Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Sudah Tahu Semua


__ADS_3

Fikar memandang dalam ke arah Zifa, “Maafin aku, Sayang. Aku nggak bisa menahan diri malam itu. Aku benar-benar khilaf melakukannya,” ujarnya dengan memohon.


Zifa melirik ke arah Zaki, yang saat ini hanya memandang mereka saja.


“Lo udah tahu semuanya?” tanya Zifa, Zaki pun mengangguk mendengarnya.


“Iya, gue udah tahu,” jawab Zaki dengan singkat, padat, dan jelas.


Zifa kembali memandang ke arah Fikar. Ia merasa sangat kesal, karena Fikar yang sama sekali tidak gentlemen menurutnya.


“Kamu tuh gak jelas banget, sih! Harusnya itu kamu ngomong langsung ke aku, nggak usah pakai perantara siapa pun! Kamu ngerti nggak, sih!” bentak Zifa, membuat Fikar semakin sedih mendengarnya.


“Aku udah effort, loh, buat hubungin kamu. Tapi kamu sama sekali nggak angkat telepon aku, nggak bales chat aku, lalu kau harus gimana? Sementara untuk ke kosan kamu aja, kamu selalu ngelarang aku. Kamu nggak masuk ke kampus, pokoknya intinya kamu membatasi diri deh dari aku. Jadi aku harus gimana? Mau bersikap gentle seperti apa?” Fikar mengeluh di hadapan Zifa, membuat Zifa tetap saja tidak bisa melupakannya.


“Ya gimana caranya, tapi nggak kayak begini juga caranya, dong! Kasih waktu aku biar tenang dulu! Aku nggak bisa langsung ngasih kabar ke kamu! Aku juga nggak bisa gitu aja ngelupain kejadian semalam,” ujar Zifa, membuat Fikar mengerti dengan apa yang Zifa maksudkan.

__ADS_1


Namun, tetap saja Fikar tidak bisa seperti itu. Ia tidak bisa melakukan apa yang Zifa minta, karena yang ia inginkan hanya bisa menghubungi Zifa. Banyak sekali yang ingin Fikar sampaikan, tetapi aksesnya dibatasi Zifa, sehingga membuat dirinya merasa kalang kabut saat ini.


“Ya nggak bisa gitu dong, Zifa! Paling nggak kamu kirim pesan chat kek, kalau kamu tuh baik-baik aja. Aku tuh mikirnya kamu kenapa-napa. Aku gak tau ‘kan? Makanya aku nggak bisa tidur dari semalam mikirin kamu. Paginya pun aku lihat kamu nggak ada di tempat biasa kita ketemu, terus aku tanya Zaki kamu nggak masuk ke kampus. Aku khawatir, sementara telepon pun nggak diangkat, gimana aku bisa tahu keadaan kamu sekarang coba?” ujar Fikar, yang merasa sangat cemas dengan keadaan Zifa saat ini.


Syifa terdiam sejenak, ia merasa ucapan Fikar ada benarnya juga. Namun, ia tidak bisa semudah itu melakukan sesuatu, yang tidak ia senangi. Ia merasa harus menjaga dirinya lebih dulu dari sesuatu yang dapat merusak mentalnya.


“Ya sudah, mau kamu gimana? Aku memang gini adanya. Selama beberapa tahun ini kita memang nggak pernah berantem, tapi sekalinya berantem kita kayak gini. Kalau kamu nggak bisa nerima aku, kamu bisa stop kok untuk mencintai aku. Aku sama sekali gak pernah mengharapkan lebih dari kamu, yang sangat sempurna di mata aku!” ujar Zifa, membuat Fikar tidak rela mendengarnya.


“Kamu nggak pernah mengharap lebih dari aku? Gimana maksudnya? Aku sangat sempurna? Memangnya kamu nggak sempurna?” tanya Fikar merasa tidak paham dengan apa yang Zifa katakan.


“Kamu ngomong apa sih, Zifa? Bagi aku kamu itu wanita paling bersinar, yang pernah aku kenal! Kamu jangan pernah ngomong yang aneh-aneh, dong! Aku sama sekali nggak bisa kalau tanpa kamu! Aku udah berusaha buat ngelupain semua permasalaha yang terjadi sama kita! Tapi kalau seandainya perlakuan kamu seperti itu ke aku, ya aku nggak bisa terus-terusan seperti ini. Aku juga butuh kepastian dari kamu!” sanggah Fikar, Zifa hanya memandangnya dengan tajam.


“Kepastian apanya, Fikar? Apa yang harus dipastiin? Apa maksud kamu kepastian untuk hal intim seperti semalam? Kamu kurang yakin kalau aku memang baru pertama kali ngelakuin itu sama kamu? Oh ... apa kamu kurang puas pertama kali coba sama aku, terus kamu mau coba sama yang lain lagi? Oh atau rasanya beda sama wanita sebelum aku?” Zifa menuduhnya terus-menerus dengan perlakuan yang sedikit kasar.


Namun Fikar yang tidak merasa melakukannya, hanya bisa memandangnya dengan tatapan yang sendu.

__ADS_1


“Aku sama sekali nggak pernah ngelakuin itu. Sebelum malam kemarin, kamu wanita pertama di hati aku. Wanita pertama yang udah izin aku untuk merasakan semuanya. Sebelumnya sama sekali aku nggak pernah yang namanya menyentuh wanita.”


“Jadi itu alasan kamu, agar kamu menyentuh aku sekarang?” pangkas Zifa, membuat Fikar semakin tidak bisa mengatakan apa pun lagi di hadapannya sekarang.


“Zifa, please ... dengerin aku dulu. Aku udah mau tanggung jawab sama kamu. Aku mau secepatnya menikah dengan kamu. Aku hanya mau ngomongin ini semalam, tapi kamu sama sekali nggak ada kabar dan membatasi diri dari aku,” ujar Fikar membuat Zifa memandangnya dengan sinis.


“Menikah? Apa kamu yakin mau menikah sama aku yang nggak ada apa-apanya ini? Fikar, kamu harusnya sadar diri, dong! Kamu itu seorang CEO di sebuah perusahaan besar! Sementara aku apa? Kuliah pun belum lulus, masa depan nggak ada hidup sebatang kara. Mau bagaimana lagi? Kita berdua tuh berbanding terbalik! Aku nggak mau sama sekali membuat kamu merasa malu, sama aku. Aku sadar diri,” ujar Zifa, membuat Fikar menggeleng mendengarnya.


“Aku sama sekali nggak peduli soal itu. Aku juga nggak peduli kalaupun nantinya orang mikir yang macam-macam tentang kamu. Aku pasti akan belain kamu, karena cuma kamu yang aku sayang. Aku nggak peduli apa kata orang, yang penting aku bisa sama kamu udah cukup bagi aku.” Fikar mengutarakan perasaannya di hadapan Zifa.


Melihat mereka yang sepertinya sedang membicarakan tentang permasalahan yang mereka alami, Zaki pun hanya bisa memandang mereka sembari memakan camilan dan meminum minuman ringan yang ada di hadapannya. Pemandangan kali ini persis seperti bioskop bagi Zaki, yang hanya menikmati alur, sehingga membuatnya sedikit terpacu mendengarnya.


‘Gue nggak nyangka gaya pacaran mereka begitu. Tapi sih dengar-dengar dari permasalahannya, kayaknya mereka baru sekali melakukan hal seperti itu,’ batin Zaki, yang merasa tidak menyangka dengan apa yang terjadi dengan mereka.


Walau demikian, Zaki sama sekali tidak berkomentar dan berbicara apa pun. Ia hanya memandangi mereka saja, sembari menghabiskan camilannya yang ada.

__ADS_1


“Maaf Fikar, aku nggak bisa nerima orang yang udah ngerusak semua impian dan cita-cita aku. Aku nggak bisa nerima kamu. Aku juga nggak bisa menikah dengan kamu. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing dan jangan pernah sekalipun kamu mencari aku lagi,” ujar Zifa, membuat Fikar mendelik kaget mendengarnya.


__ADS_2