
“Lagian lo, gue baru dateng belum sempat duduk, lo udah komentarin semua apa yang ada di diri gue! Harusnya lo tuh biarin gue duduk dulu karena capek habis nyetir. Lumayan lho, nyetir setengah jam ke sini butuh effort yang besar, untuk gue bawa mobil itu. Apalagi tadi gue sampai diledek sama orang gak jelas, gara-gara gue benerin rambut di depan mobil gue sendiri!” ujar Zaki kesal, membuat Kia penasaran dengan apa yang terjadi dengannya.
“Lo kenapa? Coba kasih tahu ke gue?” tanya Kia, dengan sedikit tawanya.
Zaki pun duduk pada kursi yang berada di hadapan Kia. “Ceritanya gue turun dari mobil, terus gue nggak PD dong, karena rambut gue. Ya akhirnya gue ngaca lah di mobil itu. Mobil yang baru gue bawa ke sini. Lo tau ‘kan mobil gue itu bagus? Mobil sport ye ‘kan? Mereka mikir kalau gue tuh cuman sekedar ngaca doang, numpang aja gitu. Mereka enggak tahu kalau gua itu yang punya mobil itu, gitu loh!” papar Zaki panjang lebar.
Mendengar ucapan Zaki, Kia pun tertawa mendengarnya. “Terus gimana?” tanya Kia lagi.
“Ya terus gue kasih paham lah! Gue keluarin ya ‘kan kunci mobil gue yang di kantong. Terus gue bunyiin tuh mobil. Terus mukanya langsung berubah jadi nggak jelas gitu, kayak orang kesel tapi gimana gitu ya ‘kan,” ujar Zaki menjelaskan, membuat Kia merasa ucapan dan cerita Zaki sangatlah lucu baginya.
Mereka tertawa dan sejenak melupakan keadaan yang ada. Mereka pun hanyut dalam tawa itu, dan Zaki tidak ambil pusing. Ia meneruskan apa yang saat ini sedang terjadi di antara mereka.
“Eh terus tau nggak, tadi itu ceweknya ‘kan ada ya di samping cowoknya, terus dia sebelumnya tuh kayak yang ngeledekin gue gitu ‘kan ... tahu nggak setelah gue ngebunyiin alarm mobil dia gimana reaksinya?” tanya Zaki, membuat Kia semakin penasaran mendengarnya.
“Gimana memang dia reaksinya?” tanya balik Kia, yang menantikan punch line dari cerita yang Zaki ceritakan padanya.
“Dia langsung godain gue dong ... ngedipin mata gitu kayak ... look at me gitu ‘kan. Gue ngeliatnya kayak geli banget gitu, ada ya orang kayak gitu? Ketahuan banget suka harta orang!” ujar Zaki, membuat Kia semakin tertawa saja mendengarnya.
“Lagian muka lo enggak menunjukkan kalau lo punya mobil itu, sih! Jadi mereka tuh enggak percaya sama lo jadinya!” ujar Kia, membuat Zaki merasa kesal mendengarnya.
“Sialan lho, mobil itu punya gue lah. Mereka aja yang enggak pernah percaya, dan saat gue tunjukin, mereka malah kayak malu gitu ‘kan ... kena loh!” ujar Zaki, mereka pun sejenak tertawa karena mendengar cerita lucu dari Zaki, sampai akhirnya mereka pun tersadar karena ada seorang pelayan yang menghampirinya.
“Permisi, mau pesan apa?” tanyanya membuat Kia langsung mengambil daftar menu yang ada di atas mejanya.
__ADS_1
“Oh ya, saya pesan es krim kesukaan saya ya, Mbak. Gelato yang Matcha.”
Pelayan itu pun mencatat apa yang menjadi pesanan Kia. Mendengar ucapan Kia, Zaki memandangnya dengan heran, karena setahunya dia tidak menyukai es krim matcha.
“Ada lagi yang ingin dipesan?” tanya pelayan tersebut.
“Oh ya, saya vanilla oriental aja,” ujar Zaki yang sedikit tersadar dari lamunannya.
“Baik, ditunggu ya. Terima kasih,” ujar pelayan itu dengan ramah, kemudian segera pergi dari hadapan Kia dan juga Zaki.
Zaki memandang heran ke arah Kia. “Kok lo pesan es krim mactha, sih? Bukannya lo nggak suka, ya? Bukannya lo lebih suka es krim coklat?” Zaki membuat Kia terdiam sejenak mendengarnya.
‘Ternyata dia tahu apa yang menjadi kesukaan gue,’ batin Kia, yang secara diam-diam menilai Zaki dengan penilaiannya sendiri.
“Ya, gue lebih suka coklat. Tapi gue mau nyoba aja es krim yang rasa matcha tuh gimana rasanya. Apa sama kayak biasanya, atau makin enak ‘kan gue nggak tahu ya ‘kan? Pengolahan dari karyawan juga ‘kan tiap hari pasti berubah rasanya,” ujar Kia, membuat Zaki terdiam mendengarnya.
‘Apa Zain salah kasih info, ya? Kenapa Kia malah mesen yang matcha? Padahal Zain ngasih tahu lho, kalau dia tuh sama sekali nggak suka matcha. Malah matcha itu es krim kesukaannya Zain,’ batin Zain, merasa bingung mendengarnya.
Karena sudah tidak ingin berlarut-larut, Zaki pun berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraannya. Ia merasa harus bisa mengalihkan pembicaraan yang rancu, membuatnya harus memutar otak untuk menanyakan topik.
“Kia, itu ... kening lo udah sembuh?” tanya Zaki, membuat Kia memandangnya sambil memegang plester yang menempel pada keningnya.
“Ah? Udah lebih baik dari sebelumnya, kok. Gue udah bisa pakai plester. Darahnya juga udah berhenti, tinggal fokus hilangin bekas lukanya aja,” jawab Kia, membuat Zaki tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
“Syukurlah. Gak ada yang lo rasain lagi? Sakit atau perih gitu?” tanya Zaki, Kia menggelengkan kecil kepalanya.
“Gak ada.” Kia menjawabnya dengan singkat, membuat Zaki hanya bisa mengangguk kecil mendengarnya.
Mereka terdiam lama sekali, sampai akhirnya Zaki pun memandang ke arahnya.
“Kia, apa yang lo pengen tahu tentang gue?” tanya Zaki, Kia akhirnya berfokus kepada Zaki.
“Gue gak mau lo sampai salah sangka, ya. Disclaimer dulu, gue cuma mau tahu, karena kita sekarang ‘kan udah jadi teman. Gue mau tahu lo, dan lo juga harus tahu tentang gue seutuhnya,” ujar Kia, Zaki memandangnya dengan heran.
‘Tanpa lo kasih tahu pun, gue udah tahu tentang lo sepenuhnya,’ batin Zaki, merasa sangat lucu jika ia harus mengetahui dua kali, Segala hal tentang Kia.
Kia memandang Zaki dengan dalam, “Jangan sampai kita gak tau sama sekali tentang pribadi kita masing-masing,” ujarnya, membuat Zaki mengangguk kecil mendengarnya.
“Ya, gue pasti akan kasih tau lo, segalanya tentang gue. Jangan sampai ada salah paham di antara kita,” ujar Zaki, membuat Kia tersenyum mendengarnya.
“Berapa lama lo akan jaga gue?” tanya Kia, Zaki memandangnya dengan dalam.
“Sampai ada orang lain yang bisa menjaga lo, buat gantiin gue,” jawab Zaki, membuat Kia sedikit terkejut mendengarnya.
‘Dia bukan Zain, ‘kan? Dia mirip seperti Zain,’ batin Kia, merasa aneh saat ini di hadapan Zaki.
Kia malah mengira, bahwa Zaki sangat mirip dengan Zain. Ia malah merasa sedang berbincang dengan Zain, membuatnya merasa tidak bisa membedakan hal itu.
__ADS_1
Di matanya, mereka sama saja. Hanya berbeda fisik dan wajah saja. Sekilas secara sifat dan sikap, mereka hampir sama, dan Kia hampir sulit membedakan keadaan.