dengan panjang.


“Bro, bisa lepasin gue dulu, gak? Biar gue jelasin yang sebenar-benarnya,” pinta Zaki.


Karena sudah terlalu marah, Fikar sampai tidak membiarkan mereka menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ia malah membiarkan amarahnya menguasai dirinya sendiri, padahal itu jelas bukan dirinya yang sebenarnya.


Dengan perasaan yang masih kesal, dan lirikan yang agak malu, Fikar pun melepaskan dengan kasar kerah kaus yang Zaki kenakan. Ia merasa harus mendengarkan penjelasan mereka, karena ia sama sekali tidak mengetahui duduk permasalahannya.


“Makasih, karena lo udah mau nurutin yang gue pinta,” ujar Zaki, Fikar memandangnya dengan sinis.


“Kita mau bicara sambil berdiri aja?” tanya Zaki heran, Fikar merasa sedikit malu, lalu segera duduk pada sofa yang tersedia.


Zaki mengikuti Fikar duduk di sofa, sementara Zifa masih saja berdiri di hadapan Fikar. Fikar menyadarinya, dan lalu menarik tangan Zifa dengan lembut, untuk duduk di sebelahnya. Zifa menurut, karena ia tidak ingin ada kesalahan lagi di antara mereka.


Itulah Fikar. Semarah apa pun dia, tidak sampai hati menelantarkan Zifa dan membiarkan Zifa dalam kekecewaan yang berlarut. Jika dipikir kembali, ini adalah kali pertama Fikar membentak Zifa. Selama ini, mereka sama sekali tidak pernah berada dalam permasalahan yang besar.


Fikar menatap sinis ke arah Zaki. “Lo itu sebenarnya siapa?” tanyanya, dengan tegas dan tajam.


“Nama gue Zaki. Gue sebenarnya bukan siapa-siapa Zain. Tapi karena gak sengaja gue ngelihat arwah Zain di pemakaman saat itu, Zain jadi terus minta tolong sama gue, buat ngejaga Kia,” jawab Zaki, membuat Fikar mendelik tak percaya mendengarnya.

__ADS_1


“Jadi, lo lelaki yang waktu itu di makam?” tanya Fikar dengan nada yang tidak percaya.


Zaki mengangguk kecil mendengarnya, “Gue ... lagi mengunjungi makam teman. Gak sengaja ngelihat Zain, yang lagi murung banget saat Kia dan lo pergi dari sana. Gue ... bisa dibilang memang punya sedikit keistimewaan, dengan melihat hal-hal gaib seperti itu. Makanya, gue bisa ngelihat Zain, dan sekarang malah berteman sama gue. Belakangan ini gue tau, kalau ternyata gue sama dia tinggal sebelahan,” papar Zaki, membuat Fikar tidak percaya dengan hal itu.


“Apa? Mana mungkin? Lo bukan lagi nutupin, kejahatan lo yang sebenarnya udah bunuh Zain, bukan?” tanya Fikar, yang ternyata masih saja menuduh Zaki yang sudah membunuh Zain.


Zaki menghela napasnya dengan panjang. “Gue sama sekali gak bunuh dia. Memang di CCTV itu ada seseorang yang berusaha banget buka ruangan apartemen gue, tapi itu bener bukan gue. Saat itu kalau gak salah ... gue lagi ngunjungin kakak gue, dan gak balik ke apartemen sampai besoknya gue ketemu sama lo dan juga Kia,” jawab Zaki, berusaha untuk membela dirinya sendiri di hadapan Fikar.


Fikar tentu saja tidak memercayainya. “Mana bukti kalau lo gak balik saat kejadian malam itu?” tanyanya.


Zaki sedikit berpikir, dan ia pun teringat dengan hasil foto di kamera handphone-nya. Ia baru ingat, kalau ia memotret kondisi kakaknya, yang sebenarnya ingin sekali ia tunjukkan kepada kekasih kakaknya yang sudah meninggal itu, saat berziarah ke makamnya.


Memang kadang aneh, tetapi keanehan itu justru membawa berkah bagi Zaki. Ia jadi memiliki bukti, bahwa ia tidak kembali ke apartemennya malam itu.


Zaki mengeluarkan handphone-nya, dan memperlihatkannya kepada Fikar. Fikar melihat ke arah layar handphone-nya dengan saksama.


“Ini ... bukti kalau malam itu gue gak balik ke apartemen. Gue semalaman di sana, sampai sore gue ke makam teman gue,” papar Zaki menjelaskan.


Fikar sebenarnya sangat sulit untuk memercayainya, tetapi memang benar bukti yang Zaki berikan, dengan informasi mengenai waktu diambilnya foto tersebut.


Namun, Fikar masih saja tidak terima jika Zaki mendekati Zifa.


“Terus, lo ngapain deketin Zifa? Ada hubungan apa lo sama pacar gue?” tanya sinis Fikar, membuat Zifa memandangnya dengan sendu.


“Sayang ....”

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2