Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Belum Bisa Melupakan


__ADS_3

Happy reading..


Entah sudah berapa hari Kia tidak terisi makanan. Saat ini, perutnya terasa sangat sakit, dan hendak memakan sesuatu di dapur.


“Aku lapar,” gumam Kia, yang tidak bisa menghindari hal tersebut.


Walaupun ia tidak nafsu makan, tetapi Kia masih tetap merasakan sakit pada perutnya. Ia harus makan, kalau ia tidak ingin perutnya menjadi sakit.


Dilangkahkan kakinya turun, ke arah ruangan makan.


Ia penasaran, apa saja yang dimasak Bunda pagi ini, untuk memulai harinya yang baru, tanpa adanya Zain.


Karena berpura-pura bahagia, juga memerlukan tenaga.


“Bunda,” sapa Kia, yang kini sudah berada di hadapan Bunda dan keluarganya.


Mereka memandang ke arah Kia dengan senyuman, karena ternyata Kia yang sudah lebih kuat dari sebelumnya.


“Selamat pagi, Sayang,” sapa balik Bundanya.


Kia duduk di antara Ayah dan juga Fikar. Sembari memandang ke arah meja makan, ia menemukan makanan kesukaannya.


“Sup jagung ayam!” gumam Kia, dengan matanya yang sudah berbinar melihatnya.

__ADS_1


Nafsu makan Kia langsung bertambah, ketika melihat makanan kesukaannya berada di hadapannya.


Fikar mengetahui itu, dan segera mengambilkan sup tersebut ke hadapan Kia.


“Makan yang banyak, jangan sampai sakit. Ingat, perjalanan masih panjang,” ujarnya, sembari meletakkan sup tersebut di hadapan Kia.


Kia tersenyum tipis di hadapan Kakaknya, “Makasih, Kak.”


Dengan lahapnya, Kia mengeksekusi makanan kesukaannya tersebut, sehinga nafsu makannya meningkat.


Kia juga melahap sandwich berisi telur ceplok setengah matang, yang terlihat sangat menggugah nafsu makannya.


Memang, Kia sangat menyukai makanan ini. Baru kemarin ia membuatkan makanan ini untuk Zain, tetapi ... ia sudah kehilangan Zain saat ini.


Selera makan Kia mendadak turun, ia merasa perasaan sedih dan kehilangan itu datang kembali, dan membuatnya merasa sangat tidak berdaya.


Diletakkan sendok yang ia pegang, pada pinggir mangkuk. Kia sudah tidak berselera lagi.


Melihat Kia yang sepertinya bersikap aneh, Fikar merasakan hal tersebut.


“Supnya gak dimakan?” tanya Fikar, Kia memandang ke arah mereka dengan sendu.


“Kia mau berangkat sekarang ke kampus,” ujar Kia, tanpa memedulikan ucapan Fikar padanya.

__ADS_1


Kia pun berlarian keluar rumah, membuat mereka saling melemparkan pandangan.


Fikar lalu bangkit sambil memandang ke arah Kia, “Kia!” pekiknya, yang langsung mengejar ke arah Kia.


Kia segera keluar dari sana, dan bingung harus naik apa ke tempat kuliahnya. Biasanya, Zain selalu menjemput Kia, untuk pergi ke kampus bersama-sama. Namun sekarang, Kia menyadari, sudah tidak ada lagi yang akan menjemputnya untuk sama-sama pergi ke kampus.


Kia mengusap kasar wajahnya, ‘Biasanya Zain yang jemput aku. Sekarang aku sama siapa?’ batinnya, yang merasa sangat bingung.


Perasaan takut dan khawatir itu muncul kembali. Kia kembali berpikir, kalau ia tidak bisa tanpa Zain.


Zain ada di setiap sisi kehidupan Kia. Entah sedih ataupun bahagia, Kia merasa tenang bila bersama dengan Zain.


“Sekarang gimana ...,” gumam Kia, yang sudah tidak mengerti lagi dengan keadaannya.


Fikar pun datang dengan napas tersengal, memandang ke arah Kia yang sepertinya sangat kebingungan itu.


“Kia, kamu mau ke mana? Berangkat sama siapa?” tanya Fikar, Kia memandangnya dengan bingung.


“Sama ...,” gumamnya dengan neada yang menurun, sembari menundukkan kepalanya, “Zain ....”


Fikar menghela napasnya dengan panjang, karena ternyata Kia masih belum bisa melupakan sosok Zain.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2