
“Jangan terlalu lama menunda-nunda untuk menyelesaikan masalah. Itu tidak akan baik ke depannya. Jangan lari dari masalah, yang ada masalah akan menjadi semakin rumit. Jika kamu lari dan tidak menghadapinya dengan langsung,” ujar Fikar dengan semua pengetahuan yang realistis sebagai laki-laki.
Sebaliknya, Zifa yang dominan memakai perasaan, ia tidak melakukannya. Ia hanya diam sembari menatap dalam dan tajam ke arah Fikar. Entah kata apa lagi yang harus ia ucapkan, untuk menyanggah ucapan dari Fikar.
“Pokoknya aku nggak mau ngasih jawabannya sekarang! Tapi bukannya kita sudah selesai tadi? Aku sudah tidak mau bersama kamu lagi! Kamu sudah mendengarnya, bukan?” tanya Zifa membuat Fikar kesal mendengarnya.
Fikar melotot, “Tidak! Aku tidak setuju dengan hal itu! Aku tidak mau kehilangan dirimu yang sangat aku cintai! Aku tidak mau kehilangan wanita yang sejak dulu menemaniku. Beberapa tahun bersama kamu, mengajarkan aku tentang artinya kenyamanan, kesempurnaan cinta ....” Fikar malah menyanyikan potongan bait lagu dari Rizky Febian yang berjudul kesempurnaan cinta.
Syifa memandangnya dengan datar, karena Ia tidak menyangka, Fikar akan menyanyikan sebait lagu beserta suaranya yang pas-pasan itu. Tidak terlalu bagus dan tidak terlalu buruk juga, tetapi masih bisa diterima.
“Udah, nggak usah nyanyi! Suara pas-pasan juga! Ngapain juga kamu nyanyi? Aku nggak bakalan luluh kok, walaupun kamu nyanyi di hadapan aku! Walaupun kamu mendatangkan Rizky Febian ke sini pun, aku nggak bakalan luluh sama kamu! Aku udah menentukan pilihan, kita udah selesai sampai sini. Aku nggak mau bertele-tele di hadapan kamu. Aku juga nggak mau mengulang-ulang lagi semua yang udah aku katakan barusan. Kita sudah selesai!” ujar Zifa, membuat Fikar masih tidak bisa menerimanya.
Saat ini Zifa diibaratkan seperti sebuah mangkuk. Mangkuk Zifa masih saja tertutup, sehingga sebanyak apa pun Fikar menuangkan air ke dalamnya, itu tetap saja tidak akan bisa membuat mangkuk itu penuh. Karena posisinya yang masih terbalik, dan tidak bisa menerima apa pun yang Fikar katakan lagi.
“Kamu beneran gak mau bareng sama aku lagi, Zifa?” tanya Fikar, yang mendadak mellow mendengar Zifa mengatakan semua itu di hadapannya.
Zifa memandangnya dengan tegas, “Ya, aku gak akan menerima kamu lagi. Aku udah gak mau bareng sama kamu lagi!” ujarnya, membuat Fikar menghela napasnya dengan panjang.
‘Sekuat apa pun aku mengejarnya, dia tidak akan pernah mengejarku kembali. Aku merasa bingung, dengan apa yang harus aku lakukan ke depannya,’ batin Fikar, membuatnya merasa sangat bingung saat ini.
Akhirnya, Fikar memutuskan untuk mengakhiri perjuangannya terhadap Zifa. Ia merasa sudah harus selesai, dan menerima semua kekalahan yang sudah terjadi pada pihaknya.
Fikar menunduk sendu, “Baiklah, kalau itu yang kamu mau, aku pasti akan menerimanya dengan baik,” ujarnya, membuat Zifa terkejut mendengarnya.
__ADS_1
Tidak biasanya Fikar menerima kekalahannya seperti itu. Bahkan Zifa sangat mengerti, bahwa Fikar tidak akan pernah melakukannya. Sebagai seorang CEO, Fikar pasti akan selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
‘Dia gak seperti yang biasanya. Dia kenapa sekarang lebih bersikap pesimis?’ batin Zifa, merasa aneh dengan apa yang Fikar lakukan itu.
Bukannya aneh, yang Fikar lakukan justru memang benar adanya. Walaupun Fikar yang tidak terbiasa untuk melakukan hal pesimis seperti itu, ia tidak akan tahan jika Zifa yang terus-menerus menolaknya. Fikar merasa kalau Zifa selalu menolaknya dan membuatnya kehilangan harga dirinya sebagai seorang lelaki.
Fikar menghela napasnya panjang. “Baiklah, ayo aku antar kamu pulang. Anggap aja ini sebagai pertemuan terakhir kita,” ujarnya, sontak membuat Zifa memandangnya dengan sinis.
“Lho, kok kamu ngomongnya gitu, sih?” tanya Zifa, dengan nada yang seperti tidak terima dengan apa yang Fikar katakan.
“Ya ... mau bagaimana lagi? Kamu yang meminta,” ujar Fikar, yang segera bersiap untuk mengantarkan Zifa pulang ke rumahnya.
Setelahnya, tidak ada lagi yang dikatakan mereka. Mereka hanya diam sepanjang perjalanan, dan tidak mengatakan apa pun. Walaupun Zifa senang karena sudah berhasil menyingkirkan Fikar, tetapi ia tidak bisa menerima semua itu jika Fikar yang menginginkannya.
‘Kenapa dia bilang begitu, sih? Kenapa jadi seolah semua ini memang salah aku? Seolah semuanya aku yang minta!’ batin Zifa, merasa sangat kesal mendengar ucapan Fikar itu.
Sementara itu, Zaki masih saja memandang dan memerhatikan mereka melalui jendela. Ia melihat mereka yang sudah pergi, dengan sedikit rasa tenang.
Zaki menghela napasnya panjang. “Setidaknya Zifa gak pulang sendiri,” gumamnya, merasa sangat senang melihat mereka yang saat ini pulang bersama.
Karena merasa sudah menyelesaikan perasalahan mereka, Zaki pun menghempaskan dirinya di atas ranjang tidurnya. Permasalahan Zifa dan Fikar, membuatnya tidak bisa beristirahat dengan benar. Ia merenggangkan otot tubuhnya yang kaku, di atas ranjang tidur yang nyaman.
“Ah ... tidur di sini ternyata nyaman juga,” gumam Zaki, merasa sangat senang dengan rumah Zain yang masih saja nyaman, walaupun sudah lama sekali tidak dirawat Zain.
__ADS_1
Zaki tiba-tiba saja teringat soal Kia. Ia merasa heran dengan keadaan, yang membuat Kia sampai harus menuduhnya melakukan hal yang sama sekali tidak ia lakukan.
“Kenapa Kia malah nuduh gue jadi orang yang udah ngebunuh Zain, ya? Kenapa dia bisa mikir begitu?” gumam Zaki, yang masih tidak habis pikir dengan apa yang Kia tuduhkan padanya.
Tubuhnya terasa sangat gatal dan lengket, membuatnya tersadar jika ia sama sekali belum mandi. Setelah sampai di rumah, Zaki langsung berbincang dengan Fikar mengenai permasalahan yang terjadi antara dirinya dan juga Zifa. Hal itu membuat Zaki tidak bisa melakukan apa pun, bahkan untuk merebahkan diri saja tidak bisa.
Zaki bangkit dari ranjang tidurnya. “Ah, ya sudah. Daripada pusing mikirin masalah orang lain, lebih baik gue mandi dulu. Udah gatel badan,” gumamnya, yang lalu segera berjalan menuju ke arah kamar mandi.
Handphone-nya tiba-tiba saja berdering, membuat langkah Zaki terhenti karenanya. Ia heran dan memandang ke arah layar handphone tersebut, dengan siapa yang menguhubunginya kala itu.
Betapa terkejutnya ia, ketika melihat nama yang tertera pada layar handphone-nya itu. Di sana tertera nama Kia, membuatnya bingung harus bersikap apa lagi saat ini.
“Lho, Kia nelepon? Gimana nih?” gumam Zaki, merasa bimbang mengetahuinya.
Karena merasa bimbang, Zaki pun akhirnya menerima telepon dari Kia.
“Halo, Kia?” sapa Zaki.
Mereka sempat terdiam sejenak, sebelum akhirnya Kia menjawab sapaan dari Zaki.
“Halo, Zaki.” Kia menyapa kembali Zaki dengan suara yang aneh, membuat Zaki merasa semakin aneh dengan keadaan ini.
‘Ada apa, ya? Kenapa Kia nelepon gue?’ batin Zaki, bingung dengan apa yang akan Kia katakan padanya.
__ADS_1