
“Hello ... jangan lo pikir kalau gue sepupuan sama Kia, gue bisa tahu semua aktivitas yang Kia lakuin! Gue sama sekali nggak tahu Kia di mana, karena gue bukan satpamnya! Gue nggak tahu di mana dia berada! Jangan tanyain gue!” bentak Zura, membuat Adnan memandangnya dengan sinis.
“Ya lo bantu dong tanyain ke kakaknya kek, atau ke orang tuanya kek, kenapa dia bisa nggak masuk kampus sekarang!” suruh Adnan membuat Zura menatapnya dengan sinis lagi.
“Lo sekarang nyuruh gue?” tanya Zura, yang tak terima mendengar ucapan Adnan itu.
Adnan menghela napasnya panjang. “Tolong hubungi Fikar atau yang lainnya. Tanya gimana kabar Kia sekarang, kenapa Kia nggak masuk ke kampus, udah itu aja,” suruh Adnan, membuat Zura memandangnya sejenak.
“Ada untungnya nggak buat gue?” tanya Zura, yang to the point dengan apa yang ia inginkan.
Adnan memandangnya dengan sinis, “Gue kasih apa pun yang lo mau! Asal sekarang, lo tanya ke Fikar keberadaan Kia gimana!” ujar Adnan, membuat Zura menyeringai mendengarnya.
“Oke, beliin gue makanan selama seminggu ke depan dan itu wajib pagi siang sore malam! Apa pun yang gue pengen, lo harus turutin!” ujar Zura, membuat Adnan memandangnya dengan sinis.
“Lah, lo meres gue itu kayak begitu?” tanya sinis Adnan, Zura pun membuang pandangannya dengan tangannya yang ia lipat.
“Kalau lo nggak mau sih ... gue nggak maksa. Cuman ‘kan ... ini masalahnya ‘kan—”
“Oke! Kalau itu yang lo mau, gue bakalan turutin seminggu penuh ngasih lo makan! Pagi, siang, sore, malam, makanan apa pun yang lo mau!” pangkas Adnan, membuat Zura tersenyum mendengarnya.
“Nah ... gitu dong! Itu baru namanya menguntungkan!” ujar Zura, yang lalu segera mengambil handphone-nya untuk menghubungi Fikar saat ini.
Fikar sedang mengemudikan mobilnya, sehingga agak lama untuk ia menerima telepon dari Zura. Namun pada akhirnya, telepon pun tersambung.
“Halo Kak Fikar,” sapa zura.
Fikar pun bingung ketika ia mengetahui, Zura yang telah menghubunginya. “Ada apa, Zura?” tanya Fikar.
“Hari ini Kia nggak masuk ke kampus, ya?” tanya Zura yang to the point.
__ADS_1
Zura memanglah orang yang sangat to the point, dengan apa yang sedang ia hadapi.
“Iya, Kia nggak masuk ke kampus karena dia lagi jagain temennya yang masuk rumah sakit.” jawab Fikar seadanya, karena ia juga sambil mengemudikan mobilnya dan harus tetap fokus untuk mengemudikan mobilnya itu.
“Oh, oke deh. Makasih ya, Kak, infonya! Hati-hati di jalan,” ujar Zura, yang lalu segera memutuskan sambungan telepon mereka.
Zura memandang ke arah Adnan dengan sinis, “Udah puas lo sekarang?” tanya sinisnya, membuat Adnan merasa sangat kesal mendengarnya, karena ternyata apa yang ia duga itu benar terjadi.
Kia saat ini sedang bersama dengan Zaki, membuat Adnan merasa semakin kesal karenanya.
‘Sialan Zaki! Kenapa hal ini malah bikin kalian jadi dekat?’ batin Adnan, merasa sangat kesal jadinya.
Adnan pun pergi dari sana, membuat Zura merasa kesal melihatnya.
“Eh, lo mau ke mana? Bayarin dulu makanan buat gue sekarang!” teriak Zura, tetapi Adnan tidak menggubrisnya sama sekali, dan malah segera pergi menuju ke arah parkiran mobilnya.
Adnan segera pergi ke rumah sakit untuk berpura-pura menjenguk Zaki.
Adnan membeli beberapa macam buah-buahan, untuk ia berikan kepada Zaki, sebagai syarat untuk menjenguk Zaki. Ia lalu tidak lupa membelikan makanan untuk Kia, agar Kia bisa menerima perhatian darinya.
Hal ini sudah direncanakan Adnan, agar mereka bisa menjadi dekat. Jika ia melakukan suatu hal baik untuk menyenangkan Kia, ia berharap Kia bisa menerimanya menjadi kekasihnya.
Adnan pun segera turun dari mobilnya, ketika ia sudah sampai di parkiran rumah sakit. Ia melangkah menuju ke arah resepsionis, untuk mengetahui ruang rawat inap Zaki.
“Permisi,” sapa Adnan dengan ramah.
“Ya? Ada yang bisa saya bantu?” tanya resepsionis itu.
“Saya ingin menanyakan ruang rawat pasien, atas nama Zaki,” ucap Adnan, sang resepsionis itu pun melihat ke arah layar komputernya.
__ADS_1
“Oh, ruang Emerald lantai 3, nomor 312,” ujarnya membuat Adnan mengangguk, kemudian tersenyum.
“Baiklah terima kasih sudah memberikan informasi,” ujar Adnan yang lalu segera pergi menuju ke ruangan rawat inap Zaki.
Adnan melangkah menaiki lift, dan ketika lift itu sudah sampai di lantai 3, pintu lift pun terbuka dan ia tidak sengaja melihat Kia dan berpapasan dengan dengan Kia. Hal itu adalah sebuah kebetulan yang menguntungkan bagi Adnan.
Mereka berpapasan dengan perasaan yang canggung, membuat Kia merasa bingung harus mengatakan apa.
“Hai Kia,” sapa Adnan, membuat Kia memandangnya dengan sinis.
“Ngapain lo di sini?” tanya sinis Kia.
Adnan pun menghela napasnya dengan panjang. “Gue di sini buat ngejenguk Zaki, dan juga mau ngasih makan siang ke lo. Supaya lo bisa jaga kesehatan lo,” jawab Adnan, membuat Kia merasa bingung mendengarnya.
“Lo tau dari mana kalau Zaki dirawat di sini? Gue ‘kan sama sekali nggak ngasih tahu lo!” tanya sinis Kia.
“Gue tahu dari Zura tadi, karena Zura nelpon Kakak lo buat nanya keadaan lo. Karena gue khawatir banget pas tau lo nggak masuk kelas hari ini,” ujar Adnan membuat Kia merasa bingung harus menjawab apa.
Namun satu hal yang ia pikirkan, Zura tidak biasanya menghubungi Fikar untuk menanyakan dirinya.
‘Kenapa Zura tiba-tiba nanyain aku ke Kak Fikar, ya? Apa karena si Adnan yang minta? Ah, tapi ‘kan mereka hubungannya nggak terlalu baik, kok bisa Zura nurutin kemauan Adnan, buat nanyain kabar aku ke Kak Fikar?’ batin Kia, yang merasa sangat bingung dengan keadaan ini.
“Oh ya, lo mau ke mana, Kia? Jangan-jangan, lo mau turun ke bawah, mau beli makan siang, ya?” tanya Adnan yang sangat peduli dengan Kia, tetapi Kia tidak ingin dipedulikan oleh Adnan.
‘Aneh nih orang, kenapa dia nanya, terus jawab sendiri? Padahal gue belum jawab,’ batin Kia, merasa sangat kesal dengan Adnan.
Kia hanya memandangnya dengan datar saja, dan tidak berkata apa pun.
“Nih, gue udah bawain lo makan siang. Biar nanti lo semangat ngejalanin hidupnya,” ujar Adnan, sebisa mungkin memasang tampang yang meyakinkan di hadapan Kia.
__ADS_1
Karena ini adalah di tempat umum, Kia tidak ingin membuat semua orang kebingungan dengan sikapnya terhadap Adnan. Ia pun segera menerima pemberian dari Adnan itu, dan tersenyum sedikit ke arahnya.