
Happy reading...
Sementara itu di sana, ternyata orang yang Kia lihat adalah Zaki. Ia memang baru saja sampai di apartemennya, karena ia membeli beberapa keperluan untuk memasak.
Setelah menutup pintu ruangan apartemennya, ia pun segera meletakkan barang belanjaannya yang tidak terlalu banyak. Ia membuka satu per satu belajaannya, dari kantung yang ia jinjing.
Setelah mengeluarkan barang tersebut, ia menata rapi pada tempatnya, karena Zaki sangat rapi dan tertib. Ia tidak suka ada barang yang tercecer dari tempatnya. Ia pun bersiap untuk mengambil peralatan masaknya, karena ia sudah sangat terlambat untuk makan malam hari ini.
“Aku terlambat sekali makan malam. Semoga saja ini tidak buat aku jadi gemuk,” gumam Zaki, yang lalu segera mengambil sebuah panci untuk ia isikan air ke dalamnya.
Ia memasak menu yang cukup sederhana. Hanya merebus telur, dan juga memanggang kentang. Ia menyalakan kompornya, mencuci kentangnya, kemudian segera memanaskan oven untuk memanggang kentang itu.
Tak harus menunggu airnya mendidih, Zaki sudah memasukkan beberapa telur ayam ke dalam air tersebut. Sembari menunggu telur matang, Zaki juga membumbui kentang itu dengan sedikit garam, lalu ia masukkan ke dalam oven.
Lanjut untuk membuat minumannya. Zaki memilih untuk meminum cokelat hangat. Ia mengambil sebuah cangkir, dan menuangkan dua sachet bubuk berperisa cokelat. Ia pun menambahkan sedikit cokelat batang, kemudian menuangkan air panas dari dispenser yang berada tak jauh dari sekitarnya.
Harum aroma cokelat panas tersebut, sangat terasa ketika baru menuangkan air panas ke dalam cangkir tersebut. Zaki sudah tidak sabar, ingin menyantap makanannya.
Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, Zaki pun segera menyiapkan makanannya. Ia menyantap dengan nikmat, apalagi ia memang sudah sangat kelaparan sejak tadi.
__ADS_1
“Uh ... ini makanan paling simple, tapi paling nikmat,” gumam Zaki, yang baru saja menelan makanan yang baru ia kunyah.
Zaki merasa sedikit gemas, karena ia sampai harus terlambat makan malam, hanya karena membalas chat dari Zifa mengenai Kia dan Zain.
“Kalau bukan karena Zifa, gak akan aku telat makan begini,” gerutu Zaki, yang lalu segera menelan kembali makanan yang baru saja ia masukkan.
“Permisi,” sapa seseorang yang tak lain adalah Zain.
Zaki menelan sisa makanan yang baru saja ia kunyah. Ia memandang ke arah Zain, yang ternyata sudah ada di hadapannya.
“Ada apa?” tanya Zaki dengan ketus, membuat Zain tersenyum mendengarnya.
“Kamu muncul tiba-tiba, lalu ngatain saya begitu, kamu gak punya kerjaan, ya?” tanya Zaki dengan sinis.
Zain menggelengkan kepalanya, “Memang tidak punya. Arwah penasaran bisa apa?” jawabnya, sontak membuat Zaki tertegun mendengarnya.
Karena terlalu lambat makan malam, ia lupa dengan Zain yang kini sudah menjadi arwah.
“Sial, saya lupa ....”
__ADS_1
Zain tertawa kecil mendengarnya. “Wajar saja, kamu lupa karena kamu sedang nikmat menyantap makanan kamu,” ujarnya.
“Itu kamu tahu,” bidik Zaki, Zain lagi-lagi hanya bisa tersenyum mendengarnya.
“Oh ya, Kia sedang ada di ruangan apartemen saya sekarang,” ucap Zain, sontak membuat Zaki mendelik kaget mendengarnya.
“Apa! Sejak kapan?” tanya Zaki.
“Sejak kamu masuk ke dalam ruangan ini, dia juga sudah ditarik masuk ruangan saya,” jawab Zain.
Zaki masih tidak mengerti. “Maksudnya?”
“Dia datang ke sini bareng sama Fikar,” ujar Zain menjelaskan, barulah Zaki mengerti dengan apa yang Zain maksudkan.
“Oh, bilang dari tadi, dong!” ujar Zaki, sembari melahap kembali makanan yang ada.
“Melihat dari sikap Kia tadi, kemungkinan besar Kia mencurigai kamu yang sudah membunuh saya,” ujar Zain, Zaki mendelik kembali ketika mendengarnya.
“Apa yang kamu maksud? Saya? Membunuh kamu?” tanya Zaki dengan nada tinggi, yang tak percaya dengan apa yang Zain katakan.
__ADS_1
BERSAMBUNG....