Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Selalu Tentang Zain


__ADS_3

Happy reading....


Kia menghela napasnya dengan panjang, karena ia merasa sangat aneh dengan perasaannya sendiri.


Terkadang ia benar, tetapi kadang juga ia salah.


Lagi-lagi, Kia hanya bisa menghela napasnya dengan panjang.


“Ah, mungkin karena rasa kehilangan itu menghantuiku, jadi aku ngerasa ada yang nemenin semalaman. Aku juga belum makan dari kemarin, jadi mungkin aja aku halusinasi karena belum makan,” gumam Kia, yang merasa demikian dengan pemikirannya sendiri.


Kia berusaha untuk menepis pikirannya tentang hal ini, karena biar bagaimanapun juga, dirinya dan juga Zain sudah berbeda alam saat ini.


Sudah tidak ada yang perlu tunggu lagi, tetapi Alya masih tetap saja merasakan kehadiran Zain di sisinya. Memang, cinta mereka sangat kuat, hingga maut saja mereka hadapi.


Dilangkahkan kakinya menuju ke arah kamar mandi, berusaha tetap tenang, dengan cara merendam dirinya pada bath tub yang ada.


Wangi aroma terapi di dalam kamar mandi, membuat sedikit banyaknya kecemasan Kia berkurang.


“Aku gak nyangka, terapi seperti ini ternyata berguna untuk membuat perasaan dan hati menjadi tenang,” gumam Kia, yang merasa baru menyadari hal ini.


Mungkin, karena sepanjang hidupnya bersama dengan Zain, Zain sama sekali tidak pernah membuatnya marah ataupun sedih, sehingga Kia tidak bisa merasakan sensasi ketenangan dari aroma terapi itu.


Kia menenggelamkan sedikit wajahnya, ke dalam bath tub. Ia ingin sekali menangis, tetapi rasanya air matanya sudah kering, karena seharian kemarin sudah menangis menumpahkan semua perasaan sedihnya, karena kehilangan Zain.


Suka atau tidak suka, Rela atau tidak rela, Kia harus bisa melepaskan sosok Zain, yang selama ini berada di dalam pelukannya.


‘Masalahnya dia pergi, dengan membawa hati aku juga. Dia pergi, meninggalkan luka. Luka karena kepergiannya ya, bukan luka karena dia menyakiti dengan bermain dengan wanita lain, atau semacamnya. Dengan cara seperti ini saja, secara gak sengaja dia udah bikin aku luka,’ batin Kia, yang mulai berpikir tentang perasaannya terhadap Zain.

__ADS_1


Setelah lelah menangisi Zain seharian, kini Kia sudah mulai bisa berpikir, tentang apa yang terjadi pada mereka saat ini. Namun tetap saja, tidak bisa dipungkiri kalau Kia memang ternyata tidak rela melepaskan Zain, untuk kembali kepada sang pencipta.


Air matanya kembali luruh, Kia merasa sangat tertekan, sampai air mata yang semula mengering, kini kembali lagi dan malah semakin deras membanjiri area sekitar wajahnya.


Sekalian Kia membenamkan wajahnya ke dalam bath tub, berusaha untuk membuat air matanya kembali surut. Namun, yang ia dapatkan justru malah semakin banyak lagi.


Air mata bercampur dengan air yang menggenang di bath tub, Kia sudah berusaha untuk melupakan semuanya, tetapi ia sama sekali tidak bisa melakukannya.


‘Kenapa sangat sulit, melupakan orang yang sudah tiada?’ batin Kia, yang merasa sangat kesal dengan dirinya sendiri.


Perlahan kepalanya kembali muncul ke permukaan. Diusapnya halus wajahnya, untuk menghilangkan bekas air yang masih mengucur di wajahnya.


Matanya membuka, terlihat bola mata hitam kecoklatan di sana. Ia menghela napasnya dengan dalam.


‘Apa karena ... dia meninggalkan aku, bukan dengan alasan menyakitiku, sehingga aku tidak bisa melupakannya dengan mudah?’ batin Kia, sudah mengerti dengan apa yang ia rasakan.


Begitulah, pasang-surut perasaan Kia. Walaupun ia berusaha untuk menerima semuanya, tetapi ia tidak bisa menjamin jika perasaan sedih itu tidak akan kembali lagi padanya.


Dua jam berlalu. Setelah selesai menghilangkan emosi di dadanya, Kia pun segera keluar dari kamar mandinya, untuk memakai pakaiannya.


Diulurkannya tangannya untuk membuka lemari pakaiannya, kemudian mengambil satu baju untuk ia cocokkan dengan tubuhnya.


Kia terhenti sejenak, karena baju yang ia ambil, adalah baju pemberian Zain. Ia menghela napasnya berat, karena lagi-lagi semua benda-benda ini mengingatkannya pada sosok yang ia cinta.


“Masa sih, aku harus buang semua barang-barang dari Zain?” gumam Kia, yang merasa sangat tidak sanggup melakukannya.


Kia meletakkan kembali dress yang Zain berikan, kemudian mengambil dress lainnya, yang tidak ada hubungannya dengan Zain. Kia memakainya, kemudian segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang tidurnya.

__ADS_1


Segalanya terasa berat, ia memandangi langit-langit ruangan, dan tenggelam dalam kesunyian dan perasaan sendunya kembali.


Ketika Kia sendiri, ia merasa sangat sepi. Namun, ketika ia bersama dengan orang lain, ia tidak bisa berfokus dengan orang tersebut. Tetap saja, pikirannya selalu berfokus pada Zain.


Terdengar getar handphone-nya, membuat Kia menoleh ke arah sebelah kirinya. Di sana, memang sudah terlihat banyak sekali chat yang masuk, pada grup chat Kia. Kia tidak memiliki waktu untuk membuka chat dari mereka.


Tangannya ia ulurkan, dan meraih handphone-nya yang ada di sebelahnya itu. Dilihatnya pesan singkat di aplikasi tersebut, yang terlihat sangat banyak.


Jemarinya menyentuh layar handphone, sehingga Kia bisa membuka dan membaca pesan singkat dari mereka semua, yang mengucapkan belasungkawa kepadanya.


Air matanya kembali luruh, karena seluruh isi grup chat tersebut, hanya mengatakan tentang belasungkawa mereka, atas kepergian Zain untuk selamanya.


Kia menghela napasnya dengan dengan kasar, karena ternyata berat sekali kehilangan sosok Zain yang sangat ia cintai.


Ketika ia sudah mulai melupakan permasalahan ini, mereka di sekelilingnya membuatnya teringat kembali, bahkan hanya dengan melihat barang-barang pemberian Zain saja.


“Zain ... kenapa berat banget buat lupain kamu?” rengek Kia, yang benar-benar sudah tidak bisa menahan emosi dan kesedihannya lagi.


Semua orang menandainya, dan mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya. Tak hanya di grup chat, bahkan di pesan pribadi juga seperti itu.


Banyak dosen yang juga mengenal Kia, yang mengirimkan pesan pribadi kepada Kia. Hal itu yang membuat Kia menjadi tidak bisa lupa dengan Zain.


Ya, memang semuanya memerlukan waktu, agar ia bisa melupakan sosok Zain.


Orang tua Kia dan juga Fikar, sedang berada di depan ruangan kamar Kia. Mendengar Kia yang menangis seperti itu, mereka jadi ragu untuk masuk ke dalam ruangan kamar Kia.


Mereka saling melempar pandang, karena tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. Fikar mengambil makanan dan minuman yang bundanya pegang, dan memberikan kode untuk orang tuanya, bahwa ia akan mengantarkan makanan kepada Kia.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2