
Happy reading....
Zain sampai di dalam kamarnya, meletakkan jas hitam dan dasi tersebut di dalam keranjang khusus baju kotornya, lalu segera membuka kemeja yang ia kenakan.
Bahu kekarnya terlihat dari sisi belakangnya, dengan otot-otot yang membentuk pada bagian tangan dan perut. Dadanya pun terlihat sangat kekar, terlihat sangat jelas kalau Zain sering melatih tubuhnya.
Zain memandang ke arah cermin besar yang ada di hadapannya, sembari menghela napasnya dalam-dalam.
“Jangan dipikirin lagi, ya?” pinta Zain.
Walaupun Zain sudah berkata demikian, tetapi ia tahu Kia tidak akan pernah melakukannya. Kia pasti akan terus memikirkan hal tersebut, sampai dia benar-benar lupa, dan teralihkan dengan apa yang sudah ia pikirkan itu.
Tak ada suara di sana, membuat Zain merasa curiga dengan apa yang Kia lakukan. Zain ingin sekali melihat Kia, sebelum ia beristirahat dengan tenang.
“Kia? Lagi apa?” tanya Zain lagi dengan lembut.
Terdengar isak tangis Kia yang masih tersisa. Sepertinya, Kia berusaha untuk menghapus tangisnya dan bersikap seperti biasa di hadapan Zain.
“Aku masih di sini, kok. Dengerin kamu ngomong, gak lagi ngelakuin apa-apa,” jawab Kia, dengan suara yang sengau.
__ADS_1
Zain tersenyum, “Boleh video call?” tanya Zain, membuat Kia segera membuka kamera di hanphone-nya.
Terlihat wajah Kia yang sudah memerah, dengan bekas air mata yang masih membasahi area sekitar wajahnya. Zain mengerucutkan bibirnya, berusaha untuk menghibur hati Kia.
Simsalabim!
Tak butuh waktu lama, Kia yang melihat bibir Zain yang mengerucut, sontak tertawa karenanya.
Zain juga malah ikut tertawa, saking lucunya ekspresi tertawa Kia, yang tak sengaja sampai membuat handphone Kia terjatuh menimpa keningnya.
“Aduh!” rengek Kia, sembari mengusap-usap keningnya yang tertimpa handphone yang ia pegang di hadapannya.
“Zain, handphone-nya kena kening aku!” rengek Kia, yang berhasil memosisikan kembali handphone-nya, di arah hadapannya.
Zain kembali pada ekspresinya yang datar, tanpa tertawa seperti saat handphone Kia terjatuh tadi. Ia tidak ingin membuat Kia marah, karena itu akan lebih menghambatnya lagi, untuk beristirahat dengan tenang.
“Pukul handphone-nya,” suruh Zain, membuat Kia bertambah merengek mendengarnya.
“Apaan, sih? Sakit banget habis kecium handphone, masa disuruh pukul handphone-nya lagi, sih?” rengeknya lagi, Zain memandangnya dengan tatapan yang mengoda.
__ADS_1
“Kalau dicium aku, pastinya gak sakit, dong?” seloroh Zain, sukses membuat wajah Kia kembali memerah karena malu.
Zain tertawa kecil, melihat Kia yang sedang menahan rasa malunya di hadapannya.
Tak sadar, mata Kia mendelik, karena ia melihat Zain yang saat ini sedang bertelanjang dada.
Dengan segera, Kia menutup matanya di hadapan Zain, “Zain, kenapa gak pakai baju?!” pekiknya malu, Zain memandang ke arah tubuhnya, dan ia pun tersadar dengan dirinya yang tidak mengenakan pakaian.
“Ya, aku mau mandi. Boleh gak aku mandi sekarang?”
“Ya udah mandi sana!” suruh Kia, yang sudah terlanjur malu melihatnya.
Rasa gemas itu kembali muncul, setelah melihat ekspresi Kia yang terlihat malu-malu di hadapannya, yang sedang bertelangjang dada itu.
“Ya sudah, aku matiin ya teleponnya. Bye,” ujar Zain.
Perasaan Kia sangat berat untuk melepaskan Zain, tetapi ia harus membiarkan Zain untuk membilas tubuhnya dan beristirahat.
“Bye,” ujar Kia, yang lalu segera mengakhiri teleponnya dengan Zain.
__ADS_1
BERSMBUNG.....