
Happy reading...
Kia pun keluar dari dalam mobil Fikar, kemudian segera menuju ke dalam kampusnya. Fikar tak beranjak dari sana, sampai seseorang masuk ke dalam mobilnya, dan duduk di sebelahnya.
“Dari mana aja kamu? Sama siapa tadi berangkat ke sini?” tanya Fikar datar, seorang gadis cantik yang ada di hadapannya hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan Fikar yang terdengar cemburu.
Terlihat Zifa yang merupakan sahabat Kia, yang ternyata adalah kekasih Fikar. Zifa memandang dengan senyuman, “Aku kasih waktu buat Kia, biar dia berangkat sama kamu,” jawabnya, Fikar menghela napasnya dengan panjang.
Memang, biasanya mereka berangkat bersama-sama ke kampus. Sebelum Fikar pergi bekerja, ia selalu menyempatkan diri untuk menjemput Zifa, dan mengantarkannya ke kampus.
Tentu saja hal itu masih disembunyikan Kia. Mereka sepakat, untuk tidak mengatakannya pada Kia, karena mereka masih belum siap dengan segala kemungkinan yang ada.
“Iya, aku juga sedih. Dia tadi tiba-tiba aja lari ke depan rumah, terus bilang kalau Zain masih ada di sana. Zain masih jemput dia dan masih ada di sisinya,” ujar Fikar, membuat Zifa merasa sangat kasihan dengan Kia.
“Ya, aku juga sedih ngeliat Kia nangis kemarin, pas di pemakaman. Harusnya, ini gak terjadi dengan Kia. Harusnya mereka bisa tetep bahagia, dan gak ada perpisahan yang semenyakitkan ini.” Zifa menghela napasnya dengan panjang.
__ADS_1
“Ya, aku gak kebayang, kalau itu terjadi pada kita,” gumam Fikar, membuat Zifa merengek di hadapannya.
“Jangan ngomong gitu!” rengek Zifa, Fikar seketika tersadar dengan apa yang ia ucapkan.
“Aku juga gak mau begitu, Zi. Jangan sampai hubungan kita jadi seperti hubungan mereka. Aku juga gak akan siap, kalau harus meninggalkan kamu,” tukas Fikar, Zifa hanya mengangguk kecil mendengarnya.
Tangan Zifa memegang lembut tangan Fikar, dan Fikar pun membalasnya. Mereka saling berpegangan tangan, karena mereka tidak bisa membayangkan, jika mereka berada pada posisi Kia dan Zain.
“Sekarang, nikmati waktu yang ada. Kalau kamu sudah siap, aku bisa langsung menikahi kamu.
Jangan ada kata perpisahan, apalagi perpisahan yang menyakitkan seperti itu,” ujar Fikar, Zifa mengangguk kecil mendengarnya.
“Ya. Aku pasti tunggu,” ujar Fikar, “tolong jaga Kia, ya. Aku gak bisa setiap saat jagain dia, kalau dia sedang ada di kampus. Jangan biarin dia melakukan hal yang tidak baik, atau orang lain yang melakukan hal tidak baik padanya,” pesan Fikar.
Zifa mengangguk kecil mendengarnya, “Iya, Sayang.”
__ADS_1
Fikar mengecup kening Zifa, kemudian memandangnya dengan dalam. “Aku berangkat ke kantor dulu. Jaga Kia,” ujarnya, Zifa mengangguk kecil mendengarnya.
“Ya sudah, hati-hati ya. Aku pasti jaga Kia,” ucap Zifa, Fikar mengangguk sembari tersenyum, dan mengacak-acak poni rambut Zifa.
Zifa pun turun dari mobil Fikar, dan segera melambaikan tangannya ke arah Fikar, yang sudah menjauh dari pandangannya.
Ia memandangnya lalu menghela napasnya dengan panjang. Ia merasa sangat sesak, karena Kia yang sudah kehilangan separuh jiwanya.
“Untung saja Kia memiliki kakak seperti Fikar. Dia bisa membuat Kia lupa dengan kesedihannya, cepat atau lambat,” gumam Zifa, yang lalu segera pergi menuju ke arah ruangan kelasnya.
Pandangan sendu memandang ke arah Kia berjalan. Sepanjang jalan, ia hanya melihat mereka memandangnya dengan tatapan yang tidak Kia sukai.
Kia tidak suka dikasihani.
Melihat mereka semua yang melakukan hal itu, Kia hanya bisa diam. Ia sama sekali tidak menjawab sapaan dari mereka, dan tidak berkata apa pun.
__ADS_1
Namun, mereka sangat mengerti, apa yang Kia rasakan kini, mungkin sangat mengguncang hati dan perasaan Kia.
BERSAMBUNG.....