
Di kelas, Rania merasa sangat bingung dengan keadaan ini. Ia masih saja menarik tangan Zifa, karena ia masih merasa ada hal yang aneh dengan Zaki.
Antara Zaki dan Zain memang tidak ada ikatan persaudaraan, tetapi Kia merasa di antara mereka banyak sekali kemiripan.
Seperti DeJavu, kembali lagi mengulang masa lalu, dengan suasana yang sama, tetapi orang yang berbeda.
Mereka duduk di tempat mereka, dengan Kia yang masih saja mendelik tak percaya dengan apa yang ia ketahui tentang Zaki. Zifa masih memerhatikannya, heran dengan apa yang Zaki lakukan pada Kia.
“Ki, kamu kenapa? Kok bisa begini?” tanya Zifa, yang sedikit khawatir dengan keadaan Kia.
Walaupun ia mengetahui kalau Zaki tidak akan melakukan apa pun pada Kia, tetapi bukan hal yang tidak mungkin jika Zaki mengatakan sesuatu yang membuat Kia merasa terganggu. Hal itu membuat Zifa merasa khawatir, karena reaksi Kia yang sejak tadi hanya diam saja sembari memandang ke arah hadapannya dengan tatapan yang tidak percaya.
“Aku ... aku gak tau, Zifa. Kenapa dia mirip banget sama Zain? Aku seperti sedang lihat Zain di masa lalu, saat pertama kali deketin aku,” ujar Kia, yang sebenarnya pun tidak mengetahui apa maksud hatinya.
Zifa merasa heran, karena Zaki bisa dengan mudahnya membuat Kia percaya, bahwa ia adalah seseorang yang dekat dengan Zain.
‘Zaki bisa banget bikin Kia terheran-heran begini. Apa yang Zaki bilang ke Kia, sampai Kia begini?’ batin Zifa, yang merasa heran dengan apa yang yang Zaki katakan kepada Kia.
Zifa memandang ke arah Zaskia kembali, “Kamu memangnya bicara apa sama dia? Lagipun itu siapa? Kenapa kamu bisa bicara sama dia tadi?” tanyanya, dengan berbagai pertanyaan yang bertubi-tubi.
“Aku juga gak tahu dia siapa. Dia tiba-tiba aja datang, pas aku lagi digodain sama Adnan. Aku ditarik sama dia, dan dia pura-pura untuk kenal sama aku dan mau makan siang bareng sama aku nanti,” jawab Kia dengan perasaan yang masih tidak percaya.
Zifa mendelik, kaget mendengar penjelasan Kia. Kejadiannya memang mirip seperti saat Kia berkenalan pertama kali dengan Zain. Zifa adalah saksi, karena sejak awal kedekatan Kia dan Zain, ia sudah berada di sisi Kia. Ia tahu segalanya tentang Kia dan Zain.
__ADS_1
“Kenapa bisa begitu?” tanya Zifa yang masih tidak percaya.
Kia menggeleng, “Aku juga gak tau, Zifa. Aku ngerasa kayak DeJavu banget dengan pertama kali aku ketemu Zain,” ujarnya.
Suasana menjadi canggung, Zifa dan Kia sama-sama memikirkan tentang asumsi mereka sendiri, terhadap kejadian ini.
‘Dia beneran mau deketin Kia dengan cara begitu, ya? Berarti ... dia beneran tau masa lalu Kia dan Zain, apa beneran Zain yang kasih tau ke dia?’ batin Zifa, yang dengan kejadian ini malah semakin memercayai perkataan Zaki.
“Aku harus gimana, Zifa? Luka ini belum sembuh, kenapa aku harus nemuin pria yang mirip banget kayak Zain? Itu malah bikin aku tambah ingat tentang Zain. Apalagi gaya rambutnya dia, gaya bercandanya, pun mirip sama Zain,” ujar Kia, yang merasa tremor dengan kejadian ini.
Zifa tak bisa melakukan apa pun. Yang pasti, ia harus bisa mengatakan hal ini kepada Zaki, agar tidak terlalu menonjolkan hal ini di hadapan Kia.
Karena permasalahan ini, saat jam pelajaran dimulai, Zifa izin kepada dosen untuk ke toilet. Namun, bukannya menuju ke toilet, Zifa malah menuju ke kantin untuk menemui Zaki.
Langkahnya terhenti, ketika melihat Zaki yang saat ini masih ada di tempatnya. Ia terlihat sedang asyik memainkan handphone-nya, sehingga tidak melihat keberadaan Zifa yang ada di hadapannya.
“Lho, kamu bukannya ada kelas?” tanya Zaki, heran dengan keberadaan Zifa di hadapannya.
“Pertama, jangan ngomong aku kamu. Gue takut Fikar salah paham lagi,” ujar Zifa, membuat Zaki tersadar dengan hal itu.
“Emm ... oke, lo ngapain di sini?” tanya Zaki.
Zifa pun duduk di sebelahnya, “Gue mau bilang tentang kejadian ini. Lo malah buat Kia semakin ingat dengan Zain,” ujarnya, sontak membuat Zaki mendelik bingung.
__ADS_1
“Lho, kenapa?”
“Lo jangan bikin luka yang belum sembuh, malah makin sakit. Dengan sikap lo yang mirip kayak Zain, gaya bicara, gesture, look, semuanya lo miripin sama dia, Kia malah makin gak bisa lupain Zain!” ujar Zifa, sontak membuat Zaki mendelik kaget mendengarnya.
“Hah? Gue gak mikir sampai sana. Yang gue pengen tuh, Kia terkesan sama gue, karena gue pengen ngasih kesan mirip Zain ke dia. Gue pengen kasih tahu, ada Zain Zain yang lain, yang bisa ngisi hati dia,” ujar Zaki menjelaskan.
Memang tidak salah, tetapi Kia mengasumsikannya dengan hal yang berbeda. Kia berusaha dan berjuang untuk melupakan Zain, sementara Zaki datang dengan sesuatu yang mirip dengan yang Zain miliki. Itu sungguh ironi bagi Kia.
“Gak bisa, Zaki. Kalau lo mau deketin Kia, lo harus jadi diri lo sendiri. Gue khawatir yang ada Kia malah semakin jatuh cinta sama Zain, dan semakin gak bisa ngelupain Zain,” bantah Zifa, Zaki menghela napasnya dengan panjang.
“Ya ... kalau itu memang nyatanya menghambat Kia, gue gak akan bikin Kia ingat lagi dengan Zain. Yang penting, Kia aman dari segala macam ancaman,” ujar Zaki, yang akhirnya mengerti dengan apa yang Zifa inginkan.
Zifa menghela napasnya, “Syukurlah kalau lo ngerti. Gue beneran gak tau, gimana jadinya kalau seandainya lo begitu terus ke Kia.”
“Ya, gue paham.” Zaki tersenyum kecil mendengarnya.
Zifa malah merasa aneh dengan Zaki. “Lo ... beneran ada rasa sama Kia?” tanyanya, Zaki tertawa kecil mendengarnya.
“Ada rasa? Gue baru aja kenal dia. Gimana bisa? Apalagi gue masih kehilangan orang yang gue sayang untuk selamanya. Kurang lebih, perasaan gue hampir mirip dengan perasaan Kia yang saat ini kehilangan Zain,” ujar Zaki menjelaskan, membuat Zifa terkejut mendengarnya.
“Lo ... kehilangan siapa? Pacar lo?” tanyanya penasaran.
Zaki menggeleng, “Lebih tepatnya ... pacarnya kakak gue. Dari dulu gue pendam rasa gue ke dia, karena gue mau lihat kakak gue bahagia. Gue beneran gak nyangka, malah kejadian ini bikin kakak gue yang gak bahagia sekarang,” ujar Zaki menjelaskan, membuat Zifa sedikit banyaknya mengerti hal tentang Zaki.
__ADS_1
“Lo sayang banget sama dia? Sesayang apa?” tanya Zifa penasaran.
Zaki menatapnya dalam, “Rasa sayang gue ke cewek itu, sudah mencapai tingkat tinggi. Di mana gue udah bisa merelakan dia bareng kakak gue, dan juga merelakan dia untuk pergi dari dunia ini untuk selamanya,” ujarnya, membuat hati Zifa berdebar mendengarnya.