
Perasaan sedih itu juga terasa, ketika pertama kali ia masuk ke kampus. Zifa memberikannya latte dingin, tetapi Kia hampir menolaknya karena ia tidak ingin di hari pertamanya kembali ke kampus, ia malah merasakan kesedihan yang mendalam hanya karena segelas latte.
Zaki melihat ekspresi wajah Kia, yang sepertinya hendak menangis. Ia mengerti, hanya dengan segelas latte ini, memungkinkan perasaannya untuk mengingat kembali tentang Zain.
“Kalau mau nangis, nangis aja. Gak usah ditahan,” ujar Zaki, membuat Kia mendelik ke arahnya.
“Siapa juga yang mau nangis!” bantah Kia, merasa tidak akan pernah melakukan hal itu di hadapan Zaki.
Zaki hanya tersenyum, ketika memandang ekspresi wajah Kia yang terlihat sedikit imut ketika sedang menyembunyikan perasaannya.
Beberapa saat mereka hanya berdiam diri. Sampai Kia menyadari tentang Zaki, yang tidak meminum latte miliknya sejak tadi.
“Kok lo gak minum latte-nya?” tanya Kia heran.
“Sengaja, biar ditanya dulu sama lo.”
DEG!
Jawaban Zaki itu membuat dada Kia berdebar. Ia merasa semakin tidak menyangka, karena antara Zaki dan Zain terdapat berbagai kemiripan.
Terbayang sedikit dialog Zain padanya, saat pertama kali Zain mendekatinya. Banyak sekali lika-liku Kia untuk bisa menerima Zain di sisinya. Namun pada akhirnya, Kia menerima Zain dengan sepenuh hatinya, dan malah sangat mencintainya.
‘Kenapa ucapan mereka sama, sih? Apa jangan-jangan ... Zaki gak suka latte dan maksain buat suka latte, karena aku?’ batin Kia, yang sudah memiliki firasat seperti itu.
“Jujur, lo sebenarnya gak suka latte, bukan?” bidik Kia, Zaki hanya tersenyum mendengarnya.
‘Dia sudah tau, ya?’ batin Zaki, merasa sangat aneh dengan perkataan Kia yang seperti itu.
“Gue suka ....” Zaki mengatakannya dengan sangat terpaksa, agar ia tidak terlalu terlihat bohong di hadapan Kia.
Namun, Kia masih saja tidak percaya dengan ucapan Zaki. Ia masih percaya, kalau Zaki sama sekali tidak menyukai latte, sama seperti Zain yang lebih suka kopi hitam.
Kia menunduk kesal, ‘Apa sih? Kenapa aku malah ngomong begitu sama dia? Aku terbawa suasana, dengan mengira bahwa Zaki adalah Zain. Aku malah mikir begitu,’ batinnya, merasa sangat kesal dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
“Oh ya, siapa nama cowok tadi? Lo kenal sama dia?” tanya Zaki, yang berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka.
Kia memandang ke arahnya, “Dia Adnan, cowok yang selalu deketin gue, bahkan sebelum gue menjalin hubungan dengan ....”
Ucapan Kia terhenti, karena ia tidak sadar sudah menjelaskan sedikit tentangnya kepada pria asing yang baru saja ia kenal. Zaki masih menunggu jawaban dari Kia, tetapi Kia malah mengubah sikapnya menjadi acuh, ketika Zaki masih ingin mendengar penjelasan tentang Adnan.
“Ya?” ujar Zaki, yang meminta agar Kia meneruskan ucapannya.
Kia mengalihkan pandangannya sinis, “Bukan apa-apa!” ujarnya ketus, membuat Zaki tersenyum mendengarnya.
Zaki tak sengaja melihat Zifa yang ingin mendekat ke arah mereka. Akan tetapi, Zifa menahan dirinya dan Zaki hanya memberikan kode berupa anggukkan, mengatakan bahwa apa yang Zifa lakukan adalah benar.
Zaki kembali memandang ke arah Kia. “Sudah hampir masuk, bukan? Sampai jumpa nanti siang, di tempat ini, tempat yang sama,” ujarnya, membuat Kia tercengang mendengarnya.
“Lo mau nungguin gue di sini?” tanya Kia heran.
“Ya, why not? Kita belum kenal lebih dekat, dan gue akan nunggu lo di sini sampai jam istirahat. Lo fokus kelas aja, nanti lo balik lagi ke sini, pasti ada gue yang nunggu lo.”
DEG!
Kia bangkit dari tempatnya, saking malunya ia berhadapan dengan Zaki yang baginya terasa seperti seorang titisan dari Zain. Ia pergi dari sana, dan menghampiri Zifa untuk menarik tangan Zifa.
Zifa yang bingung, hanya bisa memandang Zaki dengan bingung, lalu pergi bersama dengan Kia yang sudah menarik lengannya.
Memandang kepergian mereka, Zaki hanya bisa menghela napasnya dengan panjang.
“Sepertinya berjalan dengan mulus,” ujar seseorang yang tiba-tiba saja sudah duduk di sebelahnya.
Zaki menyadari, bahwa yang duduk di sebelahnya adalah Zain. Ia hanya bisa menghela napasnya dan mengubah posisi duduknya menjadi lebih santai.
“Tidak seperti yang kamu bayangkan,” sahut Zaki, yang sudah mengetahui yang datang adalah Zain.
“Saya merasa kamu sudah bisa menyentuh hatinya,” timpal Zain, membuat Zaki kembali menghela napasnya.
__ADS_1
“Kamu lihat tadi?” tanya Zaki.
“Tidak, hanya firasat saja.”
Zaki menatapnya heran, “Kenapa tidak melihat?” tanyanya.
“Saya sudah bilang, tidak akan mau menemui Kia lagi. Malam saat saya menemui Kia, saya merasa hancur karena melihat Kia yang menangis sepanjang malam. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi,” jawab Zain.
Zaki merasa hal ini sangatlah berat bagi Zain. Ia hanya bisa memandang Zain dengan sendu, dan rasa simpatiknya yang terasa sangat besar dalam masalah Zain dan Kia.
“Sampai kapan kamu akan seperti ini, tidak ingin melihat Kia?” tanya Zaki heran.
Sejenak Zain mengambil jeda, “Sampai kamu bisa membuat Kia tersenyum kembali, dan membuat Kia bisa menerima takdirnya.”
Jawaban Zain membuat hati Zaki terketuk. Zaki merasa sangat tersentuh dengan niat Zain, agar Kia tidak memikirkannya lagi. Namun, hal itu justru malah membuatnya semakin risau.
“Apa kamu tidak khawatir, jika Kia nantinya akan berpaling dan malah mencintai saya?” tanya Zaki memastikan.
Zain menyunggingkan senyumannya, “Coba saja kalau bisa,” tantangnya, membuat Zaki tertawa kecil mendengarnya.
“Yah ... saya tidak yakin akan hal itu. Saya pun masih memendam perasaan pada wanita itu, yang belum lama ini meninggalkan kami selamanya. Bisa dibilang ... saya sama depresinya dengan Kia. Saya gak yakin, apa bisa saya bikin Kia membuka hatinya?” ujar Zaki, Zain tersenyum kecil mendengarnya.
“Kalau kamu bisa, saya akan hantui terus sampai tidak tenang,” seloroh Zain, membuat Zaki tertawa kecil mendengarnya.
“Risiko ditanggung sendiri,” seloroh Zaki lagi, Zain hanya bisa tertawa mendengarnya.
Zain tidak bisa memungkiri, jika di antara mereka nantinya akan timbul cinta karena terbiasa. Walaupun niat hati Zain tidak seperti itu, tetapi ia juga tidak akan melarang jika nantinya Kia akan jatuh cinta pada Zaki. Ia menyadari dirinya, yang sudah berbeda alam dengan Kia.
Biar bagaimanapun juga, Kia berhak bahagia setelah kepergiannya. Namun, ia tidak membatasi kebahagiaan Kia dan hanya bisa mengupayakan semampu yang ia bisa.
‘Kia, jika kamu nantinya akan mencintai Zaki, kamu pastinya akan sangat beruntung karena sudah mendapatkan pemuda ini,’ batin Zain, yang malah berpikir Kia yang beruntung mendapatkan Zaki, dan bukan sebaliknya.
BERSAMBUNG
__ADS_1