
Happy reading....
Tangannya langsung gemetar, ketika membaca pesan yang ternyata adalah dari Zaki.
“Aku pindah rumah ke rumah Zain yang lama. Kalau ada waktu, bisa ke sini sebentar? Sekalian mau ada yang aku bicarakan nanti.” Isi pesan singkat yang masih bisa dibaca oleh Fikar, meskipun ia sama sekali tidak menyentuh handphone Zifa.
‘Siapa Zaki? Kenapa dia pindah ke rumah lama Zain? Kenapa juga dia bisa kenal dengan Zifa? Apa yang ingin mereka bicarakan?’ batin Fikar, merasa sangat keheranan dengan apa yang sedang terjadi di antara mereka.
Rasa rindu Fikar mendadak sirna, ketika melihat pesan singkat dari lelaki asing yang sama sekali tidak ia kenal. Ia merasa Zifa sudah bermain di belakangnya, dan juga ada kaitannya dengan Zain.
‘Kenapa ini semua terjadi? Kenapa Zifa main-main di saat saya beneran cinta sama dia?’ batin Fikar, tak habis pikir dengan apa yang Zifa lakukan padanya.
Belum sempat mendalami rasa kecewanya, Zifa pun sudah kembali dengan wajah yang sumringah, membuat Fikar berusaha sebisa mungkin untuk menutupi rasa kecewanya dengan Zifa.
“Maaf, lama ya?” ucap Zifa, Fikar spontan tersenyum melihat kedatangannya.
“Ah, enggak. Belum ada 5 menit kok. Belum lama,” bantah Fikar, yang sikapnya masih biasa saja di hadapan Zifa.
Zifa kembali duduk pada tempatnya, dan memandang dalam ke arah Fikar. “Kamu bisa aja, deh!” ujar Zifa, Fikar masih berusaha untuk tersenyum di hadapan kekasihnya itu.
‘Tidak benar jika saya harus mengambil keputusan secara sepihak. Di sini banyak sekali orang, tidak etis jika saya harus marah-marah dengan Zifa di sini. Saya harus memastikan sendiri, dan harus membuntuti ke mana Zifa pergi. Saya harus memastikan hubungan mereka, dan jangan sampai ada kesalahpahaman di sini,’ batin Fikar, yang memang sangat dewasa mengenai hal apa pun.
Namun, biar bagaimanapun juga, Fikar tetaplah manusia yang memiliki hati dan perasaan. Sedih, kecewa, kaget, memang ia rasakan ketika membaca pesan singkat itu. Namun, ia berusaha menahan semua itu, dan memilih untuk memastikan sendiri apa yang Zifa lakukan.
“Ayo dimakan. Aku baru ingat, ada pertemuan dengan klien malam ini. So, sepertinya kita gak bisa lama-lama ketemu,” ujar Fikar, yang memberikan kelonggaran waktu kepada Zifa.
Zifa memandangnya dengan sendu. “Yah ... kita baru aja ketemu, masa sih kita udah mau pisah aja,” rengeknya, yang masih saja tidak bisa ditepis oleh Fikar.
Fikar memang menyukai segala hal tentang Zifa. Dari mulai sikapnya, parasnya, sampai merajuknya seperti ini pun ia sangat menyukainya. Tak disangka, di saat sedang kecewa seperti ini dengan Zifa, Fikar juga tidak bisa menepis apa yang ia rasakan ketika melihat rengekan Zifa bak bayi yang merengek meminta sebuah permen.
__ADS_1
Fikar tersenyum sembari mengacak pelan rambut Zifa. “Sayang, nanti kita bertemu lagi setelah ini. Besok ‘kan malam minggu, setelah selesai kantor, aku pasti jemput kamu dan juga Kia,” ujar Fikar, membuat Zifa sedikit tersenyum mendengarnya.
“Janji, ya?”
Fikar mengangguk kecil, “Janji.”
Mereka pun saling melemparkan senyuman, lalu segera menyantap makanan yang sudah tersaji sejak tadi.
Di tengah mereka menyantap makanan, Zifa terlihat sedang memeriksa handphone-nya. Ekspresinya biasa saja, tetapi Fikar mengerti apa yang Zifa pikirkan.
‘Dia benar-benar pandai menyembunyikan perasaannya. Namun, untuk hal seperti ini, sepertinya dia kurang lihai,’ batin Fikar, yang berpura-pura tidak mengetahui apa yang Zifa lakukan.
Setelah menyelesaikan aktivitasnya, mereka pun kembali ke mobil Fikar. Ketika hendak masuk ke dalam mobil Fikar, langkah Zifa tertahan karena teringat dengan pesan singkat Zaki.
“Ah ... Kak Fikar, kayaknya aku pulang sendiri aja deh. Nanti takut bikin Kakak telat,” ujar Zifa, membuat Fikar memandangnya dengan dalam.
Zifa tersenyum, “Ya, aku bisa naik taksi online. Daripada nanti Kakak telat?” ujarnya menyanggupi perkataannya.
Karena Fikar yang memang ingin sekali mengikuti Zifa, ia tanpa ragu menyetujui apa yang Zifa katakan. Ia mengangguk kecil, dan memberikan hak sepenuhnya pada Zifa.
Zifa tersenyum, “Ya sudah, Kakak pulang sekarang pun gak apa-apa,” ujarnya.
“Mau sampai kapan kamu panggil aku dengan sebutan Kakak?” tanya Fikar, yang agak tersinggung dengan ucapan Zifa padanya.
“Ini ‘kan di luar, Kak. Aku gak mungkin panggil Kakak dengan sebutan Sayang atau yang lainnya. Bagaimana kalau yang lain ngeliat kita di sini dan dengar nama panggilan kita?” ujar Zifa, Fikar pun menghela napasnya dengan panjang, merasa malas untuk berdebat tentang masalah ini.
“Kakak nunggu kamu sampai dapat taksi online,” ujar Fikar, yang berusaha untuk mengalihkan topik pembahasan mereka.
Zifa menggelengkan kepalanya, “Aku bisa nunggu sendiri di sini, Kak. Kakak jalan aja, daripada telat ketemu klien.”
__ADS_1
“Klien gak lebih penting daripada kamu!” ujar Fikar dengan nada yang sedikit kesal, membuat Zifa mendelik kaget mendengar nada bicara Fikar yang baru kali ini ia ketahui.
Menyadari perubahan temperamen sikapnya di hadapan Zifa, Fikar pun menghela napasnya dengan panjang, berusaha untuk menahan semua perasaan kesalnya di hadapan Zifa.
“Mmm ... maaf saya ....”
“Gak apa-apa kok, Kak. Mungkin itu karena Kakak terlalu khawatir sama aku,” ujar Zifa, mengambil alih pembicaraan ketika Fikar tidak lagi bisa melanjutkan perkataannya.
Fikar tersenyum, “Ya, memang aku sangat khawatir sama kamu. Betapa bucinnya aku ke kamu,” ujarnya, membuat Zifa tertawa kecil melihat sikap Fikar padanya.
Zifa menatap dalam sembari tersenyum ke arah Fikar. “Terima kasih, Kak.”
Melihat reaksi Zifa yang seperti itu, Fikar malah semakin gemas dengannya dan ingin sekali memeluk Zifa dengan erat. Ternyata, untuk kehilangan Zifa, ia masih belum sanggup melakukannya. Ia masih tidak ingin jauh dari orang yang selama ini bersama dengannya.
‘Payah! Gimana mau bilang putus kalau begini? Apa dia beneran ngeduain saya? Saya gak akan bisa melepas dia, karena senyuman dia imut banget,’ batin Fikar, merasa sangat kesal dengan dirinya sendiri.
Wajahnya seketika terasa panas, saking malunya ia di hadapan Zifa. Zifa yang melihat perubahan wajah Fikar yang memerah, hanya bisa tersenyum melihatnya.
“Ya sudah, saya tunggu kamu di sini, sampai kamu dapat taksi online,” ujar Fikar.
Dengan sangat terpaksa, Zifa pun menyetujui apa yang Fikar inginkan, agar Fikar tidak terlalu mencemaskan dirinya.
‘Ya, gak apa-apa sih. Nanti kita juga akan jalan ke jalanan yang berbeda,’ batin Zifa, yang merasa sedikit tenang, dan tidak mempermasalahkan hal ini lagi di hadapan Fikar.
“Ya udah. Maaf sudah bikin Kakak terlambat bertemu klien,” ujar Zifa, yang masih tidak enak hati dengan Fikar.
“Klien tidak lebih penting dari kamu,” ujar Fikar, yang membuat Zifa menunduk saking malunya ia mendengar ucapan Fikar.
BERSAMBUNG....
__ADS_1