Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Kelemahan Zifa


__ADS_3

Happy reading...


Tangannya menahan tangan Zifa, berusaha menghalanginya untuk tidak melakukan hal itu.


Sejenak Zifa mengarahkan pandangannya tak percaya, membuat Zaki merasa tidak enak hati dengannya.


Tangannya ia lepaskan, dengan pandangannya yang juga ia alihkan ke arah lainnya daripada Zifa.


“Maaf, bukan maksud aku buat nyentuh kamu. Aku cuma kaget, karena gak mau sampai kamu kasih tau hal ini ke dia,” tutur Zaki menjelaskan pada Zifa.


Zifa memaklumi refleks yang Zaki berikan. Ia mengerti, kalau Zaki memang tidak bermaksud untuk menyentuhnya.


“Gak apa-apa,” tutur Zifa.


Kecanggungan mulai terasa, ketika mereka sama-sama tidak memiliki perkataan lagi untuk dibahas. Zifa mulia menyesap minuman yang ia pesan, untuk sekadar menghilangkan canggung dan juga rasa terkejut yang masih tersisa.


Sungguh tidak bisa dipercaya, perkataan Zaki memang terdengar sangat melantur, tetapi Zifa tidak memiliki alasan yang kuat untuk tidak memercayainya.


Tak hanya Zifa, Zaki pun merasa agak aneh membicarakan hal ini dengan Zifa. Karena hal ini memang terdengar sangat tidak logis, dan akan mudah bagi siapa saja yang mendengarnya, untuk tidak memercayainya.


Namun, demi janjinya pada Zain, ia terpaksa harus mengatakan ini pada Zifa. Diletakkan gelas yang ia pegang di hadapannya, sembari berdeham kecil. Ia memandang ke arah Zifa nanar, sembari memainkan jemarinya, gugup.


“Gimana caranya buat kamu percaya dengan ucapan aku? Walaupun kamu baru kenal denganku, tapi setidaknya kamu punya penilaian. Aku gak bohong soal ini,” ujar Zaki dengan hati-hati, membuat Zifa memikirkan kembali setiap perkataan Zaki.


“Aku ... masih kurang yakin,” jawab Zifa lirih.


Ya, wajar saja sih. Zaki memang tidak bisa secepatnya membuat Zifa percaya padanya. Namun, ia hanya memerlukan persetujuan dari Zifa, untuk


berusaha menjaga Kia, seperti yang Zain inginkan.


Zaki menghela napasnya panjang, “Apa lagi yang bisa membuat kamu percaya sepenuhnya?” tanyanya, berusaha untuk memaksa Zifa untuk lekas memercayainya.

__ADS_1


Zifa membeku, pandangannya nanar ke arah Zaki. Ia benar-benar tidak mengerti, apa sih modus di balik datangnya Zaki ke hadapannya. Ia masih menganggap itu hanya kebetulan.


“Aku masih gak percaya, karena aku masih belum yakin. Apa kamu bisa jawab pertanyaan aku? Kalau kamu beneran temannya pak Zain, kamu pasti bisa jawab!” ujarnya, Zaki memandangnya dengan dalam.


“Tanya saja,” ujar Zaki dengan sangat percaya diri.


Semua yang Zain jelaskan sudah ia rekam dengan jelas di memorinya. Ia merasa sudah sangat hafal, meskipun Zain hanya mengucapkan sekali saja.


Tidak ada rasa khawatir lagi, untuk menjawab pertanyaan dari Zifa.


“Di mana pak Zain tinggal?”


“Apartemen A, nomor 509,” jawab Zaki dengan sangat tenang.


“Dari mana kamu dapat gantungan ini?” tanyanya lagi.


“Dari Zain langsung.”


“Sesudah tiada.”


Matanya semakin menatap nanar ke arah Zaki, “Gimana caranya? Dia memang bawa gantungan itu, sampai dia mati?” tanyanya sinis, satu jawaban yang rancu berhasil membuat dirinya ragu tiga kali lipat dari sebelumnya.


“Aku tinggal di sebelah kamar Zain. Dia kasih tau pin dan aku bisa masuk ke ruangannya. Dia juga kasih tau aku letak dia menyimpan gantungan itu. Aku diminta menyimpannya, agar kamu percaya,” papar Zaki menjelaskan sedikit tentangnya.


Baik, jawaban yang cukup logis dan patut dipikirkan.


“Kalau kamu benaran teman Zain, kenapa gak datang ke pemakaman Zain waktu itu?” tanya Zifa lagi, masih penasaran dengan Zaki.


“Aku hadir, lima menit sebelum Kia dan Fikar pulang dari sana,” jawab Zaki, membuat Zifa mendelik kaget mendengarnya.


“Kamu kenal Fikar?” tanyanya terperanjat, dengan mata membulat sempurna.

__ADS_1


“Kenal, itu ‘kan ... pacar kamu, bukan?” seloroh Zaki, sukses membuat wajah Zifa merona malu mendengarnya.


Dalam hati Zifa masih ada yang memberontak, tetapi ia tidak memiliki cukup alasan untuk tidak mempercayai lelaki ini lagi.


Tidak terlihat sebuah benda semacam headset atau apa pun pada telinganya, sehingga tidak akan membuat lelaki itu berbohong, karena dimonitor oleh seseorang di belakangnya.


“Dari siapa kamu tau?” tanya Zifa dengan malu-malu.


“Dari Zain. Dia gak tau pasti, sih! Dia cuma bilang, kalau setiap kamu dan Kia main bersama, kamu selalu curi-curi pandang dengan Fikar. Soal pacaran atau enggak, itu hanya asumsiku saja, sih.” Zaki mengalihkan pandangannya, membuat Zifa semakin malu saja mendengarnya.


Zifa hanya diam, dengan Zaki yang memandangnya dengan pandangan yang hendak menggodanya.


“Tapi sih, dari ucapan kamu tadi ... kayaknya memang benar ya, kalau kamu sama Fikar tuh udah--”


“Jangan bilang sama Kia!” pangkas Zifa, membuat Zaki mendelik bingung mendengar ucapannya.


“Memangnya kenapa?” tanya Zaki penasaran, sekaligus ingin menggodanya.


Wajah Zifa semakin merona. Ia merasa sangat malu dengan Zaki yang terus-menerus menggodanya.


“Ya pokoknya jangan bilang!” ujar Zifa, berusaha untuk membungkam mulut Zaki.


Zaki terarik dengan kelemahan Zifa. Satu alisnya menyungging, membuat Zifa memandangnya dengan heran.


“Ada barang, ada harga.” Zaki menyunggingkan senyumannya ke arah Zifa.


Zifa memandangnya nanar, “Maksudnya?”


“Kamu sudah mahasiswa semester akhir. Aku gak akan kasih tau apa pun, kamu pasti tau maksud yang aku bilang tadi,” ujar Zaki, masih menyunggingkan senyum dan juga alisnya di hadapan Zifa.


Zifa menghela napasnya panjang, karena ia merasa akan sangat menyulitkan baginya, ke depannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2