Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Gagal Karena CCTV


__ADS_3

Happy reading...


“Gimana, sih? Bodoh banget, masa sih lo gak tau ada CCTV di apartemen mewah begitu?!” pekik seseorang dari telepon seluler, yang memaki orang suruhannya untuk lekas membunuh seorang yang bernama Zain.


Orang yang selalu menghambatnya, dalam mendekati Kia. Ia merasa sangat tersaingi, karena ternyata Kia lebih memilih dosen kaku itu, dibandingkan dirinya.


Hatinya terluka, karena cintanya yang ternyata tak terbalaskan oleh sang pujaan hati. Hal itu yang menyebabkan ia mengambil jalan pintas, untuk membuat semuanya menjadi kacau-balau, seperti yang ia inginkan.


“Sorry, Bos. Saya gak sadar, nafsu mau buru-buru bunuh dia, malah saya gak sadar kalau di sana ternyata ada CCTV,” ujarnya mengelak, membuat orang yang berada di balik telepon itu merasa sangat muak mendengarnya.


“Gue gak mau tau, ya. Lo harus secepatnya bunuh dia! Jangan sampai lo ketauan, karena gue gak mau masuk penjara!” bentaknya, yang merasa keberatan dengan apa yang anak buahnya lakukan.


Sosok misterius yang merupakan bawahan dari orang ini, hanya bisa mengangguk kecil sembari berdeham, berusaha memberikan isyarat tentang kesanggupannya, dalam menjalankan tugasnya itu.


Telepon terputus, sosok itu pun menunggu dengan tenang di basement tempat ia menaruh mobilnya, yang jauh dari tempat Zain menyimpan mobilnya.


“Apa gue putusin aja rem mobilnya?” gumamnya, yang merasa senang ketika muncul ide tersebut pada benaknya.


Lelaki misterius itu bersiap untuk mengambil sebuah benda, yang berguna untuk memutuskan tali rem mobil Zain. Ketika benda itu sudah berada di tangannya, ia bergegas keluar dari mobilnya, dan segera menuju ke arah mobil Zain.

__ADS_1


Langkahnya sangat hati-hati, karena pandangannya yang sembari ia edarkan ke arah sudut-sudut basement. Ia merasa sangat kesulitan, karena di setiap sudut penyanggah basement, terdapat sebuah kamera CCTV yang bisa merekam aktivitasnya di sana.


Keningnya mengerut, saking kesalnya ia dengan semua penjagaan yang ketat pada apartemen ini.


‘Cih, kenapa semuanya ada CCTV, sih? Gue jadi susah buat ngebunuh dia secepatnya,’ batinnya, yang merasa kesulitan untuk melakukan sesuatu, untuk mencelakakan Zain.


Karena melihat banyak sekali kamera di setiap sudut penyanggah gedung ini, sosok itu pun mengurungkan niatnya untuk membuat kekacauan pada mobil Zain. Ia melangkah kembali ke arah mobilnya, dan masuk dengan perasaan yang sangat kesal.


“Cih, lagi-lagi harus menunggu! Kapan selesai tugas ini? Gue udah butuh banget dananya, buat biaya operasi anak gue!” gumamnya, yang melakukan semua ini karena ada keterpaksaan.


Bagaimana ia bisa menolaknya? Harga yang ditawarkan orang tersebut sangatlah fantastis. Bahkan uang bayaran dari pekerjaan ini, bisa ia pakai separuhnya untuk berfoya-foya.


Namun, karena memang tidak ada waktu luang saat ini, ia memilih menunggu, agar ia tidak mendapatkan hal buruk setelah nanti melakukan tugasnya yang sangat berat.


Sementara itu, di sana Kia sedang senyum-senyum tak menentu. Ia menelungkup di atas ranjangnya, sembari memeluk boneka setinggi 1 meter, hadiah pemberian Zain bulan lalu.


Kia masih merasakan sensasi yang aneh pada mulutnya, yang tadi dicium oleh Zain. Ia tidak pernah merasakan berciuman dengan lelaki mana pun. Hanya Zain yang berhasil mendapatkan ciuman pertamanya.


Karena itu, Kia masih merasakan sensasi yang aneh pada bibirnya. Ia tidak bisa menceritakannya dengan kata-kata, dan hanya ia yang bisa merasakannya.

__ADS_1


‘Zain ....’ Kia merasa wajahnya panas, ia pun segera menenggelamkan wajahnya pada boneka yang sedari tadi ia peluk.


Matanya mengintip, karena ia merasa sangat senang dengan keadaan ini.


‘Kenapa bisa memabukkan gini? Kenapa bisa jadi candu? Dia ... ternyata sangat lihai berciuman,’ batin Kia, yang merasa sangat aneh, dengan Zain yang bisa melakukan hal itu dengan sangat baik.


‘Apa ... dia udah sering ngelakuin itu, ya? Makanya dia lihai banget tadi,’ batinnya, yang sudah melantur jauh sekali.


Kesadarannya kembali, setelah beberapa saat pikirannya melantur jauh. Ia membekap mulutnya, saking tidak percayanya ia pada dirinya sendiri, karena sudah memikirkan hal yang terlalu vulgar seperti itu.


Gadis sepolos Kia, bisa memikirkan hal seperti itu.


Buru-buru ia menepiskan pemikiran negative itu. Ia sangat merasa aneh, dan malah merasa bukan menjadi dirinya, ketika memikirkan hal tersebut.


Namun, hatinya yang sebelah lagi membantah. Ia merasa wajar memikirkan hal itu, karena dirinya yang memang akan menjadi Nyonya Zain.


“Ah, gak apa-apa! Kita ‘kan ... sebentar lagi akan melakukan sumpah pertunangan. Hal-hal seperti itu, harusnya wajar, dong! Kenapa memangnya dengan hal itu? Nanti juga ngerasain hal begitu sama Zain! Kenapa haru malu, sih?!” gumamnya, yang memaki dirinya sendiri yang terlalu polos.


Kia merasa sangat kesal dengan dirinya, yang masih terlalu polos walaupun usianya sudah menginjak 23 tahun. Ia merasa aneh, karena dirinya yang tidak pernah melakukan hal itu dengan Zain.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2