Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Kekhawatiran Zaki pada Zifa


__ADS_3

“Walaupun bukan sepenuhnya salah kamu, tapi gimana dengan cita-cita aku dan impian aku, Fikar? Aku sebentar lagi mau lulus kuliah dan bagaimana kalau seandainya aku hamil? Apa yang harus aku lakukan?” tanya Zifa bingung dengan keadaan yang belum pasti adanya.


Melihat Zifa yang saat ini hilang kendali, Fikar pun memandangnya dengan dalam, berusaha untuk menenangkan Zifa dengan kedua tangannya yang menyentuh kedua sisi bahu Zifa.


“Sayang, tenang ... ini semua pasti ada solusinya. Toh nggak mungkin hanya karena one night stand, kamu langsung hamil,” ujar Fikar berusaha untuk menenangkan.


Namun sekuat apa pun Fikar menenangkan Zifa, ia tetaplah tidak bisa tenang. Karena ini semua menyangkut tentang harga dirinya dan juga cita-cita yang belum sempat ia raih.


“Ya, kemungkinan pahitnya kalau aku hamil karena one night stand ini, gimana? Gimana dengan cita-cita aku? Gimana dengan semua impian aku?” tanya Zifa yang masih tidak ingin disalahkan dalam hal ini.


Fikar kembali mengusap kasar wajahnya, karena ia tidak bisa menenangkan Zifa dengan mudah. Kesalahannya ini memang benar-benar sangat fatal dan tidak bisa dimaafkan. Akan tetapi, ia mungkin akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia lakukan terhaap Zifa.


Fikar kembali memandang dalam ke arah Ziva, mencoba untuk mendominasi keadaan dan suasana yang sudah rumit ini. Ia berusaha untuk tenang, sembari menguraikan benang kusut dalam permasalahan ini.


“Tenang, Sayang. Kalau seandainya itu semua terjadi, aku pasti akan tanggung jawab. Aku akan menikahi kamu secepatnya,” ujar Fikar, tetapi Zifa masih saja menangis karena tujuannya meminta pertanggung jawaban Fikar bukanlah untuk hal itu.


Ini semua tak lain karena mimpinya. Ia ingin sekali menyelesaikan perkuliahannya dan berkeliling dunia, dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Itu adalah impiannya sejak kecil, karena ia menyadari sejak kecil ia hanyalah seorang anak, yang serba berkecukupan. Sekarang ia hanya hidup sebatang kara, dan entah bagaimana nasib dirinya, ketika ia sudah tidak bisa lagi mencari pekerjaan untuk mencukupi dirinya.


Zifa termasuk mahasiswa yang cukup pandai, sehingga banyak sekali donatur dari pihak kampus yang ingin memberikan beasiswa kepadanya. Namun, jika sampai nilainya turun hanya karena permasalahan ini, mungkin ia tidak akan bisa melanjutkan kuliahnya dan semua akan hancur begitu saja.


Walaupun tidak ada peningkatan pada nilainya, setidaknya nilai Zifa selama 7 semester ini stabil seperti sebelumnya. Walaupun ada beberapa yang kadang naik, tetapi tidak ada satu pelajaran pun yang turun dari nilai mutu yang sudah ditentukan oleh donator. Sehingga ia bisa melanjutkan menerima beasiswa sampai semester 7 ini, dan juga mendapatkan uang saku setiap bulannya.

__ADS_1


Yah, dari sanalah Zifa hidup. Karena hidup sebatang kara tidaklah mudah untuk dijalani. Beruntung Zifa memiliki keahlian dan kepintaran, sehingga membantunya untuk bertahan hidup, walaupun ia tidak memiliki siapa pun lagi di dunia ini.


Fikar memeluk erat Zifa, untuk melepaskan rasa gundah yang mereka alami saat ini.


Terlepas dari semua itu, sampai saat ini Zifa masih terlihat sangat depresi dengan apa yang terjadi dengan mereka semalam.


Hari ini mungkin adalah hari pertama Zifa tidak masuk kelas. Sebelumnya, Zifa selalu masuk kelas, walaupun Kia tidak berada di sampingnya atau cuti, ia tidak memedulikan apa pun. Yang terpenting adalah dirinya yang bisa mempertahankan nilainya, agar bisa mempertahankan nilai mutu yang ada untuk beasiswanya.


Ini adalah perdana selama 4 tahun ia menjalani perkuliahan, baru saat ini mengambil cuti pertamanya. Selama ini ia selalu mempertahankan tingkat kerajinannya, tetapi ia merasa tidak bisa melakukannya untuk hari ini.


Mungkin karena rasa depresinya, yang baru pertama kali melakukan hal itu bersama dengan Fikar. Ia jadi agak malas bertemu dengan siapa pun, dan memilih untuk bermanja-manja saja di kamar kosannya yang sederhana. Terlebih lagi rasa sakit pada bagian intimnya, membuatnya tidak bisa bergerak terlalu luwes saat ini.


Handphone-nya terus bergetar, tetapi ia sama sekali tidak menghiraukannya. Ia memandang langit-langit kamarnya, bingung harus melakukan apa.


“Perut aku sakit,” gumamnya, sembari mengelus perutnya yang sakit.


Handphone-nya masih saja bergetar panjang. Rasa penasarannya di angka 0, ia sama sekali tidak penasaran dengan siapa orang yang sudah menghubunginya sejak tadi. Ia mengetahui, tentunya orang itu adalah Fikar.


Saat ini Zifa sedang malas menerima panggilan dari Fikar. Ia tidak ingin bersinggungan lebih dulu dengan Fikar, karena ia ingin memberikan jeda antara mereka. Ia merasa sedih dan tremor, ketika teringat dengan kejadian semalam, yang masih terasa gairahnya hingga detik ini.


“Ingin menikahi aku? Huh, jumawa sekali dia,” gumam Zifa, merasa hal itu sama sekali tidak mungkin.

__ADS_1


Karena sudah terjadi hal seperti ini, semakin membuatnya tidak bisa menerima kenyataan. Selama ini ia memang sengaja untuk mengulur waktu di antara mereka. Ia sengaja untuk menolak lamaran Fikar beberapa kali, dan lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan, ketika Fikar sedang membicarakan mengenai pernikahan.


Zifa sadar, wanita sederhana yang tidak memiliki apa pun seperti dirinya, tidak akan pernah sepadan dengan sosok Fikar, yang memiliki segalanya di hidupnya. Tak hanya fisik, materi, pekerjaan yang mapan, ia bahkan memiliki keluarga yang hangat. Tidak seperti Zifa, yang saat ini bingung harus berlabuh kepada siapa.


Namun, semua itu terjawab sudah. Fikar sudah melakukan semua hal ini padanya, membuatnya merasa harus menerima lamaran Fikar secepatnya. Ia tidak bisa lagi menunda-nunda semuanya, karena ia mengkhawatirkan sesuatu, yang mungkin saja akan membuatnya menyesal nantinya.


Karena kejadian ini, ia jadi tidak peduli dengan keadaannya. Ia harus menerima Fikar, bagaimanapun keadaan dirinya nanti.


Zifa tersadar dari lamunannya, ketika ia mendengar getar handphone semakin panjang. Ia segera melihat, dan ternyata itu adalah telepon dari Zaki.


Memang ada beberapa panggilan tak terjawab dari Fikar, tetapi kali ini yang menghubunginya adalah Zaki. Dengan cepat, ia pun segera menerimanya.


“Halo,” sapa Zifa.


“Lo di mana? Gue mau bicara sama lo. Bisa ketemu sekarang?” tanya Zaki.


Zifa terdiam sejenak, “Emm ... gue ada di kosan. Gue gak masuk kampus,” jawabnya.


“Ah? Kenapa? Lo sakit?” tanya Zaki, yang agak khawatir dengan Zifa.


Ya, Zaki memang sangat mengkhawatirkan orang-orang sekitarnya. Bukan hanya pada Kia saja, ia juga mengkhawatirkan Zifa, karena memang ia tahu Zifa yang tinggal sebatang kara. Ia selalu sigap, ketika mungkin saja Zifa nantinya mengalami cedera atau apa pun itu.

__ADS_1


Zifa tersenyum, “Enggak, gue baik-baik aja. Cuma gue males aja ke kampus hari ini,” jawabnya, tentu saja menutupi semua keadaan yang sebenarnya.


__ADS_2