Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Gak Tenang


__ADS_3

Happy reading.....


Zain berkacak pinggang di hadapannya, “Mana janjimu? Aku sudah menunggumu sejak tadi!”


Zaki tidak memedulikannya. Ia malah melangkah ke arah sofa dan duduk di sana.


Zain mengikutinya. Kini ia berdiri di hadapan Zaki, menagih apa yang sudah Zaki janjikan padanya.


“Mana janji kamu? Saya ingin kamu menjaga Kia, karena saya nggak bisa ngejaga dia lagi. Kamu ‘kan tahu, sekarang kita sudah beda alam,” ujar Zain yang setengah memaksa kehendaknya kepada Zaki.


Zaki pun setengah tidak memedulikannya, “Kamu ‘kan tahu, kalau kamu sudah beda alam sama dia! Kenapa kamu masih tetap keras buat ngejaga dia? Biarkan orang lain yang menjaga dia! Masih ada keluarganya, masih ada teman-temannya, sahabatnya mungkin, kamu nggak perlu khawatir dan gak perlu jadi arwah gentayangan seperti ini!” ocehnya panjang lebar.


“Masalahnya saya nggak tenang, kalau dia belum ada yang jaga! Gak ada satu orang pun yang bisa melihat saya, kecuali kamu. Cuma kamu yang bisa menolong saya. Gak ada lagi yang bisa menolong saya. Masa kamu tega gak mau nolongin saya?”


Napasnya ia hela panjang, kepalanya sedikit pusing, karena mendengar ocehan arwah yang tidak bisa ia hentikan itu.


‘Kalau gini caranya, nggak bakalan ada ketenangan di hati gue. Gue nggak bisa ngejalanin hidup seperti dulu!’ batin Zaki yang merasa tidak bisa melakukannya.

__ADS_1


Matanya menatap tajam ke arah Zain, “Saya nggak bisa ngelakuin itu, karena saya mempunyai alasan tersendiri untuk menolaknya!” ujarnya yang tetap kukuh.


Saking kesalnya mendengar ocehan dan penolakan dari Zaki, Zain pun memandangnya dengan sinis, karena hanya Zaki satu-satunya yang bisa menolongnya.


Jika Zain kehilangan Zaki, mungkin Zain tidak akan pernah bisa tenang dengan keadaan Kia.


“Ya sudah, kalau kamu tidak mau, saya pastikan kamu tidak akan tenang! Saya akan tetap di sini, sampai kamu mau melakukan apa yang saya inginkan!” ancamnya, membuat Zaki merasa ketakutan sendiri.


Keningnya berpeluh, Zaki merasa terpojok saat ini. Ia tidak bisa menolak permintaan si arwah gentayangan ini, karena dirinya tidak bisa mengusir arwah ini.


Zaki menghela napasnya dengan berat, “Ya sudah, saya mau ngejalanin apa yang kamu minta! Tapi tolong, jangan muncul tiba-tiba seperti sebelum-sebelumnya! Saya belum terbiasa dikagetkan seperti itu!” ujarnya yang menyerah kepada Zain.


Paling tidak, sedikit banyaknya Zain merasa sangat tenang. “Syukurlah kalau kamu menerima apa yang saya inginkan. Saya nggak akan pernah muncul tiba-tiba seperti itu lagi. Saya janji,” ujar Zain.


Zaki tidak menghiraukannya dan malah melangkah ke arah dapurnya.


“Saya lapar, mau makan!” ucap Zaki sembari melangkah ke arah dapur, yang terletak tak jauh dari tempat ia duduk.

__ADS_1


Karena merasa penasaran, Zain pun mengikutinya dan berdiri di sekitar Zaki, yang saat ini sedang memasak.


Hal ini memang biasa Zaki lakukan, karena ia tidak terbiasa untuk memesan makanan secara online. Ia selalu menyempatkan untuk memasak, karena dirinya yang tidak ingin terlalu banyak menghamburkan uang, dan juga tentunya dengan alasan kesehatan.


Diambilnya beberapa bahan makanan di dalam kulkasnya, seperti jagung pipil, daging ayam cincang, telur omega dan lain sebagainya.


Zaki juga mengambil sebuah panci untuk memasak makanan, yang akan ia makan nantinya.


Melihat bahan-bahan makanan tersebut, Zain mengerti kalau Zaki memiliki keahlian memasak yang mumpuni.


Merasa penasaran dengan apa yang Zaki masak, Zain pun memperhatikannya dengan saksama.


“Kau mau masak apa?” tanya Zain.


“Sup jagung ayam, ditambah mozzarella,” jawabnya seadanya, sembari mencampurkan seluruh bahan-bahan yang akan dipakai untuk membuat masakan tersebut.


“Lalu apa lagi?” tanya Zain lagi.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2