Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Terlalu Over


__ADS_3

Mendengar Fikar yang mengatakan hal demikian, Zifa pun menghela napasnya dengan panjang. Ia merasa cemburu Fikar terasa sangat berat, dan tidak bisa dihindarkan.


Zifa memanglah sangat menyayangi Fikar, tetapi jika Fikar melakukan hal seperti ini, ia juga sangat tidak menyukainya.


“Kamu terlalu over tau, gak!” ujar Zifa, Fikar menggelengkan kepalanya.


“Over bagaimana sih, Zifa? Aku udah berusaha nahan, tapi aku memang gak bisa untuk menahan rasa cemburu ini!” ujar Fikar, membela dirinya sendiri di hadapan Zifa.


Meskipun demikian, Zifa masih saja tidak bisa menerima semua hal tentang Fikar. Ia tidak bisa menerima rasa cemburu yang berlebihan, karena ia menginginkan hubungan yang sehat di antara mereka.


“Maaf, Fikar. Kayaknya kamu terlalu over bagi aku. Aku gak bisa seperti itu, apalagi dengan perubahan sikap kamu yang seperti ini ... lebih baik, sekarang kita jalanin masing-masing aja, ya!” ujar Zifa, tanpa pikir panjang segera mengatakan hal itu pada Fikar.


Fikar merasa sangat terkejut, ketika ia mendengar Zifa mengatakan hal yang besar seperti itu, tanpa dipikirkan matang-matang. Ia memandang dalam ke arah Zifa, berharap ada belas kasihan yang tersisa dari Zifa.


“Kamu kenapa ngomong begitu? Kita ‘kan ... sudah sama-sama jalanin hubungan ini selama ini. Kenapa kamu seenaknya bilang begini? Aku gak tau, alasan kamu bilang begini tuh apa,” ujar Fikar, yang tak habis pikir dengan apa yang Zifa katakan itu.


Zifa memandangnya sinis, “Kamu gak ngerti alasan aku ngomong ini ke kamu itu apa? Aku udah jelasin, alasan aku ngomong ini tuh karena aku gak suka kamu jadi berubah karena hal kecil begini,” ujarnya menjelaskan kembali dengan apa yang ia katakan.


Fikar tak habis pikir, dengan apa yang Zifa katakan. Ia berubah karena Zifa yang saat ini berubah. Perubahan itu saling berkaitan, sehingga membuat Fikar merasa ada yang perlu dibenahi dalam dirinya.


Namun, perasaan itu membuat Fikar merasa semakin salah di mata Zifa. Ia tidak bisa memperkirakan, kejadian seperti ini akan terjadi dengan dirinya dan juga Zifa.


Fikar ingin, semua yang mereka jalani akan terasa baik-baik saja dan mulus. Namun, ternyata ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.


Fikar menghela napasnya dengan panjang, bingung antara harus mempertahankan hubungannya ini, atau mengikuti apa kemauan Zifa. Ia tidak bisa memutuskan apa pun saat ini.

__ADS_1


Sejenak mereka hanya bisa diam, dengan emosi yang sama-sama meluap.


Fikar memandang ke arah Zifa, yang saat ini tidak ingin memandang ke arahnya.


Karena situasi sudah semakin kacau, Fikar pun sadar letak kesalahannya. Ketika mereka sedang sama-sama lelah, ia malah memaksakan kehendaknya untuk bermesraan dengan Zifa.


Seharusnya Fikar lebih mengerti situasi dan kondisi. Ia harusnya menunggu Zifa lebih relax dan tenang lebih dulu.


Untuk menebus kesalahannya, Fikar pun melangkah ke arah meja. Di sana tersedia beberapa welcome drink, dan juga beberapa sachet kopi instan dan susu instan. Ia segera meracik kopi instan untuk mereka, membuat Zifa tersadar karena harum aroma kopi tersebut.


Fikar memandang ke arahnya. “Sini, kita istriahat dulu. Bicara sambil melepas lelah,” ujarnya, Zifa tidak memiliki alasan untuk menolak permintaan Fikar kali ini.


Mereka pun duduk bersebelahan. Fikar menyodorkan latte panas ke arahnya, dan untuknya adalah kopi hitam robusta. Fikar memang tidak terlalu menyukai minuman manis, sama seperti Zain dan juga Zaki.


Mendapatkan perhatian kecil seperti ini dari Fikar, Zifa pun merasa sedikit senang. Entah mengapa, emosi yang ada di dalam dirinya, mendadak hilang karena hal kecil yang Fikar lakukan untuknya ini.


Fikar memandang ke arahnya dengan dalam. “Sudah lebih tenang?” tanyanya, Zifa pun mengangguk kecil. “Aku memang salah, karena sudah berbuat seperti ini sama kamu. Maafin aku, karena aku terlalu lewat batas. Aku gak akan melakukan itu ke kamu. Aku gak akan melewati batas, dan aku berjanji. Aku hanya ingin spent time sama kamu. Udah ... itu aja,” ujar Fikar, Zifa memandangnya dengan sendu.


“Aku juga minta maaf, gak seharusnya aku ngambil keputusan di saat emosi seperti itu. Kita gak pernah seperti ini sebelumnya, ketemu juga cuma sebentar dan jarang banget ketemu. Setiap hari penuh dengan rasa rindu. Aku baru ngalamin diperlakukan over seperti itu sama kamu,” ujar Zifa.


Mereka sama-sama mengeluarkan uneg-uneg yang mereka miliki. Setelahnya, merasa sangat lega, karena sudah bisa meluapkan segala emosi yang ada di hati mereka.


Fikar tersenyum hangat, karena Zifa yang sudah bisa menerimanya.


Senyuman Fikar dibalas oleh Zifa, membuat Fikar merasa sangat berdebar.

__ADS_1


Fikar merenggangkan kedua lengan tangannya. “Boleh peluk?” tanyanya, Zifa pun mengagguk kecil mendengarnya.


Mereka pun saling berpelukan, layaknya teletubies. Zifa senang, karena hubungan mereka ternyata kembali seperti semula. Tidak ada permasalahan yang menghambat hubungan mereka lagi, sehingga kini mereka menjalani hubungan mereka kembali dan mengisinya dengan kebahagiaan dan suka cita.


Sementara itu, Kia kini sudah berada di rumahnya. Ia berdiam diri di kamarnya, meskipun saat ini sudah masuk waktu makan malam.


Beberapa pelayan sudah memanggilnya berulang kali, tetapi Kia sama sekali tidak mau turun untuk makan malam bersama dengan keluarganya.


Kia masih bingung memikirkan sosok Zaki, yang seperti mirip dengan sosok Zain.


Kia menutup wajahnya dengan boneka yang Zain berikan. “Gimana ini?” gumamnya, merasa sangat kesal dengan keadaan yang ada.


Hanya karena masalah ini, Kia merasa dirinya gagal move on dengan Zain. Zain benar-benar membekas di hati Kia, membuat Kia merasa sangat kesal dan tidak bisa melupakan Zain dengan mudah.


“Kenapa Zain dan Zaki, berbeda tapi seperti mirip! Kenapa mereka kayak dua orang yang sama?” gumam Kia lagi, dengan suara yang tak jelas karena tertutup boneka.


Kia pun melepaskan boneka itu, dan menghela napasnya dengan panjang. Pandangannya tertuju pada sebuah jaket, yang ada di atas ranjang tidurnya, di hadapannya.


“Itu ... jaket dia, bukan? Kenapa aku gak balikin ke dia tadi?” gumam Kia lagi, merasa bingung dengan apa yang ia lakukan.


Saking bingungnya, Kia sampai tidak bisa mengembalikan jaket itu kepada Zaki. Karena ia juga bingung melihat reaksi Zaki yang seperti itu padanya, sampai seperti orang yang terlalu sayang padanya.


“Dia bukan orang yang sayang sama aku, tapi kenapa dia peduliin aku sampai segitunya? Semua ucapan dia juga mirip dengan ucapan yang Zain katakan, waktu dia deketin aku. Jadi ... apa Zaki dan Zain, adalah satu orang yang bereinkarnasi?” Kia mulai berpikir aneh, saking terlalu mendalami pikirannya itu.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2