
“Iya, hati-hati di jalan, ya! Tolong kasih tahu dosen tentang masalah ini,” pinta Kia, Zifa pun mengangguk kecil mendengarnya.
“Iya, tenang aja. Ya udah kalau gitu, Kakak juga mau kerja dulu. Kamu hati-hati ya di sini. Jagain Zaki yang benar, kalau seandainya lapar, kamu minta tolong suster untuk belikan makanan,” ujar Fikar, membuat Kia mengangguk mendengarnya.
“Oke, Kak!” ujar Kia.
Karena sudah berpamitan dengan Kia, dan Fikar pun pergi dari ruangan rawat Zaki. Mereka berjalan bersebelahan, dengan tatapan mata yang sama sekali tidak memandang satu sama lain. Mereka hanya memandang ke arah hadapan mereka, dengan langkah yang canggung. Karena teringat dengan apa yang sudah terjadi malam tadi.
Fikar melirik ke arah Zifa, “Mau aku antar ke kosan?” tanyanya, membuat Zifa pun melirik ke arahnya.
“Nggak usah, aku bisa pulang sendiri naik taksi online,” tolak Zifa mentah-mentah, membuat Fikar gemas mendengarnya.
Tangannya pun meraih lengan tangan Zifa, lalu menariknya untuk berjalan lebih cepat. Zifa merasa kaget dan bingung, dengan apa yang Fikar lakukan padanya.
“Kamu ngapain? Lepasin aku!” tanya Zifa, dengan volume suara yang agak ia tekan, khawatir mereka semua mendengar apa yang ia katakan.
Zifa sama sekali tidak ingin mengundang perhatian mereka.
“Ayo, aku antar aja kamu pulang, terus aku antar kamu kampus,” ujar Fikar, tetapi Zifa sangat tidak setuju dengan apa yang Fikar katakan.
“Aku nggak mau, aku bisa pulang sendiri!” tolak Zifa, membuat Fikar semakin menekan tangannya pada lengan tangan Zifa.
“Aku khawatir sama keselamatan kamu. Kamu harus aku antar pulang dan aku antar ke kampus. Kalau perlu nanti aku jemput juga setelah aku pulang kantor. Aku nggak mau kejadian yang terjadi sama Zaki, terjadi sama kamu juga,” ucap Fikar, seraya berjalan ikuti dengan Zifa di belakangnya.
Zifa tak banyak menolak dan melawan, ia hanya diam sembari mengikuti apa yang Fikar katakan. Karena sejujurnya, ia juga sangat takut kalau saja para berandal itu datang di hadapannya, tetapi tidak ada siapavpun yang menolongnya. Zaki yang lelaki hanya ditusuk menggunakan pisau, sementara Zifa mungkin akan diperlakukan yang lebih dari itu, dan dilecehkan jika bertemu dengan para berandal itu.
__ADS_1
‘Aku juga nggak mau kalau misalkan mereka melakukan hal yang buruk sama aku. Kalau mereka ketemu sama aku nanti. Lebih baik untuk saat ini, aku nyari aman aja deh dan nggak menolak apa yang Fikar katakan,’ batin Zifa, yang merasa harus mengikuti apa yang Fikar katakan.
Mereka pun akhirnya pergi ke tempat yang ingin mereka tuju, kemudian Fikar mengantarkan Zifa ke kampus.
Sementara itu, Kia meninggalkan sejenak Zaki untuk membeli sarapan untuk dirinya sendiri. Dia sudah menitipkan Zaki pada suster, karena ia merasa khawatir dengan segala kemungkinan yang terjadi saat ia tidak ada di samping Zaki. Karena untuk meminta tolong kepada suster membelikan makanan untuknya, itu hal yang kurang etis baginya.
Setelah membeli makanan, ia pun kembali ke ruangan kamar rawat Zaki. Ternyata di sana, Zaki sudah sadar dan sedang dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter terhadap lukanya. Kia yang baru saja datang, segera meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja, kemudian berdiri di hadapan Zaki saat ini sudah sadarkan diri.
“Akhirnya lo sadar juga,” ujar Kia yang merasa sangat senang ketika melihat Zaki sadar dari masa kritisnya.
Zaki yang masih lemas, hanya bisa memandang ke arah Kia tanpa bisa mengatakan apa pun.
Kia memandang ke arah suster, “Kapan dia siuman, suster?” tanya Kia penasaran dengan keadaan Zaki saat ini.
Walaupun saat Zaki sadar ia tidak ada di sekitar Zaki, tetapi terasa senangnya itu sudah menutupi semua perasaan hatinya.
Para perawat yang memeriksa Zaki, keluar dari ruangan. Sebelum mereka keluar, mereka telah memesan kepada Kia untuk memberikan obat sesuai dengan jam dan menyuapi sarapan untuk Zaki. Karena tubuh Zaki yang terlalu lemah, sehingga tidak bisa untuk melakukannya sendiri.
Qalaupun Kia merasa agak canggung, tapi ia yang bertanggung jawab atas kesalahan ini. Ia tidak ingin jika sampai terjadi sesuatu pada Zaki, sehingga membuatnya semakin merasa bersalah.
Ini adalah satu-satunya cara untuk dirinya menebus rasa bersalahnya, karena saat kejadian ini juga menimpa Zain, Kia tidak bisa melakukan apa pun dan hanya menangis, karena Zain sudah tiada.
Kini, Kia pun memandang dalam ke arah Zaki, yang saat ini masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Wajahnya terlihat pucat pasi, seperti orang yang kekurangan darah. Ia pun duduk pada kursi yang berada di sebelah kanan Zaki. Zaki menghela napas panjang, karena ia merasa dadanya sangat sesak saat ini.
Namun saat ia menghela napas, perutnya terasa sangat sakit akibat tusukan dari brandal itu.
__ADS_1
“Lo nggak apa-apa?” tanya Kia, Zaki pun masih berusaha menahan sakit yang berasal dari perutnya.
“Iya, nggak apa-apa,” jawab Zaki, sembari menghela napasnya dalam-dalam.
Kia mengerti saat ini Zaki sedang menahan rasa sakit pada perutnya. Karena Kia yang tidak ingin membebankan pikiran Zaki lebih dulu, ia tidak bertanya apa pun dulu mengenai permasalahan ini. Ia berfokus untuk merawat Zaki, dengan cara memberikan obat dan juga menyuapi makan kepadanya.
Kia mengambil semangkuk bubur yang sudah disiapkan oleh pihak rumah sakit, kemudian ia menyuapi sesendok ke arah Zaki.
“Ayo makan dulu, habis itu kita minum obat,” suruh Kia membuat Zaki menggeleng mendengarnya.
Kia pun merasa bingung, karena sebelum Zaki minum obat ia harus lebih dulu makan.
“Jangan gitu dong, Zaki. Lo harus makan sekarang. Setelah makan, lo harus minum obat biar luka lo cepat kering dan nggak basah lagi,” bujuk Kia tetapi Zaki tidak ingin melakukannya.
“Gue nggak mau minum obat,” tolak Zaki, sontak membuat Kia merasa kesal mendengarnya.
“Apa lo nggak mau minum obat? Lo mau keadaan lo terus-terusan kayak gini?” tanya Kia dengan sinis, membuat Zaki memandangnya dengan sendu.
“Gue lagi nggak mood,” ujar Zaki yang merasa sedang tidak mood untuk makan saat ini.
Namun Kia harus memaksanya makan, bagaimanapun caranya Zaki harus makan, karena ia harus meminum obatnya segera.
Kia pun menghela napasnya, “Ya udah, kalau nggak mau makan gue juga belum makan kok. Berarti gue nemenin lo ya, biar kita sama-sama nggak makan,” ujar Kia yang berusaha untuk membuat penawaran kepada Zaki.
“Nggak bisa gitu dong, Kia. Lo tahu, lo harus makan. Lo harus jaga kesehatan lo. Lo jangan mikirin gue, yang penting itu lo yang makan,” bantah Zaki membuat Kia merasa kesal mendengarnya.
__ADS_1