Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Aku Kangen


__ADS_3

Happy reading...


Tidak seperti pasangan lainnya, yang bahkan melakukan hal-hal yang melampaui batas bersama dengan pasangannya. Kia menjalani hubungan dengan Zain, tanpa melakukan hal apa pun.


Hanya sebatas berpegangan tangan, dan juga merangkul satu sama lain.


Berciuman dan berpelukan seperti tadi saja, baru mereka rasakan menjelang upacara sumpah setia mereka, yang akan dilaksanakan besok.


Memikirkan hal seperti itu, membuat Kia merasa sangat merindukan sosok Zain itu. Ia merasa sangat rindu, dan ingin menghubungi Zain di sana.


“Zain lagi apa, ya?” gumamnya, yang langsung mengubah posisinya menjadi berbaring, sembari mengambil handphone-nya yang terletak tak jauh dari tempatnya berbaring.


Jemarinya sangat lincah, hanya beberapa detik saja ia bisa menemukan kontak Zain, yang memang sudah tersemat di bagian atas layar utama aplikasi chat miliknya.


Sembari menunggu Zain menerima teleponnya, Kia pun memainkan jemarinya pada handphone yang ia pegang.


Di sana, Zain terlihat sangat lelah. Ia merasa keningnya sangat tegang, dan tubuhnya merasa lemas.


Zain duduk manis di sofa apartemennya. Ia memijat lembut keningnya yang tegang, berharap rasa tegang itu hilang setelah dipijat olehnya.


DRING!


Handphone Zain berdering, membuat perhatiannya tersita sepenuhnya ke arah handphone tersebut.


Pada layar handphone tersebut, tertera nama ‘Kia’ lengkap dengan emoticon love. Membaca namanya, membuat Zain tersenyum. Ia merasa sangat senang, karena rasa penatnya yang hilang seketika, ketika melihat nama Kia tertera pada layar handphone-nya.

__ADS_1


Dengan segera, Zain menerima telepon dari calon istrinya itu, dan mendekatkan handphone-nya ke arah telinganya.


“Halo,” sapa gadis cantik di seberang sana, yang sangat merindukan lelaki berusia 28 tahun itu.


“Halo, Kia.” Zain tersenyum ketika mendengar suara Kia.


“Kamu udah sampai apartemen?” tanyanya dengan lembut.


Hati Zain tenang, setelah mendengar suara Kia. Setelah rasa tegang pada keningnya terasa, ketika mendengar suara Kia, rasa itu seketika hilang karenanya.


“Ya, aku sudah sampai di apartemen,” jawab Zain.


“Kamu lagi ngapain?” tanyanya yang penasaran dengan kegiatan kekasihnya saat ini.


Pembawaan Zain yang sangat lembut, dan rasa cinta yang selalu Kia rasakan, membuatnya sangat menikmati kebersamaannya dengan kekasihnya itu.


Kia membenamkan wajahnya pada boneka yang ia peluk, “Lagi mikirin kamu,” jawabnya dengan nada-nada yang terdengar sangat manja.


Lagi-lagi perasaan malu itu muncul, walaupun ia tidak berhadapan dengan Zain secara langsung. Wajahnya menjadi merah merona, dengan telinga yang terasa panas, membuatnya merasa tidak sepenuhnya fokus berbincang dengan Zain.


Zain tersenyum, karena mendengar jawaban Kia yang terselip nada malu di dalamnya.


“Kamu lagi mikirin aku? Memangnya aku kenapa?” tanya Zain dengan senyuman yang tidak bisa luntur.


Kia mengganti posisinya, menjadi menelungkup dengan kedua kakinya yang ia lipat ke arah atas. Ia menggoyangkan kedua kakinya, karena ia merasa malu berbicara dengan Zain, yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.

__ADS_1


“Aku ... kangen,” jawab Kia, Zain tertawa renyah mendengarnya.


Karena mendengar tawa Zain yang renyah, hal itu cukup membuat Kia merasa sedih.


“Kamu kenapa ngetawain aku?” tanya Kia dengan sangat sedih, membuat Zain merasa kalau dirinya secara tidak langsung sudah membuat Kia sedih.


“Maaf, ya. Aku bukan bermaksud bikin kamu sedih,” ujar Zain, membuat Kia menjadi agak emosi mendengarnya.


“Kamu kenapa ketawa begitu? Memangnya kamu gak kangen sama aku?” tanya Kia, yang nadanya terdengar setengah ngambek.


Zain menghela napasnya dengan panjang. Ia tidak menyangka, tertawanya saja bisa membuat Kia ngambek seperti ini.


“Aku tadi ketawa, karena kamu lucu. Kita ‘kan ... baru ketemu tadi, kenapa kamu udah kangen aja sama aku?” ujar Zain, membuat Kia merasa sangat malu mendengarnya.


“Ya tetep aja, kalau gak ngeliat kamu tuh ... bawaannya kangen terus!” ujarnya dengan sedikit membentak, tetapi Zain sama sekali tidak membalas bentakannya itu.


Memang Zain sama sekali tidak pernah membentak Kia. Ia malah tertawa, ketika Kia membentaknya, atau merajuk padanya. Ia sama sekali tidak ingin ambil pusing, dan sebisa mungkin bersikap baik pada Kia, bahkan saat Kia dalam keadaan merajuk sekalipun.


“Kamu gemesin,” gumam Zain dengan lirih, yang masih terdengar jelas oleh Kia.


“Memangnya kamu gak kangen sama aku?” tanya Kia, mengulangi pertanyaan yang sama dua kali.


Zain berdehem sejenak, “Emm ... kangen gak, ya?” selorohnya, membuat Kia tertawa kecil mendengar suara Zain yang meledeknya.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2