Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Fokus


__ADS_3

Kia membuang pandangannya dari Zaki, karena ia merasa ucapan Zaki sudah melebihi batas yang ada. Ia merasa ucapan Zaki adalah ucapan yang bisa membuat dirinya salah tingkah. Bahkan bukan hanya dirinya saja, orang lain pun yang mendengar ucapan Zaki mungkin akan melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan saat ini.


“Apaan sih? Kok lo nggak jelas deh!” bentak Kia yang merasa sudah sangat malu di hadapan Zaki.


Melihat ekspresi Kia yang terlihat malu-malu, Zaki pun hanya bisa tertawa kecil, karena ia merasa ekspresi yang Kia lakukan sangatlah imut baginya. Ia merasa mulai menyukai Kia, dari hal-hal seperti ini.


‘Ternyata dia imut juga kalau lagi kayak gini. Kenapa dia nggak begini aja setiap hari, ya?’ batin Zaki yang malah menginginkan lebih dari hubungan mereka saat ini.


Namun, ia segera tersadar. Karena tujuan awal dirinya adalah menjaga Kia. Jika ia mendapatkan Kia nantinya, mungkin itu adalah bonus baginya.


‘Ya ... untuk sekarang, fokus untuk menjaga Kia lebih dulu. Jangan sampai gue terlena dengan perasaan gue sendiri sama dia. Karena sepertinya gue udah mulai jatuh cinta sama dia,’ batin Zaki yang merasa harus menahan diri di hadapan Kia.


Kia memandang ke arah Zaki dengan datar, “Udah, jangan ketawa melulu! Sekarang waktunya makan siang! Lo harus minum obat, setelah makan siang! Biar jahitannya cepat kering, biar lo cepat pulih juga dan bisa beraktifitas seperti biasa!” ujarnya, membuat Zaki mengangguk kecil mendengarnya.


“Oke, gue mau makan, tapi suapin lagi ya?” ujar Zaki, yang memesan kepada Kia untuk menyuapinya kembali.


Kia memandangnya dengan ketus, “Lo nggak bisa makan sendiri, ya? Gue aja selama pacaran sama Zain, baru beberapa kali aja gue nyuapin dia. Dan itu pun bukan gue yang minta, tapi dia yang minta,” ujar Kia yang merasa keberatan dengan yang Zaki inginkan.


Zaki memandangnya dengan datar, “Ya terus, apa hubungannya gue sama Zain? Gue ‘kan cuma minta lo suapin gue, udah itu aja. Gue nggak nanya tuh, lo udah berapa kali lo suapin Zain, selama kalian pacaran,” gerutu Zaki, membuat Kia memandangnya dengan datar.


“Kenapa emangnya? Gue ‘kan ngasih tau doang! Ada masalah kalau gue ngasih tahu ke lo?” tanya ketus Kia.


“Harusnya gue yang ngomong gitu, memangnya ada masalah kalau gue nggak mau tahu? Memangnya masalah kalian itu penting banget buat gue, penting banget gitu buat gue tahu?” tanya Zaki, yang tak kalah ketusnya dengan yang Kia lakukan padanya.


Mendengar ucapan Zaki, Kia pun merasa kesal dan mau tidak mau menyuapi Zaki.

__ADS_1


“Udah ah, gue gak mau nyuapin lo!” bentak Kia, yang merasa sangat malas berhadapan dengan Zaki saat ini.


“Ya udah, gue gak maksa lo, kok!” ujar Zaki.


Karena Kia menyadari kondisi Zaki yang saat ini sedang tidak bisa melakukan apa pun, ia mengalah dan malah segera ingin menyuapinya.


“Ya udah, gue suapin lo sekarang. Tapi lo nanti harus bayar ya,” ujar Kia membuat Zaki merasa bingung mendengarnya.


Zaki memandang heran ke arah Kia, karena ia bingung mendengar Kia yang membuka jasa untuk menyuapinya.


“Lo buka jasa buat nyuapin orang, ya?” tanya Zaki, Kia mendelik mendengarnya.


“Hah, maksud lo apa? Buka jasa buat nyuapin orang gimana maksudnya?” tanya Kia, yang merasa bingung mendengar pertanyaan Zaki saat ini.


“Ya lo harus bayar, bukan bayar pakai duit! Gue nggak bilang kan kalau lo harus bayar pakai duit!” Kia memandangnya dengan ketus, membuat Zaki memandangnya tak kalah ketus dari yang Kia lakukan.


“Ya lo belum bilang mau bayar pakai apa? Gue ‘kan tahunya alat pembayaran itu duit. Ya mana gue tahu kalau bukan duit?” sahut Zaki, membuat Kia merasa gemas mendengarnya.


“Ya lo lagian, gue belum bilang, kenapa lo udah nyahut duluan gitu? Kayak burung beo aja,” ucap Kia dengan gemas.


Zaki tertawa kecil mendengar perbincangan aneh mereka, membuat Kia juga ikut tertawa karenanya.


“Apaan sih? Kok random banget?” tanya Zaki, yang merasa aneh dengan apa yang mereka bicarakan itu.


“Ya udah, lo mau apa nggak intinya?” tanya Kia.

__ADS_1


Zaki memandangnya bingung, “Ya gue harus bayar pakai apa kalau bukan pakai duit?” tanya Zaki dengan ketus kembali.


“Lo nggak harus bayar gue pakai uang, tapi lo harus masakin gue nanti kalau lo udah pulih. Terus gentian, lo yang suapin gue. Gimana?” tawar Kia, membuat Zaki menggeleng kecil mendengarnya.


“Gimana sih? Lo nyuapin gue doang, sementara gue harus buatin makanan buat lo? Terus nyuapin lo? Kok kayak nggak adil gitu ya?” tanya Zaki, membuat Kia merasa kesal mendengarnya.


“Ya udah sih jangan begitu ... lo intinya mau nggak? ‘Kan keadaannya sekarang lo lagi sakit dan gak bisa ngapa-ngapain, sementara gue sehat walafiat. Gue bisa ngelakuin apa aja yang gue mau, jadi lo harusnya bergantung sama gue, dan mau penawaran gue ini,” ujar Kia yang memaksa Zaki untuk melakukannya.


Karena tidak punya pilihan lain, Zaki pun akhirnya mengangguk kecil mendengarnya.


“Iya, gue mau kok suapin lo makan. Terus gue bakalan buatin makanan yang enak buat lo,” ujar Zaki, membuat Kia merasa senang mendengarnya.


“Oke, sekarang gue bakalan suapin lo,” ujar Kia, yang lalu segera mengambil bubur yang sudah disiapkan pihak rumah sakit untuk Zaki.


Satu suapan mendarat di mulut Zaki, dengan Zaki yang perlahan menelan suapan pertama yang Kia berikan padanya.


“Oh ya, nanti lo masih hutang sama gue buat pergi ke Timezone dan juga liburan ke gunung! Gue mau lo nepatin janji lo ke gue, setelah nanti lo pulih,” ujar Kia, Zaki pun mengangguk mendengarnya.


“Ya, nanti gue bakalan ngajak lo ke Timezone dan juga ke gunung. Gue juga bakalan nyuapin lo, dan juga masakin makanan buat lo,” ujar Zaki, yang menegaskan kepada Kia, membuat Kia merasa senang mendengarnya.


“Makasih, pokoknya gue tunggu sampai lo pulih!” ujar Kia, dengan sangat bersemangat.


Kia merasa dirinya menemukan kembali seseorang yang cocok untuk ia ajak pergi, kemana pun ia inginkan. Karena ketika Zain sudah tiada, ia sudah tidak pernah lagi pergi kemana pun. Bahkan ia sudah tidak pernah lagi mencicipi masakan Zain, setelah Zain tiada.


“Berarti sekarang lo harus fokus ngerawat gue, biar gue cepet sembuh. Dan gue bisa mewujudkan semua yang lo mau,” ujar Zaki, membuat Kia tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2