Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Suka Pantai?


__ADS_3

“Kalau gue gak nemuin pengganti lo, gimana?” tanya Kia, Zaki tersenyum mendengarnya.


“Lo pasti nemuin, karena lo gak mungkin hidup dalam bayang-bayang semu. Lo harus melangkah, biar mereka tahu, lo baik-baik aja. Walaupun langkah lo masih terasa perih, tapi lo harus usaha, dan menahan semuanya. Gue akan temani lo, sampai lo merasa benar-benar sanggup untuk berjalan sendiri,” ujar Zaki, yang malah menyentuh hati Kia.


Tak disangka, ucapan Zaki malah membuatnya sendu. Ia jadi sadar, dan harus melangkah tanpa Zain. Ia harus melangkah sendiri, karena ia sudah tidak mungkin lagi melangkah bersama dengan Zain.


Menyadari Kia yang terlihat sendu, Zaki pun mengusap bahu Kia, walaupun dengan perasaan yang ragu.


“Lo sedih? Gak apa-apa, kalau mau nangis,” ujar Zaki, membuat Kia malah semakin sendu karenanya.


Kia memandang sinis ke arah Zaki, “Kalau gue lagi diem, jangan malah lo tanya. Gue lagi berusaha kuat, kalau lo nanya gitu, itu malah bikin gue tambah gak bisa nahannya,” ujar Kia, Zaki pun tersenyum mendengarnya.


“Bagus, biar gue ngerti di mana fungsi gue sebenarnya di dalam hidup lo. Gue ngerti, lo pasti sakit banget, dengan posisi lo yang sekarang. Gue gak akan pernah menyalahkan lo, kok! Memang takdir bekerja untuk semesta, dan kita harus bisa menerima takdir tersebut,” ujar Zaki, membuat Kia benar-benar bisa tersentuh mendengar ucapan Zaki yang seperti itu.


Derai air mata mengalir, tetapi Kia buru-buru membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya. Ia tidak bisa membiarkan Zaki melihat wajahnya yang jelek, karena menangis seperti itu. Ia merasa harus bisa melakukan perubahan, dan tidak bisa bergantung pada takdir seperti ini terus-menerus dalam hidupnya.


“Gak apa-apa, keluarin aja semua yang mau lo keluarin,” ujar Zaki, membuat Kia semakin menangis deras mendengarnya.


“Zaki, please stop! Gue gak mau nangis terus-terusan!” bentak Kia, yang malu memperlihatkan hal itu padanya.


“Gak apa-apa, kita ‘kan udah jadi temen, lo boleh nangis sepuas lo kok,” ujar Zaki, membuat Kia merasa kesal mendengarnya.


“Lihat tempat juga, dong! Ini di mana?” gumam Kia, yang masih berusaha untuk menahan semuanya.


Zaki tersenyum mendengarnya, “Maaf, ya. Tapi kalau boleh saran, gak usah peduliin orang lain. Yang paling penting adalah kita sendiri. Biarin aja orang lain ngomong apa, yang penting kita happy,” ujarnya, Kia berusaha untuk menghapus air matanya yang sempat keluar, kemudian memandang ke arah Zaki dengan dalam.

__ADS_1


“Ya udah, gue gak mau bahas. Biarin aja,” ujar Kia, merasa sangat tidak etis, jika ia harus sampai membahas masalah ini dengan Zaki.


Kia memandang ke arah Zaki dengan dalam. ‘Gue jadi semakin yakin, kalau dia itu tau segalanya tentang gue. Gue harus memastikan lebih banyak bukti, dan membuat dia kelihatan tidak berdaya nantinya,’ batinnya, merasa misinya harus dilanjutkan.


“Gimana, udah enakan?” tanya Zaki, Kia pun mengangguk kecil mendengarnya.


“Udah, lebih plong saat selesai gue nangis,” jawab Kia, membuat Zaki tersenyum mendengarnya.


“Menangis boleh, asalkan jangan menyerah. Tidak ada di dunia ini yang tidak bisa menahan perasaan sedihnya. Sekuat apa pun orang itu menahan, pastinya akan rapuh juga. Tapi gue salut sih, sama orang yang bisa menahan semua perasaan rapuhnya. Dia gak nunjukkin ke semua orang, dan hanya dipendam sendiri. Tapi tetap, biasanya orang yang begitu gak akan bisa nahan lama, dan akan menumpahkan semuanya melalui tangisan di kesendiriannya,” ujar Zaki yang berusaha memberikan quote kepada Kia.


Kia mengangguk kecil, karena yang Zaki katakan ada benarnya juga. Ia tidak bisa menyalahkan ucapan Zaki, karena ia merasa Zain juga sering menahan rasa sakit seperti yang Zaki katakan. Mungkin Zain menangis, tetapi Kia sama sekali belum pernah melihat Zain menangis di hadapannya.


Bersama Zain, membuat Kia selalu happy.


Mereka pun terdiam sejenak, lalu mereka sama-sama berusaha untuk mencari topik pembicaraan. Mereka tidak bisa berdiam diri seperti itu, karena mereka sama-sama memiliki maksud dan tujuan untuk pertemuan kali ini.


Kia memandang ke arah Zaki dengan bersemangat. “Zak, mulai libur kapan?” tanyanya.


“Mmm ... mungkin minggu depan,” jawab Zaki, Kia tersenyum mendengarnya.


“Kita vacation, yuk! Kita nge-camp di gunung!” ajak Kia, dengan rasa semangat yang tinggi, tetapi justru hal itu membuat Zaki merasa bingung mendengarnya.


“Lho, ngapain ke gunung?” tanya Zaki bingung.


“Yah ... karena gue suka aja. Gue suka gunung, jadi kita harus pergi ke gunung sekali-kali, biar bisa refresh pikiran juga,” ajak Kia, Zaki semakin bingung saja mendengarnya.

__ADS_1


“Hah? Suka gunung? Bukannya lo suka pantai?” tanya Zaki kebingungan.


Pertanyaan Zaki kali ini, semakin membuat Kia merasa sangat yakin, bahwa Zaki sudah sangat mengetahui apa pun tentang dirinya. Namun, ia tidak bisa mengungkapkan hal itu kepada Zaki. Ia cukup tahu saja, tanpa harus menanyakan itu pada Zaki.


‘Ternyata dia beneran tau apa yang aku suka dan yang gak aku suka,’ batin Kia, merasa sangat tidak percaya dengan apa yang ia ketahui itu.


Kia semakin memikirkan apa lagi yang ia ketahui tentang dirinya. Ia merasa harus ada komunikasi lebih lanjut, antara dirinya dan juga Zaki. Hal itu semakin memacu Kia, agar bisa menanyakan semua hal yang ia ketahui.


‘Aku harus nanya lagi, siapa tau aja dia tau semuanya selain itu,’ batin Kia merasa harus bisa menangkap semua yang Zaki ketahui tentangnya.


Sudah dua penilaian yang Kia ketahui dari Zaki. Namun, hal itu belum cukup untuk membuat Kia percaya, apa yang Zaki ketahui tentangnya.


Kia harus berusaha lebih keras lagi, untuk menggali informasi mengenai Zaki.


Sementara itu, Zaki memikirkan ucapan Kia. Ia merasa Kia sangat aneh, dengan apa yang ia katakan, beda sekali dengan apa yang Zain katakan. Seperti berbanding terbalik dengan apa yang Kia sukai.


‘Kenapa Kia malah jadi begini, ya? Semua yang dia bilang dari tadi itu, kebalikannya dari yang dia suka. Apa sih yang sebenarnya terjadi? Dia salah minum obat?’ batin Zaki, merasa heran dengan apa yang ia lakukan.


Mereka pun terdiam, merasa canggung saat ini karena keadaan yang tidak bisa ditebak. Kia merasa sangat bingung, dengan apa yang menjadi respon Zaki selanjutnya.


Zaki memandang ke arah Kia, “Ya udah, nanti kita bicarain lagi setelah makan es krim,” ujar Zaki, Kia pun mengangguk kecil mendengarnya.


***


Setelah selesai menyantap es krim, mereka pun akhirnya keluar dari kedai es krim tersebut. Mereka masuk ke dalam mobil Zaki, dan Zaki pun segera mengantarkan Kia kembali ke rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2