
Happy reading...
Sabtu pagi yang cerah ini, Kia berjalan dengan gontai menuju ke arah kelasnya. Ia tetap masuk ke kampus, karena ada pelajaran tambahan yang tidak bisa ia tinggalkan.
Namun, rasanya Kia terlihat sangat malas untuk datang ke kampus, karena hari Sabtu ini kampus terlihat lebih sepi dari biasanya. Jarang ada orang yang datang, dan rata-rata hanya mahasiswa semester akhir saja yang datang. Itu pun tidak semuanya datang.
Kia melangkah melewati lorong koridor utama gedung kampusnya, dan tak sengaja berpapasan dengan Adnan. Walaupun Adnan tidak satu kelas dengannya, tetapi ia sangat mengetahui semuanya tentang Kia, dan itu semua karena Azura yang tak lain adalah sepupu dari Kia.
Masih ingat Azura? Orang yang sangat mencintai Zain, yang akan melakukan apa pun demi mendapatkan Zain. Ya ... dia sudah jarang sekali masuk ke kampus, karena bagaimanapun juga ia masih sangat terpukul, atas meninggalnya Zain.
Mata Kia memandang sinis ke arah Adnan, yang kini hanya tersenyum di hadapannya. Karena sudah malas dengan hari ini, ia pun malas ketika melihat Adnan yang berada di hadapannya. Maka dari itu, Kia pun berjalan melewatinya, dan tidak ingin melakukan apa pun di hadapannya.
Sementara itu dari arah sana, Zaki yang baru saja datang karena memang sudah mengikuti Kia sejak tadi, terkejut karena ada seorang pria yang terlihat sangat ingin bermaksud jahat dengan Kia.
“Siapa dia?” gumam Zaki, yang masih saja memerhatikan mereka dari jauh.
Sementara itu, karena merasa diacuhkan oleh Kia, Adnan pun menahan tangan Kia sehingga langkah Kia tertahan karenanya. Kia kembali memandang sinis ke arah Adnan.
“Kia, mau ke mana sih? Kenapa buru-buru banget?” tanya Adnan, merasa tidak ingin kehilangan momen seperti ini.
“Gue mau ke kelas. Jangan ganggu gue,” ujar Kia dengan nada yang datar, karena ia sama sekali tidak tertarik dengan Adnan.
Adnan tersenyum dan berusaha berdiri di hadapan Kia agar terlihat dengan jelas. “Kia ... aku mau ajak kamu makan siang nanti. Kamu kelar kelas jam berapa?” tanyanya.
Kia menatap sinis, “Gak usah sok imut! Gue cuma bisa imut ke Zain! Kita ngomong lo gue aja sekarang! Satu lagi, gue juga udah ada janji sama temen mau makan siang bareng,” ujar Kia dengan ketus, membuat Adnan merasa sedih mendengarnya.
“Yah ... kenapa gitu? Aku kamu gak akan bikin kamu malu, bukan?” tanya Adnan yang masih memaksa Kia untuk melakukannya. “Lagipula mau makan siang sama siapa kamu? Sama Zifa?” tanyanya lagi.
Kia malas mendengarnya, lalu segera memberontak ingin dilepaskan tangannya oleh Adnan.
__ADS_1
“Lepasin gue, Nan!” bentak Kia, yang masih tertahan karena tidak ingin membuat kehebohan di kampus.
Melihat gerak-gerik lelaki itu yang mencurigakan, Zaki pun tak tinggal diam. Ia melangkah ke arah mereka, dan menarik kembali lengan tangan Kia yang ditahan oleh Adnan.
“Lepasin Kia,” ujar Zaki, yang sudah terlanjur melepaskan tangan Kia dari cengkeraman tangan Adnan.
Melihat kedatangan pria asing di hadapannya, Adnan tentu merasa sangat kesal. Apalagi saat ini dia juga menggenggam tangan Kia di hadapannya.
“Siapa lo?” tanya Adnan sinis kepada Zaki.
“Gue temennya Kia, yang mau makan siang bareng sama Kia nanti. Ada masalah?” Zaki bersikap sok kenal saja di hadapan Kia, karena ingin menyelamatkan Kia dari lelaki asing yang tidak ia kenal itu.
Karena Kia yang juga tidak ingin berhadapan dengan Adnan, Kia juga membantu Zaki untuk melakukan adegan peran ini.
“Ya, gue mau makan siang sama dia. Bukan sama Zifa,” ujar Kia, yang membantu Zaki untuk bisa lolos dari Adnan.
Adnan tentu saja tidak percaya dengan apa yang mereka katakan. “Gue gak percaya! Masa sih, lo saling kenal sama pria asing ini? Seumur hidup gue kenal sama lo, lo hanya mau interaksi dengan Zain, dan gak mau interaksi dengan pria mana pun!” ujarnya sinis.
“Memangnya ada larangannya gue harus dekat sama siapa? Lagipula, sekarang Zain udah gak ada, gue bebas dekat sama siapa aja!” bentak Kia, yang kesal dengan sikap Adnan.
Adnan tetap tidak terima, “Ya gak bisa gitu, Ki!” bentaknya.
Zaki tidak senang, ketika ada wanita yang dibentak di hadapannya. Entah Zifa atau Kia, atau malah wanita lain yang kebetulan ada di hadapannya.
“Bro, jangan bentak Kia begitu. Gue gak suka. Ini peringatan pertama gue buat lo,” ujar Zaki dengan nada mengancam, membuat Adnan mendelik kaget mendengarnya.
Tak hanya Adnan yang terkejut, Kia pun terkejut dengan pria asing yang sama sekali tidak ia kenal ini. Kia juga tidak menyangka, pria ini ternyata mengenali namanya.
‘Dia kenal aku? Kenapa aku gak kenal sama dia?’ batin Kia heran.
__ADS_1
“Ayo Kia, kita pergi dari sini,” ajak Zaki sembari tetap menggenggam tangannya.
Dengan sangat terpaksa, Kia pun segera mengikuti Zaki untuk pergi dari hadapan Adnan.
Adnan bergeming, ia hanya bisa memandang sinis ke arah pria yang asing itu. Amarahnya tertahan, karena ia tidak mungkin meluapkan amarahnya di hadapan Kia.
Seseorang melewati Adnan, lalu Adnan pun langsung menahan pria itu dan merangkulnya.
“Bro, lo kenal sama orang itu, gak?” tanya Adnan.
Pria itu memandang ke arah yang Adnan tunjuk. Ia melihat Zaki yang menggenggam tangan Kia, membuatnya merasa heran dengan keadaan.
“Lho, itu ‘kan Zaki, kakak tingkat kita yang lulus 3 tahun lalu. Dia sekarang lanjut pasca sarjana. Dia jago banget main basket, masa lo gak tau sih?” ujar pria itu.
Adnan memang tidak ingin tahu segalanya tentang siapa pun, terkecuali tentang Kia. Ia hanya bisa fokus untuk menunggu Kia, agar bisa mendapatkan Kia seutuhnya.
‘Dia kakak tingkat?’ batin Adnan heran, tak tahu dengan siapa Zaki sebenarnya.
Namun, karena Zaki sudah merebut Kia darinya, maka ia harus menyingkirkan semua yang menghalanginya.
“Oke, makasih,” ujar Adnan, dan pria itu pun segera pergi dari hadapannya.
Rasa kesal di hati Adnan merebak, ia harus bisa menyingkirkan sosok Zaki, dari hadapan Kia.
‘Dia bakal jadi sasaran gue selanjutnya. Jangan sampai ada siapa pun yang ada di sekitar Kia. Kalau gue gak bisa dapetin dia, gak ada siapa pun yang bisa dapetin dia,’ batin Adnan, yang benar-benar tidak bisa melihat hal tersebut.
Ini adalah awal perkenalan Kia dan Zaki. Zaki masih menggenggam erat tangan Kia, dan tidak melepaskannya sampai ke arah kantin. Kia masih tercengang, tak bisa berkata apa pun di hadapan Zaki.
Setelah sampai di kantin, Zaki membantu Kia untuk duduk dan segera duduk bersama bersebelahan.
__ADS_1
BERSAMBUNG....